Author name: admin

Uncategorized

“Gagasan Manusia Indonesia dan Politik Kewargaan Indonesia Kontemporer, serta lunturnya identitas Nasional akibat Pengaruh Media Sosial”

Pada masa kolonial Belanda, pribumi Indonesia tidak sekadar diperlakukan sebagai warga kelas dua, melainkan secara terang-terangan dianggap bukan manusia beradab. Istilah menghina seperti “Inlander” dan perumpamaan Rasis “Monyet” kerap digunakan dalam literatur, surat kabar, dan dokumen resmi kolonial untuk menggambarkan orang Indonesia sebagai makhluk malas, bodoh, primitif, dan tak mampu menjangkau pemikiran modern.

Artikel/Opini

Urgensi Industri Kreatif Pengrajin Topeng Malangan: Antara Menjaga Tradisi Dan Tantangan Komersialisasi

Industri kreatif pengrajin Topeng Malangan memiliki peran penting dalam melestarikan budaya Malang karena setiap topeng mengandung nilai sejarah, filosofi, dan identitas lokal. Mulai dari ciri khas bentuk, warna, dan simbol pada topeng membuatnya berbeda dari seni topeng daerah lain. Namun, keberlanjutan industri ini menghadapi beberapa tantangan besar di era modern. Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh para Seniman Topeng Malangan yaitu proses pembuatan topeng masih dikerjakan secara manual oleh pengrajin ahli dan membutuhkan waktu hingga satu minggu untuk satu topeng. Hal ini membuat produksi terbatas sementara permintaan terus meningkat terutama dari wisatawan dan kolektor. Pendapatan pengrajin yang rendah juga menyebabkan generasi muda enggan meneruskan keahlian ini sehingga jumlah pengrajin semakin berkurang.

Artikel/Opini

KETIKA LANGIT TURUT MEMILIH: PULUNG DAN JEJAK SPIRITUALITAS POLITIK JAWA

Demokrasi modern sering dipahami sebagai sistem yang bertumpu pada rasionalitas, aturan hukum, dan partisipasi terbuka. Namun, di banyak komunitas tradisional, termasuk masyarakat Jawa, politik tidak pernah sepenuhnya terpisah dari dimensi spiritual. Di Desa Kramat, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, keyakinan terhadap pulung cahaya biru kehijauan yang tampak di langit tetap hidup sebagai simbol restu kosmis bagi calon pemimpin. Bagi masyarakat urban, tradisi ini mungkin terlihat usang, tetapi bagi warga setempat, pulung dianggap sebagai tanda dari alam dan leluhur bahwa seseorang memang ditakdirkan untuk memimpin. Setiap menjelang pemilihan kepala desa, sebagian warga masih memperhatikan apakah pulung muncul dan menuju rumah calon pemimpin berikutnya. Kepercayaan seperti ini bukan sekadar mitos, melainkan representasi nyata dari antropologi politik yang telah mengakar selama berabad-abad. Ia memperlihatkan bagaimana masyarakat memahami kekuasaan melalui struktur simbolik yang memadukan spiritualitas, budaya, dan legitimasi sosial.

Scroll to Top