“Kuliah, Investasi Masa Depan atau Investasi Bodong?”

Opini Viral Mengenai Perkuliahan

Kuliah itu scam, tiga kata yang sering dijumpai di media sosial beberapa waktu lalu hingga saat ini. Influencer kecil maupun besar turut menyuarakan opini tersebut dengan justifikasi yang berbeda-beda, ada yang mengaitkan opini tersebut dengan biaya yang diperlukan untuk kuliah atau pengorbanan waktu yang cukup lama, namun tidak sebanding dengan hasilnya yang dirasakan di akhir. Opini ini menimbulkan berbagai respon pro dan kontra di berbagai media dunia maya.

Faktor Pemantik Munculnya Opini

Jika ditelusuri lebih lanjut, opini tersebut viral tidak hanya sekali, namun berkali-kali dengan faktor penyebab yang berbeda pula. Faktor penyebab yang mungkin menjadi pemantik adalah peningkatan biaya yang diperlukan untuk berkuliah. Biaya semakin meningkat, namun tidak terasa adanya peningkatan dari segi fasilitas maupun layanan yang diberikan. Hal ini diperparah dengan efisiensi maupun pemangkasan biaya pendidikan yang terjadi beberapa kali, memberikan risiko kenaikan biaya. Kampus negeri dipaksa mencari dana secara mandiri sehingga menyebabkan adanya kebijakan seperti diperbesarnya kuota mandiri pada perguruan tinggi negeri tahun 2024 sebanyak maksimal 50% dari kursi yang disediakan. Selain faktor dari perguruan tinggi, faktor luar terutama dari influencer investasi atau mata uang digital juga turut menjadi pemantik opini ini. Tawaran manis untuk menjadi jutawan bahkan miliarder dalam beberapa tahun saja, membuat sebagian orang mempertanyakan apa gunanya kuliah jika bisa hidup nyaman dengan cepat tanpa perlu bersusah?

Anggapan Umum Mengenai Perkuliahan

Mayoritas masyarakat menganggap kuliah sebagai jalan untuk mempermudah mencari pekerjaan semata melalui gelar yang didapatkan di akhir. Padahal, kuliah memberikan berbagai privilege yang tidak bisa didapatkan di sembarang tempat dan lebih berharga daripada sekedar gelar nama, contohnya seperti pengalaman organisasi atau praktik lapangan langsung yang didukung langsung dengan para ahli seperti dosen. Selain itu, kuliah juga menjadi tempat dimana individu masih boleh gagal, tidak seperti dunia kerja yang lebih keras terhadap adanya kesalahan atau kegagalan.

Kembali kepada opini kuliah adalah scam. Opini ini bagaikan pukulan keras kepada instansi dan pengelolaan pendidikan Indonesia. Bagaimana bisa hal pokok seperti pendidikan dianggap sebuah investasi bodong? Sudah sesulit apa akses pendidikan di negeri kita sehingga ada kelompok yang enggan mengemban pendidikan? Selain pada instansi pendidikan, opini ini juga seharusnya dipikirkan dengan baik oleh mahasiswa aktif, apakah selama ini mereka sudah memanfaatkan kesempatan yang didapatkan sepenuh hati?

Oleh : Muhammad Alif Azfa Hasani (Universitas Brawijaya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top