June 3, 2026

Artikel/Opini

“Merantau Tanpa Kehilangan Akar: Menjaga Denyut Bahasa Batak di Tanah Jawa”

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi

Keberadaan bahasa tidak terbatas pada fungsinya sebagai alat komunikasi. Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, menegaskan bahwa bahasa memuat nilai, keyakinan, dan identitas suatu masyarakat sekaligus menjadi sarana untuk mewariskan tradisi dan pengetahuan (UNESCO, 2018). Bagi masyarakat Batak, bahasa menjadi bagian penting dalam mengenal sistem kekerabatan (partuturan), adat istiadat, hingga nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Merantau ke wilayah dengan latar bahasa dan budaya yang berbeda membawa tantangan tersendiri bagi penutur bahasa daerah, termasuk mahasiswa Batak di Kota Malang. Sebagai kota pendidikan yang dihuni mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia, Malang menjadi ruang perjumpaan yang mendorong penggunaan bahasa yang dapat dipahami bersama. Situasi ini turut memengaruhi penggunaan bahasa Batak dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel/Opini

“Ngalam” Tak pernah Hilang: Eksistensi Bahasa Walikan di Kalangan Generasi Muda Malang”

Bahasa merupakan salah satu identitas budaya yang mencerminkan karakter suatu daerah. Di Kota Malang, terdapat salah satu bentuk bahasa unik yang dikenal sebagai bahasa Walikan Malang. Menurut Hidayani & Macaryus (2019), keunikan daripada bahasa Walikan terdapat pada bentuk kata-katanya yang dibalik. Namun, bahasa yang dibalik di sini hanya pada konteks leksikal saja tanpa banyak mengubah makna aslinya (Yannuar, 2020). Bahasa ini terbentuk melalui pembalikan susunan huruf atau suku kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Contohnya, kata “Malang” berubah jadi “Ngalam”, sedangkan “bakso” menjadi “oskab”. Bahasa Walikan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas khas masyarakat Arek Malang.

Scroll to Top