June 9, 2026

Artikel/Opini

“Di Bawah Cahaya Layar, Cerita Rakyat Nusantara Kian Meredup Bahkan Di Tempat Lahirnya”

Pergeseran Pola Hiburan Anak di Era Digital

Sejak jauh sebelum hadirnya televisi, gawai, dan media digital, masyarakat nusantara telah memiliki tradisi bertutur yang menjadi sarana hiburan sekaligus pendidikan antargenerasi. Cerita rakyat hidup di ruang-ruang sederhana, di beranda rumah, di bawah sinar samar lampu minyak, atau di sela malam yang sunyi, ketika seorang nenek atau kakek menuturkan kisah dengan suara yang hangat. Tanpa listrik, tanpa jaringan internet, dan tanpa teknologi modern, dongeng mampu membawa imajinasi anak-anak melintasi batas ruang, memperkenalkan nilai kehidupan, keberanian, kejujuran, hingga kearifan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Namun kenyataan di era sekarang telah membalikkan segalanya dengan kecepatan yang sulit dibayangkan sebelumnya. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat bahwa 78,19% penduduk Indonesia telah mengakses internet, dengan penetrasi yang kini merambah hingga ke pedesaan seiring program perluasan infrastruktur digital pemerintah. Survei UNICEF Indonesia (2020) mengungkap bahwa anak-anak usia 7–12 tahun rata-rata menghabiskan 4–5 jam per hari di depan layar angka yang melampaui total waktu mereka untuk bermain di luar dan berinteraksi langsung dengan anggota keluarga.

Platform media sosial seperti YouTube, TikTok, dan berbagai aplikasi game online menawarkan stimulasi visual dan auditif yang intens, cepat, dan terus-menerus diperbarui. Konten yang disajikan dirancang secara algoritmis untuk menjaga perhatian pengguna selama mungkin sebuah mekanisme yang dalam ilmu komunikasi dikenal sebagai attention economy. Dalam persaingan memperebutkan perhatian anak, cerita rakyat yang linier, lambat, dan tidak interaktif tentu kalah telak melawan konten digital yang penuh efek kejutan. Ironisnya, pergeseran ini terjadi paling tajam di kalangan anak-anak pedesaan yang kini mendapatkan akses gawai lebih luas. Berbeda dengan kota besar yang memiliki perpustakaan, sanggar seni, dan komunitas budaya, anak-anak desa sering kali langsung melompat dari tradisi lisan ke layar sentuh, tanpa melewati tahap transisi literasi yang memadai.

Artikel/Opini

“Ketika Sila Pertama Diuji: Intoleransi Berbasis Agama dan Krisis Ideologi Pancasila”

Indonesia adalah negara yang berdiri di atas fondasi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, menjamin hak setiap warga negara untuk memeluk dan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya. Namun, realitas di lapangan seringkali bertolak belakang dengan cita-cita luhur tersebut. Kasus pembubaran paksa retret pelajar Kristen di Sukabumi (Juni 2025) dan perusakan rumah doa di Padang (Juli 2025) menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Artikel opini ini mengkaji fenomena intoleransi berbasis agama tersebut dari perspektif Pancasila sebagai ideologi negara. Permasalahan yang diangkat adalah: bagaimana kasus-kasus pelanggaran kebebasan beragama mencerminkan krisis penerapan Pancasila, serta apa yang seharusnya dilakukan oleh negara dan masyarakat untuk mengembalikan semangat ideologi Pancasila ke dalam praktik kehidupan berbangsa dan beragama?

Artikel/Opini

“Tari Jaipong Sebagai Warisan Budaya: Menjaga Identitas Sunda Dalam Pusaran Global Dan Pembentukan Karakter Generasi Muda”

Pendahuluan

Tari Jaipong adalah seni tari tradisional yang berasal dari Jawa Barat, Indonesia. Tarian ini memadukan gerak yang dinamis, ekspresif, dan energik dengan iringan musik tradisional yang ritmis. Sebagai identitas budaya masyarakat Sunda, Jaipong telah dikenal luas baik di tingkat nasional maupun internasional karena keunikan gerak dan estetika penyajiannya. Tari Jaipong dikembangkan oleh Gugum Gumbira pada tahun 1970-an. Tarian ini merupakan pengembangan dari seni tari Ketuk Tilu dan perpaduan dengan unsur pencak silat serta tari tradisional lainnya. Nama “Jaipong” sendiri diambil dari bunyi kendang yang mengiringi tarian tersebut, yaitu “jai” dan “pong”. Sejak kemunculannya, Jaipong menjadi fenomena budaya yang sangat populer dan menjadi simbol kreativitas seni tari rakyat yang modern namun tetap berakar pada tradisi.

Scroll to Top