
Manila, 16 Juni 2026 — Pameran Batik Indonesia bertajuk From Java to Manila: Batik Terang Bulan as Living Heritage kembali berlanjut pada Selasa, 16 Juni 2026, di Learning Commons Exhibition Area, Lantai 6 Henry Sy Sr. Hall, De La Salle University, Manila. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Soendari Batik and Art dengan dukungan pendanaan dari Dana Indonesiana Tahun 2025 pada skema Pendayagunaan Ruang Publik. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam membawa Batik Terang Bulan ke ruang publik internasional, sehingga masyarakat Manila dapat mengenal batik sebagai warisan hidup yang menyimpan keindahan, pengetahuan, sejarah, dan pesan persahabatan lintas bangsa.
Hari kedua pameran menghadirkan dua rangkaian utama, yakni kuliah budaya dan pemutaran dokumenter pada pagi hari, dilanjutkan dengan kuliah khusus, pertunjukan angklung, demonstrasi membatik, dan peragaan busana batik. Rangkaian pertama berlangsung pukul 07.30–09.00 waktu Manila dan dibuka oleh Dr. Fernando A. Santiago, Jr., Director of Southeast Asia Research Center and Hub, De La Salle University.
Kuliah tamu pertama disampaikan oleh Dr. Daya Negri Wijaya, M.A., Kepala Pusat Ekonomi Humaniora dan Pariwisata (PEHP), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang, dengan tajuk Learning from Tantri Reliefs. Dalam paparannya, Dr. Daya menjelaskan bahwa relief Tantri pada candi-candi Jawa Timur bukan sekadar hiasan batu, melainkan media pembelajaran moral masyarakat masa lalu. Dengan mengambil contoh Candi Jago di Malang, ia menunjukkan bahwa kisah-kisah binatang dalam relief Tantri merepresentasikan sikap manusia dalam menghadapi kehidupan. Cerita seperti singa dan banteng, bangau, ikan dan kepiting, serta angsa dan kura-kura mengajarkan pentingnya kehati-hatian, kebijaksanaan, kemampuan mendengar nasihat, dan sikap toleran terhadap orang lain.
Materi kedua disampaikan oleh Andhika Yudha Pratama dari Universitas Negeri Malang dengan tajuk Tantri Fabels, Character Building and Creative Industry. Andhika menekankan bahwa kisah-kisah fabel Tantri memiliki daya hidup yang panjang karena nilai moralnya tetap relevan hingga masa kini. Dengan mengangkat relief Tantri di Candi Penataran, ia menjelaskan bahwa cerita seperti sapi dan buaya, pemburu, harimau dan kera, serta tokoh-tokoh Nandaka dan Sembada dapat menjadi sumber pendidikan karakter. Nilai kecerdikan, empati, kewaspadaan, pengendalian diri, dan kemampuan beradaptasi tidak hanya berguna dalam pembelajaran sejarah dan budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi inspirasi industri kreatif, seperti karya seni, motif kain, desain visual, dan produk budaya kontemporer.
Setelah forum diskusi terbuka, peserta menyaksikan dokumenter Terang Bulan Batik: Harmony of the World. Film ini memperlihatkan Batik Terang Bulan sebagai bahasa visual yang memancarkan identitas, keindahan, dan semangat persaudaraan antarbangsa.
Rangkaian kedua berlangsung dengan agenda Lecture and Batik-Making Demonstration. Sesi ini dibuka oleh Dr. Daya Negri Wijaya kemudian dilanjutkan dengan kuliah FX Domini BB Hera dari Universitas Ciputra bertema Some Private Aspects Between Proclaimer of Indonesian Independence and Terang Bulan Batik. Paparan ini memperkaya pemahaman peserta tentang sisi personal di balik lahirnya Batik Terang Bulan. FX Domini BB Hera menjelaskan bahwa batik tidak dapat dipahami hanya sebagai kain bermotif, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan antara gagasan kebangsaan, selera estetik, dan imajinasi budaya para tokoh pendiri bangsa. Terang Bulan diposisikan sebagai bagian dari upaya membangun identitas Indonesia yang modern, anggun, dan berakar pada tradisi. Melalui hubungan antara tokoh proklamator, seniman batik, dan lingkungan budaya istana, batik hadir sebagai medium yang dekat dengan kehidupan pribadi sekaligus kuat dalam pesan kebangsaan.
Suasana pameran semakin meriah ketika Perhimpunan Pelajar Indonesia di Filipina (PPIF) menampilkan pertunjukan angklung di tengah area pameran. Alunan bunyi angklung yang hangat dan khas menghadirkan nuansa Indonesia yang akrab bagi para pengunjung De La Salle University. Pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa kebudayaan Indonesia tidak hanya hadir melalui batik sebagai kain, tetapi juga melalui musik, gerak, kebersamaan, dan partisipasi generasi muda Indonesia di luar negeri. Kehadiran PPIF dalam kegiatan ini turut memperkuat semangat diplomasi budaya, karena para pelajar Indonesia ikut menjadi jembatan yang memperkenalkan kekayaan seni Nusantara kepada publik Filipina.
Setelah pertunjukan angklung, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi membatik yang dipandu langsung oleh Satrya Paramanandana, M.Sos., Direktur Soendari Batik & Art. Dalam sesi ini, peserta tidak hanya melihat hasil akhir berupa kain Batik Terang Bulan yang telah indah terhampar, tetapi juga diajak memahami proses panjang di balik lahirnya selembar batik tulis. Satrya memperkenalkan peralatan dasar membatik, seperti canting, malam atau lilin panas, kain, serta pola yang menjadi dasar penciptaan motif. Ia juga menjelaskan bahwa membatik membutuhkan ketelitian, kesabaran, kepekaan rasa, dan penghormatan terhadap tradisi.
Puncak demonstrasi terjadi ketika peserta menyaksikan langsung proses mencanting, yaitu tahap menorehkan malam panas pada permukaan kain menggunakan canting. Proses ini menjadi inti dari pembuatan batik tulis karena garis-garis malam akan membentuk pola, menjaga bagian tertentu dari kain agar tidak terkena warna, sekaligus menentukan karakter visual batik yang dihasilkan. Melalui demonstrasi ini, pengunjung dapat memahami bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan karya budaya yang lahir dari keterampilan tangan, pengetahuan turun-temurun, dan kedalaman filosofi. Sesi ini membuat pameran terasa lebih dekat dan hidup, karena pengunjung dapat melihat bagaimana warisan budaya Indonesia dikerjakan secara langsung di hadapan mereka.
Selain mengikuti agenda utama, pengunjung juga menikmati berbagai koleksi pameran yang telah disiapkan Soendari Batik and Art. Area pameran menampilkan stan Kedutaan Besar Republik Indonesia, udeng, selendang, slayer bermotif Terang Bulan, infografik sejarah Batik Indonesia, buku-buku budaya, kain Batik Terang Bulan bermotif Atma Asia-Afrika, Modhang Hayati, dan Dove of Peace, kain batik yang belum selesai, foto bersejarah pameran batik di Istana Negara era 1960-an, tekstil Filipina, keris Moro, serta keris Jawa karya KRRA Hardjosuwarno. Kegiatan hari kedua ditutup dengan peragaan busana batik. Melalui rangkaian ini, Soendari Batik and Art menunjukkan bahwa Batik Terang Bulan bukan hanya warisan visual, tetapi juga ruang belajar, ruang dialog, dan jembatan persahabatan budaya antara Indonesia dan Filipina.




