“Sultan Baabullah dan Perlawanan Ternate terhadap Portugis Abad ke-16”
Pada abad ke-16 merupakan periode penting dalam sejarah Nusantara, terutama di kawasan Maluku yang dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia.
Pada abad ke-16 merupakan periode penting dalam sejarah Nusantara, terutama di kawasan Maluku yang dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia.
Abad ke-16 menandai era ekspansi besar Eropa ke Nusantara, khususnya Kepulauan Maluku sebagai pusat perdagangan rempah dunia
Maluku dikenal sebagai daerah penghasil cengkih terbesar di dunia sejak abad ke-16. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, wilayah Nusantara telah terbentuk jaringan perdagangan rempah-rempah yang melibatkan pedagang-pedagang Melayu, Jawa, Makassar, bahkan pedagang Arab dan Cina.
Batavia yang didirikan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1619 berkembang menjadi pusat perdagangan penting di Asia.
Sejarah Batavia abad ke-16 dan 17 tidak hanya tentang kolonialisme Belanda (VOC) dan penderitaan rakyat pribumi di Hindia Belanda, tetapi juga tentang kaum asing minoritas yang terpinggirkan secara sosial-politis dan dihantui tekanan bangsa lain.
Dari sisi kemajuan teknologi, pasal-pasal medis dalam Kode Hammurabi menggambarkan bahwa masyarakat Babilonia telah mengenal teknologi primitif seperti pisau perunggu atau pisau bedah (Bronze Lancet) tanpa anestesi.
Bangsa Indonesia atau Nusantara adalah negara yang terdiri dari banyak pulau dan sangat kaya akan rempah-rempah, sehingga tidak mengejutkan jika selama itu Nusantara terlibat dalam perdagangan internasional.
Seorang perempuan apalagi mereka yang menyandang status janda kerap kali terpinggirkan karena seringkali dilekatkan dengan kelemahan dan ketergantungan.
Ketika VOC berhasil menguasai Kepulauan Banda pada tahun 1621, mereka mulai fokus untuk menguasai perdagangan cengkih di Kepulauan Maluku.
Sejak pertama kali didirikan oleh VOC pada tahun 1619, Batavia tumbuh menjadi pusat administrasi kolonial Belanda yang sangat kompleks di Asia Tenggara.