Mengutip dari (Sakka & Reski, 2025) dalam ajaran Agama Hindu terdapat suatu ajaran yang secara umum menjelaskan tentang 5 macam persembahan yang biasa disebut sebagai Panca Yadnya. Panca Yadnya ini terdiri dari Dewa Yadnya (persembahan kepada dewa), Pitra Yadnya (persembahan kepada leluhur), Rsi Yadnya (persembahan kepada orang suci), Manusia Yadnya (persembahan kepada manusia), dan Bhuta Yadnya (persembahan kepada bhuta kala). Upacara Ngaben adalah salah satu bagian dari Panca Yadnya itu yang masuk dalam kategori Pitra Yadnya yaitu bentuk penghormatan bagi para leluhur. Upacara Ngaben sering kali memicu rasa takjub sekaligus heran. Bagaimana mungkin sebuah ritual kematian momen yang biasanya diselimuti oleh isak tangis dan duka mendalam justru dirayakan dengan begitu megah dan meriah. Tidak jarang terlihat arak-arakan wadah yang megah membumbung tinggi, diiringi tabuhan gamelan yang tak kalah meriah, bukannya kesedihan yang tampak di wajah anggota keluarga yang ditinggalkan melainkan raut gembira bahkan seringkali juga tawa bahagia. Fenomena visual ini kerap melahirkan miskonsepsi bahwa Ngaben hanyalah sekadar festival pembakaran jenazah yang mengerikan atau bahkan ajang pamer kekayaan dan strata sosial di masyarakat lokal. Namun, jika kita menyelami lebih dalam makna dari prosesi ini, Ngaben sejatinya adalah sebuah manifestasi bentuk cinta kasih, akulturasi budaya, spiritual, dan wujud bakti paling tulus dari seorang anak kepada leluhurnya.