“Ngalam” Tak pernah Hilang: Eksistensi Bahasa Walikan di Kalangan Generasi Muda Malang”

Bahasa merupakan salah satu identitas budaya yang mencerminkan karakter suatu daerah. Di Kota Malang, terdapat salah satu bentuk bahasa unik yang dikenal sebagai bahasa Walikan Malang. Menurut Hidayani & Macaryus (2019), keunikan daripada bahasa Walikan terdapat pada bentuk kata-katanya yang dibalik. Namun, bahasa yang dibalik di sini hanya pada konteks leksikal saja tanpa banyak mengubah makna aslinya (Yannuar, 2020). Bahasa ini terbentuk melalui pembalikan susunan huruf atau suku kata dari bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Contohnya, kata “Malang” berubah jadi “Ngalam”, sedangkan “bakso” menjadi “oskab”. Bahasa Walikan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas khas masyarakat Arek Malang.

Dari Bahasa Sandi Pejuang Menjadi Budaya Populer Kota Malang

Uniknya lagi, bahasa walikan ternyata bukan sekadar bahasa khas biasa. Di balik kata-kata terbalik itu, ada Sejarah Panjang yang melekat dengan perjuangan masyarakat Malang pada masa penjajahan. Penggunaan bahasa ini bertujuan untuk menghindari pemahaman pihak lawan terhadap percakapan yang dilakukan. Adanya Bahasa Walikan ini berawal sejak tahun 1949 ketika terdapat upaya perlawanan pada penjajah Belanda. Bahasa Walikan pada awalnya adalah sebuah sandi yang digunakan oleh pejuang GRK (Gerilya Rakyat Kota) untuk melawan bangsa Kolonial. Sandi ini sendiri dipelopori oleh salah satu pejuang yang bernama Suyudi Raharno (Setyanto, 2016). Seiring berjalannya waktu, fungsi bahasa walikan pun mulai berubah. Dari yang awalnya digunakan secara rahasia, bahasa ini justru semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Malang zaman dulu. Bahasa ini bahkan menjadi simbol solidaritas dan kebanggaan lokal yang melekat pada identitas Arek Malang. Penggunaan bahasa walikan dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari, komunitas lokal, hingga atribut dan jargon suporter sepak bola di Kota Malang.

Bahasa Gaul Modern dan Ancaman bagi Bahasa Walikan

Sayangnya, popularitas Bahasa Walikan tidak selalu berjalan mulus. Di tengah perkembangan zaman dan derasnya budaya modern, penggunaan bahasa ini perlahan mulai berkurang. Pergeseran zaman dari masa lalu ke modern membuat generasi muda lebih akrab dengan bahasa gaul modern yang lebih eksis di media sosial. Kondisi tersebut menyebabkan minat terhadap penggunaan bahasa Walikan mulai menurun. Banyak generasi muda yang hanya mengenal beberapa istilah walikan tanpa memahami sejarah maupun nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut juga dirasakan langsung oleh generasi muda Malang saat ini. Banyak yang mengenal istilahnya, tetapi belum terbiasa menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Seperti yang diungkapkan oleh 1 informan yang berasal dari Kota Malang, dia hanya sering mendengar dan tidak pernah memakai Bahasa walikan itu sendiri. “Hanya sering denger di akhir pembicaraan aja si kaya “nuwus sam” kalo pemakaian bahasanya masih belum pernah” (Nabilah Dian 19 thn).

Kondisi ini tentu tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang membuat bahasa walikan semakin jarang digunakan, terutama di kalangan anak muda. Seperti kurangnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah bahasa Walikan, minimnya penggunaan dalam lingkungan pendidikan, serta berkurangnya kebiasaan penggunaan bahasa tersebut dalam masyarakat. Selain itu, dominasi bahasa populer di media sosial juga membuat generasi muda lebih sering menggunakan istilah modern dibandingkan dengan bahasa daerah. Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa adanya upaya pelestarian, bahasa walikan berpotensi kehilangan eksistensinya sebagai warisan budaya khas Kota Malang.

Eksistensi Bahasa Walikan di Tengah Arus Modernisasi

Di sisi lain, ada salah satu warga lokal Malang bernama Bapak Didik yang mendirikan sebuah kafe di daerah Kayutangan yang mengangkat budaya lokal Bahasa Walikan sebagai identitas utama. Kafe tersebut bernama Kedai Sebastian yang menggunakan bahasa Walikan dalam daftar menunya. Dalam menu tersebut terdapat berbagai nama makanan dan minuman dengan istilah walikan, seperti “tahu bakso” jadi “uhat oskab” dan “ es kopi susu lanang” jadi “es ipok usus nganal”, serta beberapa istilah lain yang dibuat menggunakan pola pembalikan kata khas Malang. Tidak hanya sekadar menjadi dekorasi atau konsep unik, kedai ini juga menawarkan beberapa pilihan harga sesuai bahasa yang digunakan, seperti bahasa Indonesia, Jawa, dan Walikan, dan pelanggan akan mendapatkan harga paling murah jika menggunakan bahasa Walikan. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa walikan masih digunakan secara nyata dalam kehidupan masyarakat sekarang, bahkan menjadi bagian dari strategi marketing dan budaya di lingkup sosial.

Cara unik seperti ini ternyata cukup berhasil menarik perhatian masyarakat. Tidak sedikit pengunjung yang akhirnya penasaran dan mulai mencoba menggunakan Bahasa Walikan. Konsep tersebut secara tidak langsung memperkenalkan Bahasa Walikan kepada pengunjung dari luar daerah maupun masyarakat yang sebelumnya belum memahami budaya walikan.

Menjaga Warisan Budaya agar Tidak Hilang oleh Zaman

Dari sini terlihat bahwa Bahasa Walikan sebenarnya masih punya tempat di tengah masyarakat modern. Tinggal bagaimana budaya ini terus dikenalkan dan dijaga agar tidak perlahan menghilang. Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui pengenalan Bahasa Walikan di lingkungan pendidikan, kegiatan komunitas budaya, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi budaya lokal. Dengan adanya upaya tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal Bahasa Walikan sebagai tren atau simbol semata, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Pada akhirnya, Bahasa Walikan bukan hanya soal cara berbicara, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Malang menjaga identitas dan kebanggaan budayanya di tengah perkembangan zaman. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, bahasa walikan dapat terus berkembang dan menjadi simbol kebanggaan budaya daerah yang tidak hilang oleh perkembangan zaman.

Daftar Pustaka:

Hidayani, O. M., & Macaryus, S. (2019). Pemakaian Bahasa Jawa Di Lingkungan Kraton    Yogyakarta: Kajian Sosiolinguistik. Caraka, 6(1), 34.

Setyanto, A. (2016). Osob Ngalaman (Bahasa Slang Asal Malang) Sebagai Salah Satu Icon Malang (Studi Struktur Osob Ngalaman, dalam Sosial Network). Jurnal Pariwisata Pesona, 1(1).

Yannuar, N., Klamer, M. A. F., & Hoogervorst, T. G. (2020). Bòsò Walikan malangan structure and development of a Javanese reversed language. Wacana, 21(1), 168–175.

Sumber gambar : https://maps.app.goo.gl/uD6cZ1fWNuvo2nQR6

Oleh : Nabila Luciana (Universitas Brawijaya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top