June 10, 2026

Artikel/Opini

“Kesenian Ondel-Ondel Sebagai Indentitas Budaya Betawi Di Jakarta”

Di Jakarta, budaya Betawi menjadi salah satu identitas khas Masyarakat ibu kota. Salah satu kesenian tradisional yang paling paling dikenal Adalah ondel-ondel. Ondel-Ondel menupakan boneka raksasa yang biasanya dimainkan secara berpasangan dan ditampilkan dalam acara adat, festival budaya, maupun hiburan Masyarakat. Keberadaan ondel-ondel tidak hanya menjadi hiburan tetapi juga memiliki nilai Sejarah dan filosofi yang erat dengan keidupan Masyarakat Betawi pada masa lalu. Hingga saat ini, ondel-ondel masih menjadi symbol budaya Betawi yang sering dijumpai di berbagai sudut Jakarta, mulai dari acara pemerintahan hingga pertunjukan jalanan.

Artikel/Opini

“Negeri Rempah yang Lupa Rasa Jamu”

Indonesia dan rempah-rempah memiliki ikatan historis yang sangat kuat, bahkan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika kita melihat kembali catatan sejarah berabad-abad lalu, aroma pala, cengkih, dan kapulaga dari Nusantara sukses mengguncang dunia serta mengubah peta perdagangan global. Kekayaan alam inilah yang menggerakkan armada-armada besar Eropa untuk rela bertaruh nyawa menembus badai samudra selama berbulan-bulan demi bisa mencapai kepulauan ini. Menariknya, dari kelimpahan bumi yang luar biasa tersebut, leluhur kita tidak hanya menggunakannya sebagai bumbu dapur menambah cita rasa masakan, melainkan juga meraciknya menjadi jamu. Sebuah ramuan tradisional yang terbukti ampuh menjaga kesehatan masyarakat Nusantara dari generasi ke generasi, jauh sebelum obat-obatan modern berbentuk pil dan kapsul menguasai pasar domestik.
Namun nyatanya terdapat sebuah ironi besar yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Pada akhir tahun 2023 lalu, jamu resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage). Pencapaian internasional yang sangat membanggakan ini sayangnya berbanding terbalik dengan kondisi riil di dalam negeri. Generasi muda kita saat ini jauh lebih akrab dengan aroma kopi susu gula aren, matcha latte, atau segelas boba yang manis ketimbang kehangatan kunyit asam dan beras kencur. Jamu pelan-pelan terpinggirkan dari konsumsi harian, bahkan dianggap sebagai minuman kuno, pahit, dan ketinggalan zaman. Kita seolah-olah menjadi “Negeri Rempah yang Lupa Rasa Jamu”—sebuah bangsa yang tanahnya kaya akan bahan baku herbal terbaik, tetapi masyarakatnya sendiri mendadak asing dengan rasa ramuannya.

Artikel/Opini

“Kepunahan Permainan Nyai Puthut Rakyat: Salah Siapa Teknologi, Lingkungan, atau Generasi Muda?”

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari bahasa daerah, kesenian, hingga permainan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Permainan tradisional bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang mengajarkan nilai kerja sama, sportivitas, komunikasi, dan interaksi sosial kepada anak-anak (Kurniati, 2016). Sayangnya, keberadaan permainan tradisional saat ini semakin terpinggirkan oleh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Salah satu permainan rakyat yang mulai kehilangan eksistensinya adalah Nyai Puthut, permainan tradisional yang pernah dikenal oleh masyarakat Malang. Berbeda dengan permainan populer seperti congklak atau gobak sodor yang masih sesekali dimainkan, Nyai Puthut justru semakin sulit ditemukan. Tidak sedikit generasi muda yang bahkan belum pernah mendengar nama permainan tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa warisan budaya lokal tidak hanya menghadapi tantangan untuk dilestarikan, tetapi juga menghadapi risiko dilupakan oleh generasi penerusnya.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan yang menarik untuk dikaji. Apakah hilangnya permainan Nyai Puthut merupakan dampak dari perkembangan teknologi yang semakin pesat, perubahan lingkungan sosial masyarakat, atau justru karena rendahnya ketertarikan generasi muda terhadap budaya lokal? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dipahami berbagai faktor yang memengaruhi keberlangsungan permainan tradisional di tengah kehidupan modern.

Artikel/Opini

“Menari Bersama Identitas: Upaya Generasi Muda Menjaga Eksistensi Tari Jalak Lawu Di Era Digital”

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Setiap daerah memiliki identitas budaya yang menjadi ciri khas sekaligus kebanggaan masyarakatnya. Salah satu bentuk kekayaan budaya tersebut adalah seni tari. Tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, seni tari juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan, sejarah, dan karakter suatu daerah. Oleh karena itu, pelestarian seni tari menjadi hal yang penting agar warisan budaya bangsa tidak hilang akibat perkembangan zaman.
Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, seni tari termasuk salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan yang perlu dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan dibina secara berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa seni tari memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat jati diri bangsa.
Salah satu karya seni tari yang lahir sebagai representasi budaya lokal adalah Tari Jalak Lawu dari Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Meskipun tergolong sebagai tari yang relatif baru, Tari Jalak Lawu telah berkembang menjadi simbol budaya yang membanggakan masyarakat Magetan. Tarian ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga berperan dalam memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Artikel/Opini

“Pelestarian Dan Pengenalan Tradisi Bau Nyale Sebagai Warisan Budaya Lombok Kepada Generasi Muda”

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman budaya yang sangat kaya. Setiap daerah memiliki adat istiadat, tradisi, bahasa, dan kebiasaan yang berbeda-beda. Keberagaman tersebut menjadi salah satu identitas bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan. Salah satu tradisi budaya yang masih bertahan hingga saat ini adalah Tradisi Bau Nyale yang berasal dari masyarakat Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun dan selalu menarik perhatian masyarakat lokal maupun wisatawan dari berbagai daerah.

Artikel/Opini

“Eksistensi Jamu Tradisional Sebagai Pengetahuan Lokal Di Tengah Modernisasi Masyarakat Kota Malang”

Indonesia merupakan negara yang kaya akan warisan budaya, salah satunya adalah pengobatan tradisional berupa jamu. Jamu merupakan minuman herbal berbahan alami, seperti rempah-rempah, yang berakar dari budaya Jawa dan telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad. Di tengah arus modernisasi yang semakin pesat, eksistensi jamu tradisional di Kota Malang menghadapi berbagai tantangan sekaligus peluang untuk tetap bertahan dan berkembang di masyarakat modern.

Artikel/Opini

“Minuman Tradisional Jamu Identitas Bangsa dan Khasiatnya”

Dalam kehidupan sehari-hari di era ini, sudah seberapa sering kita memesan segelas es kopi untuk menemani di kala tumpukan tugas melanda? Pernahkah terbesit di dalam pikiran bahwa Indonesia juga memiliki minuman yang juga telah mendunia dan bahkan telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan asli Indonesia? Jamu merupakan minuman yang terbuat dari berbagai macam jenis rempah yang berkhasiat bagi tubuh. Menurut Setya & Nurul (2024), kata jamu berasal dari dua suku kata yaitu “Jawa” dan “ngeramu”, yang jika diartikan yaitu ramuan khas yang dibuat oleh orang Jawa. Adapun “djampi” sebagai makna lain dari jamu yang berarti mengobati dengan bahan atau cara herbal.

Artikel/Opini

“Kontradiksi Mpu Purwa: Estetika Modern di Balik Rumpang Sejarah Singhasari”

Ukiran Aksara dan Sejarah Singhasari.

Pada saat memasuki gerbang utama, kita akan disambut oleh bangunan megah yang penuh histori, Setiap dinding yang dilalui memiliki ukiran kesejarahan yang penuh makna. Museum Mpu Purwa yang berlokasi di Malang, setiap prasasti yang hadir seperti membawa kita melintasi ruang waktu. Di tempat ini, setiap penemuan peradaban Malang Raya khususnya era keemasan Kerajaan Singhasari terekam abadi dalam sebongkah batu yang memiliki keberagaman ukiran khas yang dimilikinya. Prasasti-prasasti yang berjejer di sana bukanlah sekadar ornamen mati atau komoditas visual semata, melainkan sebuah dokumen hidup. Ia memuat guratan aksara yang merekam dinamika hukum, intrik politik, hingga spiritualitas manusia yang dikemas dengan alur penempatan sedemikian rupa. Bagi masyarakat umum, museum ini menjelma menjadi ruang edukasi yang modern dan estetik. Namun, jika kita menguliti lebih dalam dari sudut pandang akademis, eksistensi museum ini sebenarnya menyimpan sebuah dialektika yang krusial, benturan antara kesempurnaan tata kelola fisik dan asal-usul sejarah yang sering kali rumpang.

Artikel/Opini

“Mengenal Sejarah Malang Tahun 935 M Melalui Batik Tulis Bunulrejo”

Letak dan Lokasi Strategis Kampung Batik Bunulrejo

Kampung Wisata Batik Bunulrejo terletak di Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Pusat pemberdayaan ekonomi kreatif ini berlokasi di kawasan Kampung Edukasi RW 10. Sentra ini menjadi daya tarik wisata budaya karena lokasinya yang strategis di tengah kota dan mudah diakses. Berdasarkan hasil observasi pada minggu pertama pengumpulan data, kawasan ini memiliki tata ruang pemukiman urban yang asri, bersih, dan tertata rapi. Di sepanjang koridor kampung, terdapat atmosfer edukasi budaya sebagai penghias galeri pameran produk. Perpaduan fungsi sebagai basis produksi usaha mikro (UMKM) batik tulis sekaligus destinasi wisata edukasi interaktif merupakan nilai tawar kompetitif bagi komunitas lokal. Potensi ekonomi ini akan berdampak optimal jika didukung oleh perluasan pasar serta sistem informasi digital yang terintegrasi.

Artikel/Opini

“Candi Wonorejo Madiun: Warisan Sunyi Yang Menunggu Diakui”

Ketika Sejarah Tidur di Bawah Tanah

Ada sesuatu yang ganjil sekaligus menyentuh ketika kita berdiri di hadapan sebuah situs purbakala yang tersembunyi di antara hamparan sawah dan rumah warga. Tidak ada papan reklame besar, tidak ada sorot lampu dramatis, tidak ada antrean wisatawan yang berselfie. Yang ada hanyalah keheningan, batu-batu tua yang masih berdiri tegak, dan pertanyaan yang menggantung di udara: mengapa tempat sepenting ini begitu jarang dibicarakan?
Itulah yang saya rasakan pertama kali menginjakkan kaki di Candi Wonorejo, sebuah situs arkeologi yang berlokasi di Dusun Santan, Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Jarak tempuhnya tidak jauh dari pusat kota, sekitar 25 kilometer ke arah timur dari kota Madiun dan sekitar 7 kilometer di selatan Kantor Bupati Madiun di Caruban. Namun secara perhatian publik, situs ini terasa jauh, jauh sekali, dari pusat kesadaran masyarakat.
Madiun selama ini lebih banyak dikenal lewat satu narasi yang berat: tragedi pemberontakan PKI tahun 1948. Narasi itu memang nyata dan patut dikenang. Tetapi, sejarah Madiun jauh lebih panjang dan kaya dari sekedar satu babak kelam. Di bawah ini tanah dusun kecil bernama Santan, tersimpan bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari peradaban besar Nusantara, jauh sebelum nama Madiun dikenal.
Tulisan ini lahir kunjungan langsung ke lokasi, percakapan dengan warga sekitar, serta kegelisahan pribadi terhadap nasib warisan budaya yang terlalu sering dianggap urusan akademisi semata. Ini bukan kajian ilmiah. Ini adalah suara warga biasa yang merasa bahwa peninggalan leluhur Adalah tanggung jawab kita semua.

Scroll to Top