“Prasasti Batutulis sebagai Instrumen Legitimasi dan Pembentuk Loyalitas Rakyat Kerajaan Sunda”

Prasasti adalah tulisan kuno yang dipahat pada media yang bersifat keras seperti batu dan logam yang berisi mengenai puji-pujian kepada raja yang kedudukannya disamakan dengan dewa, silsilah raja, dan jasa-jasa raja (Trigangga, dkk., 2015). Terdapat salah satu prasasti di daerah Bogor Jawa Barat yang di dalamnya berisi mengenai silsilah seorang raja beserta jasa-jasa yang telah dilakukan selama memerintah, yaitu Prasasti Batutulis. Prasasti ini menggunakan bahasa Sunda Kuno dan berhuruf Jawa Kuno dengan bentuk ukiran persegi dan pahatannya miring ke arah kanan (Agustin Fania., 2022). Isi dari Prasasti Batutulis menjelaskan mengenai jasa-jasa Sri Baduga Maharaja dalam bidang pembangunan Ibu Kota Pakuan-Padjajaran (Djafar Hasan., 2011). Jasa-jasa tersebut yaitu seperti pembangunan parit di sekeliling Pakuan-Padjajaran yang terbentang hingga sejauh empat kilometer dan berfungsi layaknya benteng perlindungan. Selain itu, Sri Baduga juga membuat gugunungan (Bukit Badigul) yang terletak di Rancamaya, sekitar tujuh kilometer di sebelah Tenggara Kota Bogor sekarang. Sri Baduga juga melakukan pengerasan jalan menuju Paseban menggunakan batu, tujuan pembangunannya untuk mempermudah mobilisasi menuju paseban dan wilayah lainnya. Sri Baduga juga membuat Samida atau hutan buatan yang ditanami oleh pohon cemara, dengan kayu berteipetin yang digunakan untuk upacara pembakaran mayat. Pembangunan yang terakhir adalah Telaga Rena Mahawijaya yang berfungsi untuk mencegah banjir sekaligus sebagai irigasi, sehingga sistem pertanian menjadi makmur dan mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh kerajaan (Basor Saepul., dkk., 2025). Selain itu, prasasti juga memiliki beragam fungsi, seperti mencatat peristiwa penting, kemenangan perang, pengangkatan raja, menunjukkan otoritas raja, dan sebagai alat legitimasi kekuasaan raja (Trigangga, dkk., 2015). Dalam konteks tersebut, maka fungsi dari Prasasti Batutulis tidak hanya sebagai instrumen legitimasi Sri Baduga Maharaja dan keturunannya, melainkan juga sebagai instrumen politik yang secara sadar dibangun untuk memperkuat loyalitas rakyat serta menjaga stabilitas kekuasaan Kerajaan Sunda.

Dengan demikian, jasa-jasa yang tercatat dalam Prasasti Batutulis bukan hanya menunjukkan aktivitas pembangunan fisik, tetapi juga menegaskan bahwa puncak kejayaan Kerajaan Sunda berada pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja. Prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Surawisesa untuk memperingati wafatnya Sri Baduga Maharaja (Widyastuti . E & Nanang. S., 2022). Hal ini menunjukkan bahwa pencatatan jasa memiliki fungsi yang kompleks daripada sekedar dokumentasi peristiwa. Dalam konteks politik, penggambaran kejayaan masa lalu melalui figur Sri Baduga Maharaja menjadi instrumen untuk memperkuat legitimasi dinasti yang berkuasa. Dengan menempatkan Raja Surawisesa sebagai keturunan langsung dari raja yang termasyhur, Prasasti Batutulis berfungsi sebagai instrumen pembenaran simbolik atas haknya untuk melanjutkan pemerintahan. Legitimasi yang dibangun bukan hanya pada garis keturunan, melainkan juga pada warisan kejayaan yang diwariskan secara ideologis kepada keturunannya.

Selain sebagai instrumen legitimasi raja dan keturunannya, Prasasti Batutulis juga berfungsi sebagai sarana pembentuk loyalitas rakyat Kerajaan Sunda. Jasa-jasa Sri Baduga Maharaja yang disebutkan dalam Prasasti Batutulis, seperti membangun parit, memadatkan jalan, membangun gugunungan, samida, dan telaga, telah membentuk citra raja sebagai pemimpin yang termasyhur dan berhasil membawa Kerajaan Sunda menuju puncak kejayaannya. Narasi yang mengandung kejayaan tersebut, tidak hanya menghadirkan kebanggaan tentang kejayaan masa lalu, tetapi juga menumbuhkan rasa keterikatan emosional rakyat terhadap dinasti yang sedang memimpin. Dengan merawat ingatan rakyat terkait kejayaan masa lalu, prasasti ini secara tidak langsung membangun rasa penerimaan dan kesetiaan rakyat terhadap generasi penerus Sri Baduga Maharaja, yaitu Raja Surawisesa. Loyalitas yang dibangun bersifat simbolik dan ideologis karena rakyat diajak untuk melihat keberlanjutan kekuasaan sebagai kesinambungan dari kejayaan yang pernah dirasakan di masa lalu.

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Prasasti Batutulis bukan sekedar catatan sejarah mengenai jasa-jasa Sri Baduga Maharaja, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen politik yang memiliki peran ganda, yaitu sebagai instrumen legitimasi dan instrumen untuk membangun loyalitas rakyat Kerajaan Sunda. Melalui penegasan silsilah dan penggambaran kejayaan masa lalu, prasasti tersebut secara tidak langsung memberikan pembenaran bagi Raja Surawisesa sebagai penerus yang sah, sekaligus menumbuhkan kebanggaan dan keterikatan emosional terhadap kesinambungan kekuasaan. Dengan demikian, Prasasti Batutulis berperan sebagai instrumen pembentukan loyalitas rakyat yang menjaga stabilitas politik melalui narasi kejayaan masa lalu. Dalam konteks kehidupan masa kini, praktik semacam ini banyak dijumpai. Kekuasaan modern saat ini kerap membangun legitimasi dan dukungan publik melalui penguatan narasi sejarah dan pencapaian dalam bidang pembangunan. Hal ini telah menunjukkan bahwa narasi sejarah tidak akan pernah bersifat netral. Narasi sejarah dapat menjadi sarana yang strategis dalam membentuk identitas, kepercayaan, dan kesetiaan masyarakat terhadap pemimpin.

Daftar Rujukan:
Agustin Fania., (2022). Panca Pandawa Nge(m)ban Bumi, Candrasengkala Prasasti Batutulis. Keluarga Mahasiswa Arkeologi Universitas Indonesia. https://kamafib.wixsite.com/home/post/panca-pandawa-ng-m-ban-bumi-candrasengkala-prasasti-batu-tulis.

Basor Saepul., (2025). Kejuangan Prabu Siliwangi Bertapa dan Menyucikan Diri di Mata Air Citarum dalam Memahami Islam; Kajian Folklor. Metahumaniora. 15. 1.

Djafar Hasan., (2011). Prasasti Batutulis Bogor. AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi. 29. 1.

Trigangga, dkk., (2022). Prasasti & Raja-Raja Nusantara. Museum Nasional Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Widyastuti. E & Nanang. S., (2022). Gambaran Religi Masyarakat Pakwan Pajajaran Berdasarkan Tinggalan Arkeologis. Jurnal Panalungtik. 5. 2. 104-121

Oleh: Adinda Violin Senjabena (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top