“Merantau Tanpa Kehilangan Akar: Menjaga Denyut Bahasa Batak di Tanah Jawa”
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi
Keberadaan bahasa tidak terbatas pada fungsinya sebagai alat komunikasi. Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, menegaskan bahwa bahasa memuat nilai, keyakinan, dan identitas suatu masyarakat sekaligus menjadi sarana untuk mewariskan tradisi dan pengetahuan (UNESCO, 2018). Bagi masyarakat Batak, bahasa menjadi bagian penting dalam mengenal sistem kekerabatan (partuturan), adat istiadat, hingga nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Merantau ke wilayah dengan latar bahasa dan budaya yang berbeda membawa tantangan tersendiri bagi penutur bahasa daerah, termasuk mahasiswa Batak di Kota Malang. Sebagai kota pendidikan yang dihuni mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia, Malang menjadi ruang perjumpaan yang mendorong penggunaan bahasa yang dapat dipahami bersama. Situasi ini turut memengaruhi penggunaan bahasa Batak dalam kehidupan sehari-hari.

