June 5, 2026

Artikel/Opini

“Eksistensi Jajanan Pasar Tradisional Khas Malang di Tengah Gempuran Makanan Modern Pada Mahasiswa di Lingkungan Universitas Brawijaya”

Eksistensi Jajanan Pasar Tradisional Khas Malang di Lingkungan Kampus

Observasi dilakukan di kawasan Jalan Veteran, tepatnya di sekitar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Pada lokasi tersebut terdapat seorang pedagang jajanan pasar tradisional yang berjualan secara berkeliling di area kampus pada sore hingga malam hari, sekitar pukul 16.00–17.00 WIB, dan terkadang berpindah lokasi ke area perpustakaan Universitas Brawijaya.
Pedagang tersebut menjual berbagai jajanan pasar tradisional seperti cenil, klepon, lupis, donat, serta sate-satean. Berdasarkan hasil wawancara singkat, pedagang mulai berjualan di lingkungan Universitas Brawijaya sejak 23 Desember 2023 setelah masa pandemi COVID-19. Sebelumnya, beliau telah berjualan jajanan tradisional di Pasar Kota Malang selama kurang lebih 60 tahun. Enam puluh tahun berjualan bukan hal yang mudah, apalagi di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Sebagian besar pembeli merupakan mahasiswa karena lokasi penjualan berada di dalam lingkungan kampus. Saat observasi berlangsung, terlihat beberapa mahasiswa berhenti untuk membeli jajanan sambil berbincang dengan pedagang. Meskipun jumlah pembeli belum seramai café atau tempat makan modern di sekitar kampus, keberadaan jajanan pasar tradisional masih cukup menarik perhatian mahasiswa.

Artikel/Opini

“Pelestarian Permainan Rakyat Sebagai Upaya Memperkuat Nilai Persatuan dan Kepedulian Sosial”

I. Pendahuluan
Sore hari di lingkungan perumahan atau desa sekarang rasanya jauh lebih sunyi dibandingkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Dulu, suara anak-anak bermain di lapangan kecil depan rumah terdengar hampir setiap sore. Ada yang berlari sambil memainkan gobak sodor, ada yang tertawa saat kalah main congklak, atau duduk serius di depan congklak. Tidak ada ponsel, tidak ada headset, yang ada cuma suara tawa dan sesekali tangis karena jatuh. Sayangnya, suasana seperti itu sekarang mulai jarang ditemukan. Sekarang, halaman-halaman itu sepi, anak-anaknya ada di dalam, masing-masing menatap layar, duduk berdampingan tapi pikiran mereka melanglang buana ke Land of Dawn atau medan perang Battle Royale. Bukan salah siapa-siapa memang, zaman berubah dan mereka wajar mengikuti. Dunia digital memang membawa banyak kemudahan, tetapi di sisi lain perlahan menggeser budaya bermain tradisional yang dulu begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Esai ini mencoba menelusuri kenapa permainan rakyat itu penting, apa hubungannya dengan nilai-nilai Pancasila dan kepedulian sosial, dan apa yang seharusnya dilakukan agar warisan budaya ini tidak benar-benar punah ditelan zaman.

Artikel/Opini

“Seberapa Sering Kita Tertawa Di Dalam Grup Chat Tanpa Sadar Sedang Melukai Seseorang?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar berlebihan, sampai kita membayangkan apa yang bisa terjadi di balik layar sebuah grup WhatsApp mahasiswa yang tampak biasa. Sebuah grup percakapan yang awalnya dibuat untuk koordinasi akademik, perlahan berubah menjadi ruang yang memuat komentar vulgar, mengobjektifikasi, dan merendahkan martabat sesama mahasiswa maupun dosen perempuan. Skenario seperti ini bukan fiksi ia terjadi di berbagai kampus, dalam berbagai bentuk, dan lebih sering dari yang kita bayangkan. Yang membuat publik tertegun setiap kali kasus semacam ini mencuat bukan sekadar isi chatnya, melainkan kenyataan bahwa pelakunya adalah mahasiswa generasi yang justru sedang belajar tentang keadilan dan hak asasi manusia.
Namun sebelum kita menunjuk jauh ke sana, ada baiknya kita bertanya: apakah fenomena seperti ini benar-benar asing bagi kita?

Artikel/Opini

“Perkembangan Kerajinan Topeng Malangan sebagai Identitas Budaya Lokal”

Sejarah dan Latar Belakang Topeng Malangan

Topeng Malangan merupakan salah satu bentuk seni tradisional yang berkembang di wilayah Malang Raya, khususnya di Kabupaten Malang. Seni topeng ini erat kaitannya dengan pertunjukan Wayang Topeng Malangan yang mengangkat cerita Panji, yaitu kisah klasik Jawa yang populer sejak masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit. Dalam sejarahnya, Topeng Malangan berkembang sebagai media pertunjukan rakyat yang digunakan untuk menyampaikan pesan moral, pendidikan, dan nilai kehidupan kepada masyarakat. Tokoh-tokoh dalam cerita Panji diwujudkan dalam bentuk topeng dengan karakteristik tertentu. Setiap tokoh memiliki ciri khas yang dapat dikenali dari bentuk mata, hidung, warna, hingga ukiran wajahnya.
Kerajinan Topeng Malangan umumnya dibuat dari kayu sengon atau kayu pule karena mudah dibentuk dan memiliki tekstur yang ringan. Proses pembuatannya dilakukan secara manual mulai dari pemahatan, penghalusan, pewarnaan, hingga tahap finishing. Keterampilan ini diwariskan secara turun-temurun oleh para pengrajin di desa-desa sentra budaya seperti Desa Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Topeng Malangan tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat Malang. Keberadaan topeng ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Timur memiliki tradisi seni yang kaya serta mampu mempertahankan nilai-nilai budaya lokal di tengah perubahan zaman.

Scroll to Top