Ketika Sejarah Tidur di Bawah Tanah
Ada sesuatu yang ganjil sekaligus menyentuh ketika kita berdiri di hadapan sebuah situs purbakala yang tersembunyi di antara hamparan sawah dan rumah warga. Tidak ada papan reklame besar, tidak ada sorot lampu dramatis, tidak ada antrean wisatawan yang berselfie. Yang ada hanyalah keheningan, batu-batu tua yang masih berdiri tegak, dan pertanyaan yang menggantung di udara: mengapa tempat sepenting ini begitu jarang dibicarakan?
Itulah yang saya rasakan pertama kali menginjakkan kaki di Candi Wonorejo, sebuah situs arkeologi yang berlokasi di Dusun Santan, Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Jarak tempuhnya tidak jauh dari pusat kota, sekitar 25 kilometer ke arah timur dari kota Madiun dan sekitar 7 kilometer di selatan Kantor Bupati Madiun di Caruban. Namun secara perhatian publik, situs ini terasa jauh, jauh sekali, dari pusat kesadaran masyarakat.
Madiun selama ini lebih banyak dikenal lewat satu narasi yang berat: tragedi pemberontakan PKI tahun 1948. Narasi itu memang nyata dan patut dikenang. Tetapi, sejarah Madiun jauh lebih panjang dan kaya dari sekedar satu babak kelam. Di bawah ini tanah dusun kecil bernama Santan, tersimpan bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari peradaban besar Nusantara, jauh sebelum nama Madiun dikenal.
Tulisan ini lahir kunjungan langsung ke lokasi, percakapan dengan warga sekitar, serta kegelisahan pribadi terhadap nasib warisan budaya yang terlalu sering dianggap urusan akademisi semata. Ini bukan kajian ilmiah. Ini adalah suara warga biasa yang merasa bahwa peninggalan leluhur Adalah tanggung jawab kita semua.