“Eksistensi Jajanan Pasar Tradisional Khas Malang di Tengah Gempuran Makanan Modern Pada Mahasiswa di Lingkungan Universitas Brawijaya”

Eksistensi Jajanan Pasar Tradisional Khas Malang di Lingkungan Kampus

Observasi dilakukan di kawasan Jalan Veteran, tepatnya di sekitar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Pada lokasi tersebut terdapat seorang pedagang jajanan pasar tradisional yang berjualan secara berkeliling di area kampus pada sore hingga malam hari, sekitar pukul 16.00–17.00 WIB, dan terkadang berpindah lokasi ke area perpustakaan Universitas Brawijaya.

Pedagang tersebut menjual berbagai jajanan pasar tradisional seperti cenil, klepon, lupis, donat, serta sate-satean. Berdasarkan hasil wawancara singkat, pedagang mulai berjualan di lingkungan Universitas Brawijaya sejak 23 Desember 2023 setelah masa pandemi COVID-19. Sebelumnya, beliau telah berjualan jajanan tradisional di Pasar Kota Malang selama kurang lebih 60 tahun. Enam puluh tahun berjualan bukan hal yang mudah, apalagi di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Sebagian besar pembeli merupakan mahasiswa karena lokasi penjualan berada di dalam lingkungan kampus. Saat observasi berlangsung, terlihat beberapa mahasiswa berhenti untuk membeli jajanan sambil berbincang dengan pedagang. Meskipun jumlah pembeli belum seramai cafe atau tempat makan modern di sekitar kampus, keberadaan jajanan pasar tradisional masih cukup menarik perhatian mahasiswa.

Perkembangan Kuliner Modern di Lingkungan Kampus

Perkembangan café dan makanan modern di Kota Malang saat ini semakin pesat, terutama di kawasan sekitar kampus. Banyak mahasiswa lebih memilih tempat makan modern karena dianggap lebih nyaman, praktis, dan mengikuti tren masa kini. Kondisi tersebut secara tidak langsung membuat keberadaan jajanan pasar tradisional mulai kurang diminati oleh generasi muda, termasuk mahasiswa. Padahal, jajanan tradisional bukan sekedar makanan biasa, ia bagian dari budaya yang sudah ada jauh sebelum kita lahir.

Meskipun demikian, jajanan pasar tradisional sebenarnya masih memiliki tempat tersendiri di kalangan masyarakat. Selain memiliki harga yang terjangkau, jajanan tradisional juga menjadi bagian dari budaya kuliner lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keberadaan jajanan tradisional tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga mencerminkan identitas budaya daerah.

Di tengah berkembangnya makanan modern, masih terdapat pedagang jajanan pasar tradisional yang tetap bertahan berjualan di lingkungan Universitas Brawijaya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih mampu bertahan meskipun harus bersaing dengan makanan modern yang lebih populer di kalangan mahasiswa.

Pengaruh Media Sosial terhadap Minat Mahasiswa

Perkembangan media sosial ternyata memberikan pengaruh terhadap meningkatnya minat mahasiswa pada jajanan pasar tradisional. Banyak mahasiswa mulai mengenalkan pedagang tersebut melalui konten video di aplikasi TikTok. Konten yang dibagikan umumnya menunjukkan perjuangan pedagang dalam berjualan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu serta suasana sederhana saat menjajakan jajanan tradisional di area kampus.

Konten tersebut menarik perhatian banyak pengguna media sosial dan membuat pedagang mulai dikenal oleh mahasiswa lain. Akibatnya, semakin banyak mahasiswa yang datang untuk membeli jajanan tradisional yang dijual. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu memberikan dampak negatif terhadap budaya tradisional, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan dan menjaga keberadaan kuliner lokal kepada generasi muda. Menariknya, media sosial yang sering dianggap jauh dari nilai tradisional justru menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali kuliner lokal ini.

Peran Mahasiswa dalam Pelestarian Kuliner Tradisional

Sebagai generasi muda yang hidup di tengah dua dunia, tradisional dan modern, mahasiswa sebenarnya berada di posisi yang paling bisa menjembatani keduanya. Jajanan pasar tradisional merupakan bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), khususnya dalam unsur Pengetahuan Tradisional. Jenis makanan, cara penyajian, hingga proses penjualannya menjadi bagian dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan masih bertahan hingga saat ini.

Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya kuliner tradisional. Dukungan sederhana seperti membeli jajanan pasar, mengenalkan melalui media sosial, maupun meningkatkan kepedulian terhadap produk lokal dapat menjadi langkah kecil dalam menjaga eksistensi kuliner tradisional di tengah perkembangan zaman.

Melalui fenomena tersebut dapat dilihat bahwa jajanan pasar tradisional khas Malang masih mampu bertahan di tengah gempuran makanan modern. Kehadiran media sosial serta perhatian mahasiswa menjadi salah satu faktor yang membantu mempertahankan keberadaan kuliner tradisional di lingkungan kampus. Pada akhirnya, menjaga jajanan tradisional bukan berarti menolak perubahan, melainkan memastikan bahwa di tengah perubahan itu, akar budaya kita tidak ikut hilang.

Faktor Pendukung Eksistensi Jajanan Pasar Tradisional

Berdasarkan hasil observasi, terdapat beberapa faktor yang mendukung keberadaan jajanan pasar tradisional di lingkungan Universitas Brawijaya. Salah satunya adalah lokasi berjualan yang berada di kawasan kampus sehingga mudah dijangkau oleh mahasiswa. Selain itu, harga jajanan yang relatif terjangkau membuat produk tersebut tetap diminati oleh kalangan mahasiswa.

Faktor pendukung lainnya adalah adanya peran media sosial, khususnya TikTok, dalam memperkenalkan jajanan pasar tradisional kepada masyarakat luas. Berbagai konten yang menampilkan aktivitas pedagang dan perjuangannya dalam berjualan berhasil menarik perhatian mahasiswa sehingga meningkatkan minat untuk membeli dan mencoba jajanan tradisional tersebut. Dukungan mahasiswa melalui promosi di media sosial juga turut membantu mempertahankan eksistensi jajanan pasar tradisional di tengah perkembangan kuliner modern.

Faktor Penghambat Eksistensi Jajanan Pasar Tradisional

Di sisi lain, terdapat beberapa faktor yang menjadi hambatan bagi keberlangsungan jajanan pasar tradisional. Salah satunya adalah semakin banyaknya pilihan makanan dan minuman modern yang tersedia di sekitar kampus. Kehadiran café dan restoran dengan konsep yang lebih menarik bagi generasi muda menyebabkan sebagian mahasiswa lebih memilih makanan modern dibandingkan jajanan tradisional.

Selain itu, sistem penjualan yang dilakukan secara berkeliling membuat jangkauan pembeli menjadi terbatas. Lokasi pedagang yang sering berpindah juga menyebabkan tidak semua mahasiswa mengetahui keberadaan jajanan tersebut. Faktor cuaca, seperti hujan, turut memengaruhi jumlah pembeli karena aktivitas berjualan dilakukan di area terbuka. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan eksistensi jajanan pasar tradisional di lingkungan kampus.

Sumber : Dokumentasi peneliti 2026

Oleh : Maulida Safira Husna (Universitas Brawijaya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top