“Bahasa Walikan dan Ngalam Culture: Menjaga Identitas Lokal di Era Digital”
Di era globalisasi dan perkembangan teknologi digital, pola komunikasi masyarakat mengalami perubahan yang signifikan. Media sosial mendorong munculnya berbagai istilah baru yang banyak digunakan oleh generasi muda, sehingga penggunaan bahasa daerah mulai berkurang. Padahal, bahasa daerah tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya yang mencerminkan sejarah, nilai sosial, dan karakter suatu masyarakat. Oleh karena itu, berkurangnya penggunaan bahasa daerah dapat berdampak pada memudarnya identitas budaya lokal.
Kota Malang menjadi salah satu daerah yang memiliki identitas budaya unik dalam segi bahasanya. Melalui bahasa walikan atau yang dikenal juga dengan istilah “osob kiwalan”. Bahasa walikan merupakan bentuk bahasa khas yang terbentuk melalui pembalikan susunan kata dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Kata “Malang” misalnya diubah menjadi “Ngalam”, sedangkan “mobil” menjadi “libom”. Keunikan tersebut membuat bahasa walikan tidak mudah ditemukan di daerah lain sehingga menjadi ciri khas yang sangat melekat pada masyarakat Malang. Bahkan, banyak masyarakat luar daerah yang langsung mengingat Kota Malang ketika mendengar istilah “Ngalam”. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa walikan bukan sekadar bahasa gaul, melainkan telah menjadi simbol identitas budaya masyarakat Malang (Saddhono, 2016).




