Artikel/Opini

Artikel Terkini

“Ketahanan Pangan atau Ketahanan Ilusi? Menguji Argumentasi Pemimpin Negara Untuk Keberlangsungan Bangsa” Oleh Firza Azzam Fadilla

Pernyataan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sebuah forum dialog publik “Presiden Prabowo Menjawab: Bagian 1”, yang tanyang baru-baru ini kembali menegaskan satu gagasan klasik bahwa “pangan adalah fondasi utama peradaban, dan karenanya negara harus menjadikannya prioritas mutlak dalam menjaga kemerdekaan bangsa secara berkelanjutan.”

“Relevansi Nilai Nilai Pancasila Negara di Tengah Arus Globalisasi”

Di era digital yang terus berkembang, teknologi telah menjadi kekuatan utama bagi Masyarakat dalam mendapatkan informasi, sehingga dapat membentuk cara kita dalam berinteraksi, bekerja, dan berkomunikasi. Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan

“Tiga Fakto Kejatuhan Demak”

Sebagai pelopor kesultanan Islam di tanah Jawa, Demak pernah menikmati masa keemasan sebagai pusat politik, agama, dan ekonomi maritim pada abad ke-16. Berdiri di atas puing-puing otoritas Majapahit, Demak berhasil menyatukan kota-kota pelabuhan di pesisir utara.

“Fondrako Sebagai Tradisi Lisan Nias”

Masyarakat Nias merupakan salah satu komunitas di Nusantara yang dalam waktu yang sangat panjang membangun kehidupan sosialnya tanpa bergantung pada sistem tulisan.

“Degradasi Kelas Sosial Belanda di Batavia Abad ke-17”

Batavia adalah sebuah kota yang lahir pada tahun 1619, dalam peristiwa yang terbilang dalam hitungan bulan, dan memiliki pelabuhan kecil bernama Jayakarta berubah menjadi benteng kekuasaan Eropa yang paling kuat di Asia Tenggara.

“Sultan Baabullah dan Perlawanan Ternate terhadap Portugis Abad ke-16”

Pada abad ke-16 merupakan periode penting dalam sejarah Nusantara, terutama di kawasan Maluku yang dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia. Kedatangan bangsa Eropa, khususnya Portugis, membawa perubahan besar dalam dinamika politik dan ekonomi lokal. Di tengah situasi tersebut, muncul seorang tokoh penting dari Kesultanan Ternate,

“Eksistensi Ludruk di Era Modern”

Ludruk Adalah suatu kesenian drama tradisional dari jawa timur. Ludruk merupakan seni teater tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian dan di tampilkan pada sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari hari,cerita perjuangan , dan sebagiannya di selingi dengan lawakan dan diiringi dengan

“Ketika Persatuan Hanya Slogan”

Eksklusivisme dan Egoisme sektoral di Indonesia bukan terjadi begitu saja melainkan sebuah Sejarah yang lahir dengan ketidak sengajaan, tetapi sudah tumbuh begitu subur karena secara sadar dipelihara oleh mereka untuk instrument meraup suara dan mempertahankan kekuasaan. I

“Eksistensi Tradisi Lerok dalam Perspektif Pancasila”

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman budaya yang sangat kaya, salah satunya dapat ditemukan di kota Surabaya sebagai kota multietnis yang melahirkan berbagai tradisi unik, termasuk tradisi pernikahan Manten Pegon yang merupakan perpaduan budaya Arab, Tionghoa, Belanda, dan Jawa.

“Pancasila dan Kesenian Tari: Menjaga Nilai Kebangsaan di Tengah Tantangan Zaman”

Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia yang berisi nilai-nilai fundamental bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai tersebut mencakup ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial yang menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat Indonesia (Kaelan, 2016).

“Hak Oktroi VOC”

Kolonialisme Belanda di Nusantara bermula dari keberhasilan ekspedisi pertama yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1596, yang berhasil mendarat di pelabuhan Banten (Sabrina et al., 2023).

“Strategi Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC”

Strategi perlawanan adalah rencana terstruktur yang dirancang untuk melawan kekuatan penjajah atau musuh, yang meliputi aspek militer, diplomatic,ekonomi dan lain sebagainya guna untuk mencapai kemenangan atau minimal bertahan.

“Pustakawan sebagai Navigator Pancasila”

Menghadapi wicked problems disinformasi digital, peran pustakawan melalui program literasi informasi menghadirkan nilai Pancasila untuk memperkuat integrasi nasional.

“Kertanegara & Legitimasi Politiknya”

Legitimasi politik adalah pengakuan yang diberikan rakyat kepada pemimpinnya agar ia memiliki hak sah untuk memerintah. Dalam sejarah kerajaan di Jawa, pemimpin sering menggunakan cerita kesaktian atau garis keturunan dewa untuk mendapatkan kepercayaan ini, seperti Ken Arok yang mengaku sebagai putra Dewa Brahma saat mendirikan

“Perundungan sebagai Krisis Moralitas Bangsa”

Perundungan bukan sekadar pertengkaran biasa antar-siswa. Secara sederhana, perundungan adalah tindakan menyakiti orang lain secara sengaja dan dilakukan berulang kali baik secara fisik, verbal, maupun dengan cara mengucilkan seseorang dari pergaulan.

“Terusirnya Portugis dari Maluku Abad ke-16”

Kedatangan Bangsa Portugis bukan hanya sekadar menginginkan rempah-rempah yang dihasilkan Bumi Nusantara terutama di wilayah Maluku, namun nusantara memiliki beberapa faktor lain yang membuat Bangsa Portugis tertarik ke nusantara.

“Aceh Sebagai Serambi Mekkah Abad ke-16”

Sejak berkembangnya Islam di Nusantara, dan di antara berbagai wilayah, Aceh menempati posisi paling awal dan paling penting dalam sejarah perhajian di Asia Tenggara, letak geografisnya yang berada di ujung barat Pulau Sumatera serta hubungan politik-keagamaan dengan Timur Tengah dan Melayu menjadikan Aceh sebagai pintu

“Kuasa Militer Ratu Kalinyamat”

Kuasa militer bukan hanya sekedar tentang memiliki senjata atau sekedar memiliki pasukan, melainkan sebuah gambaran dari kemampuan seorang pemimpin untuk menciptakan kedaulatan, mempertahankan kedaulatan, dan mempengaruhi politik
dengan strategi kemiliteran.

“Jejak Separatisme di Indonesia”

Separatisme merupakan fenomena politik yang terjadi ketika sekelompok masyarakat dalam suatu wilayah berusaha memisahkan diri dari negara yang menaunginya untuk membentuk negara yang berdiri sendiri.

“Strategi Legitimasi Kekuasaan Mpu Sindok di Jawa Timur”

Legitimasi adalah pengakuan dan penerimaan terhadap kekuasaan atau otoritas yang dimiliki oleh seseorang maupun kelompok, yang dianggap sah serta layak dihormati sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku dalam masyarakat (Pratiwi dkk, 2024).

“Teks dan Konteks Prasasti Pucangan”

Bayangkan seorang raja yang baru saja selamat dari kehancuran total kerajaannya—kota-kota yang hangus, bangsawan yang terbantai, dan legitimasinya yang dipertanyakan. Itulah kondisi Airlangga sekitar tahun 1016 M, ketika serangan musuh memorakporandakan Kerajaan Medang.

“Strategi Islamisasi di Balik Arsitektur Masjid Demak”

Masjid Agung Demak bukanlah hanya sekedar masjid biasa, tetapi masjid ini menyimpan banyak makna dan cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar tempat ibadah dan juga menjadi saksi bisu sebuah transformasi besar.

“Awal Mula Bahasa Melayu Kuno di Jawa”

Bahasa Melayu Kuno selama ini lebih sering dikaitkan dengan pusat kekuasaan Sriwijaya di Sumatra. Namun, temuan beberapa prasasti di Pulau Jawa menunjukkan bahwa bahasa tersebut juga digunakan di luar wilayah asalnya.

“Legitimasi Kekuasaan Pada Masa Mataram Kuno”

Legitimasi adalah pengakuan dan penerimaan terhadap kewenangan yang dimiliki oleh individu atau kelompok, sehingga dianggap sah, wajar, dan layak untuk dihormati sesuai dengan norma atau aturan di masyarakat (Budiardjo, 2008; Ramadhana, 2016, dalam Pratiwi, dkk., 2024).

“Taman Sriksetra: Representasi Harapan Kesejahteraan Sriwijaya abad ke-7 M”

Taman umumnya dipahami sebagai tempat yang diasosiasikan dengan aktivitas rekreasi dan kebahagiaan. Taman memiliki berbagai fungsi, seperti fungsi sosial, ekonomi, ekologis, maupun edukatif. Menurut Laurie (1994 dalam Hariyono 2010), secara etimologis, istilah taman atau garden merujuk pada sebidang lahan yang memiliki batas dan dirancang untuk

“Dari Budak ke Komunitas: Keroncong Sebagai Warisan Budaya”

Keroncong merupakan salah satu bentuk kebudayaan fisik yang lahir dari komunitas Mardijker, yaitu kelompok masyarakat keturunan budak yang dibebaskan di Batavia pada masa kolonial. Musik ini menjadi simbol percampuran budaya, karena memadukan unsur Portugis, lokal Nusantara, dan pengaruh Barat, sehingga mencerminkan identitas sosial serta ekspresi

“Dari Perdagangan Rempah ke Awal Dominasi Politik: Transformasi Kolonialisme Belanda di Batavia Abad ke 16–17”

Pendahuluan Pada awal abad ke-16, wilayah yang kelak dikenal sebagai Batavia belum merupakan pusat kekuasaan kolonial, melainkan sebuah pelabuhan penting dalam jaringan perdagangan Asia. Sunda Kelapa, yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda, berfungsi sebagai simpul perdagangan internasional yang menghubungkan pedagang lokal dengan saudagar dari

“Tiga Fakto Kejatuhan Demak”

Sebagai pelopor kesultanan Islam di tanah Jawa, Demak pernah menikmati masa keemasan sebagai pusat politik, agama, dan ekonomi maritim pada abad ke-16. Berdiri di atas puing-puing otoritas Majapahit, Demak berhasil

“Fondrako Sebagai Tradisi Lisan Nias”

Masyarakat Nias merupakan salah satu komunitas di Nusantara yang dalam waktu yang sangat panjang membangun kehidupan sosialnya tanpa bergantung pada sistem tulisan.

“Degradasi Kelas Sosial Belanda di Batavia Abad ke-17”

Batavia adalah sebuah kota yang lahir pada tahun 1619, dalam peristiwa yang terbilang dalam hitungan bulan, dan memiliki pelabuhan kecil bernama Jayakarta berubah menjadi benteng kekuasaan Eropa yang paling kuat

“Eksistensi Ludruk di Era Modern”

Ludruk Adalah suatu kesenian drama tradisional dari jawa timur. Ludruk merupakan seni teater tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian dan di tampilkan pada sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang

“Ketika Persatuan Hanya Slogan”

Eksklusivisme dan Egoisme sektoral di Indonesia bukan terjadi begitu saja melainkan sebuah Sejarah yang lahir dengan ketidak sengajaan, tetapi sudah tumbuh begitu subur karena secara sadar dipelihara oleh mereka untuk

“Eksistensi Tradisi Lerok dalam Perspektif Pancasila”

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman budaya yang sangat kaya, salah satunya dapat ditemukan di kota Surabaya sebagai kota multietnis yang melahirkan berbagai tradisi unik, termasuk tradisi pernikahan Manten Pegon

“Hak Oktroi VOC”

Kolonialisme Belanda di Nusantara bermula dari keberhasilan ekspedisi pertama yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1596, yang berhasil mendarat di pelabuhan Banten (Sabrina et al., 2023).

“Strategi Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC”

Strategi perlawanan adalah rencana terstruktur yang dirancang untuk melawan kekuatan penjajah atau musuh, yang meliputi aspek militer, diplomatic,ekonomi dan lain sebagainya guna untuk mencapai kemenangan atau minimal bertahan.

“Pustakawan sebagai Navigator Pancasila”

Menghadapi wicked problems disinformasi digital, peran pustakawan melalui program literasi informasi menghadirkan nilai Pancasila untuk memperkuat integrasi nasional.

“Kertanegara & Legitimasi Politiknya”

Legitimasi politik adalah pengakuan yang diberikan rakyat kepada pemimpinnya agar ia memiliki hak sah untuk memerintah. Dalam sejarah kerajaan di Jawa, pemimpin sering menggunakan cerita kesaktian atau garis keturunan dewa

“Perundungan sebagai Krisis Moralitas Bangsa”

Perundungan bukan sekadar pertengkaran biasa antar-siswa. Secara sederhana, perundungan adalah tindakan menyakiti orang lain secara sengaja dan dilakukan berulang kali baik secara fisik, verbal, maupun dengan cara mengucilkan seseorang dari

“Terusirnya Portugis dari Maluku Abad ke-16”

Kedatangan Bangsa Portugis bukan hanya sekadar menginginkan rempah-rempah yang dihasilkan Bumi Nusantara terutama di wilayah Maluku, namun nusantara memiliki beberapa faktor lain yang membuat Bangsa Portugis tertarik ke nusantara.

“Aceh Sebagai Serambi Mekkah Abad ke-16”

Sejak berkembangnya Islam di Nusantara, dan di antara berbagai wilayah, Aceh menempati posisi paling awal dan paling penting dalam sejarah perhajian di Asia Tenggara, letak geografisnya yang berada di ujung

“Kuasa Militer Ratu Kalinyamat”

Kuasa militer bukan hanya sekedar tentang memiliki senjata atau sekedar memiliki pasukan, melainkan sebuah gambaran dari kemampuan seorang pemimpin untuk menciptakan kedaulatan, mempertahankan kedaulatan, dan mempengaruhi politik
dengan strategi

“Jejak Separatisme di Indonesia”

Separatisme merupakan fenomena politik yang terjadi ketika sekelompok masyarakat dalam suatu wilayah berusaha memisahkan diri dari negara yang menaunginya untuk membentuk negara yang berdiri sendiri.

“Strategi Legitimasi Kekuasaan Mpu Sindok di Jawa Timur”

Legitimasi adalah pengakuan dan penerimaan terhadap kekuasaan atau otoritas yang dimiliki oleh seseorang maupun kelompok, yang dianggap sah serta layak dihormati sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku dalam masyarakat

“Teks dan Konteks Prasasti Pucangan”

Bayangkan seorang raja yang baru saja selamat dari kehancuran total kerajaannya—kota-kota yang hangus, bangsawan yang terbantai, dan legitimasinya yang dipertanyakan. Itulah kondisi Airlangga sekitar tahun 1016 M, ketika serangan musuh

“Awal Mula Bahasa Melayu Kuno di Jawa”

Bahasa Melayu Kuno selama ini lebih sering dikaitkan dengan pusat kekuasaan Sriwijaya di Sumatra. Namun, temuan beberapa prasasti di Pulau Jawa menunjukkan bahwa bahasa tersebut juga digunakan di luar wilayah

“Legitimasi Kekuasaan Pada Masa Mataram Kuno”

Legitimasi adalah pengakuan dan penerimaan terhadap kewenangan yang dimiliki oleh individu atau kelompok, sehingga dianggap sah, wajar, dan layak untuk dihormati sesuai dengan norma atau aturan di masyarakat (Budiardjo, 2008;

Scroll to Top