Perluas Jangkauan Riset, Tim Peneliti Gelar Observasi Awal Dukun Calak di Cepu dan Ngawi

NGAWI – Tim peneliti yang beranggotakan 4 orang terus bergerak aktif dalam mendalami realitas sejarah dan budaya terkait praktisi khitan tradisional di tanah Jawa. Setelah merampungkan agenda di beberapa wilayah sebelumnya, tim kini memperluas jangkauan riset etnohistori mereka dengan menggelar rangkaian observasi awal di dua wilayah penting, yaitu Cepu (Blora) dan Kabupaten Ngawi.

Langkah ini diambil guna memetakan variasi kultural, menangkap perspektif lokal yang lebih luas, serta melihat bagaimana karakteristik masyarakat di masing-masing daerah memengaruhi eksistensi dan dinamika dukun calak di era modern.

Penjajakan Karakteristik Wilayah di Cepu

Rangkaian pelacakan data baru ini dimulai dari kawasan Cepu, yang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Tim peneliti melaksanakan Tahap Observasi Awal di Cepu pada tanggal 23–25 Mei 2026.

Selama tiga hari di Cepu, ke-4 peneliti berfokus pada pemetaan wilayah transisi antara Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut. Proses ini dimanfaatkan untuk menjajakan karakteristik masyarakat lokal, membangun jalinan kepercayaan (rapport), serta melacak keberadaan para praktisi khitan tradisional maupun mantri yang masih aktif atau memiliki rekam jejak kuat di memori kolektif warga setempat.

Melanjutkan Pemetaan Budaya di Ngawi

Usai merampungkan observasi di Cepu, tim peneliti langsung bergerak menuju wilayah perbatasan lainnya, yaitu Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Rangkaian Tahap Observasi Awal Pertama di Ngawi ini dilaksanakan pada tanggal 20–22 Juni 2026.

Di Ngawi, fokus utama tim tetap tertuju pada pengumpulan data-data awal mengenai sistem pengetahuan lokal, aspek kultural, serta spiritualitas yang melingkupi praktik khitan tradisional. Kehadiran tim di lapangan bertujuan untuk mengidentifikasi para aktor kunci yang nantinya akan menjadi narasumber utama dalam tahap wawancara mendalam pada agenda penelitian berikutnya. Rangkaian observasi awal yang berjalan lancar di Cepu dan Ngawi ini berhasil memberikan gambaran peta sosial-budaya yang kaya. Seluruh temuan awal berupa catatan lapangan (fieldnotes) ini akan menjadi fondasi krusial bagi tim peneliti dalam menyusun rekonstruksi sejarah lokal dan merumuskan strategi pelestarian warisan budaya yang relevan dengan arus modernisasi global.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top