Pernahkah kamu melihat kerja bakti yang ramai, tapi terasa sepi? Warga datang, cangkul dibawa, tapi percakapan hanya basa-basi dan begitu selesai, semua langsung pulang tanpa banyak bicara. Di Kota Malang, gotong royong memang belum hilang. Tapi ada pertanyaan yang perlu kita jawab: apakah kita masih hadir karena peduli, atau sekadar agar tidak dicap tidak peduli?
Kenyataannya, di Kota Malang tradisi gotong royong sebenarnya masih dapat ditemukan di berbagai lingkungan masyarakat. Warga masih ikut kerja bakti, membersihkan selokan, memperbaiki fasilitas kampung, atau membantu tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Kehadiran gotong royong dianggap penting karena mampu menjaga hubungan sosial antarwarga agar tetap akrab dan harmonis. Lingkungan perkotaan yang padat membuat masyarakat merasa perlu saling membantu agar suasana kampung tetap aman, nyaman, dan rukun (Wawancara Warga Daerah Kec Kedungkandang Kota Malang, 2026). Namun tidak semua kehadiran datang dari kesadaran penuh. Bahkan dalam beberapa lingkungan, warga tetap datang mengikuti kerja bakti meskipun hanya sekadar “absen muka” agar tidak dianggap tidak peduli terhadap lingkungan sekitar.
Pergeseran Budaya Gotong Royong di Era Modern
Perubahan zaman membuat praktik gotong royong mengalami banyak pergeseran. Kehidupan modern yang serba cepat menyebabkan masyarakat semakin sibuk dengan pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas pribadi. Anak muda terutama mahasiswa dinilai mulai jarang terlibat dalam kegiatan lingkungan. Kesibukan sekolah, kuliah, organisasi, maupun aktivitas digital membuat mereka lebih sering berada di dalam rumah dibanding berinteraksi dengan masyarakat sekitar (Wawancara Zhafira Sebagai Warga Setempat Daerah Kec Kedungkandang Kota Malang , 2026). Kondisi ini terlihat jelas di lingkungan kost-kostan di Malang, di mana gotong royong hanya dilakukan ketika ada acara besar seperti Agustusan, itupun dengan jumlah peserta yang tidak banyak. Banyak penghuni kost lebih memilih menjalankan aktivitas pribadi dan kurang memiliki rasa keterikatan dengan lingkungan tempat tinggalnya (Wawancara Pak Amin Sebagai RT Daerah Kost Kertosari, 2026).
Fakta tersebut menunjukkan bahwa semangat kolektivitas masyarakat mulai berubah menuju pola hidup yang lebih individualis. Globalisasi, urbanisasi, dan perkembangan teknologi digital menjadi faktor yang mendorong perubahan tersebut. Kehidupan kota yang beraneka ragam membuat hubungan antarwarga tidak sedekat masyarakat desa. Interaksi sosial perlahan bergeser dari tatap muka menjadi komunikasi melalui media sosial atau grup WhatsApp. Dampaknya, hubungan sosial menjadi lebih longgar dan partisipasi dalam kegiatan kolektif mengalami penurunan (Rifaldi et al., 2025).
Perubahan ini juga dipengaruhi oleh berkembangnya budaya modern yang menekankan produktivitas individu dan efisiensi. Banyak masyarakat menganggap kegiatan gotong royong membutuhkan waktu yang cukup besar sehingga kurang cocok dengan gaya hidup modern yang sibuk. Anak muda saat ini juga lebih tertarik pada aktivitas digital seperti bermain media sosial, game, atau hiburan online dibanding mengikuti kegiatan kampung (Ma’ali et al., 2026).
Walaupun demikian, nilai gotong royong sebenarnya belum hilang sepenuhnya. Masyarakat masih menunjukkan solidaritas ketika terjadi musibah, bencana, atau kegiatan besar kampung. Warga tetap saling membantu dalam pemakaman, penggalangan dana, hingga membersihkan rumah warga yang terkena banjir atau angin kencang (Wawancara Warga Daerah Kec Kedungkandang Kota Malang, 2026). Hal ini membuktikan bahwa semangat kebersamaan masih hidup, hanya bentuk praktiknya yang mulai berubah mengikuti perkembangan zaman.
Transformasi Gotong Royong dalam Ruang Digital
Perubahan bentuk gotong royong terlihat jelas di era digital saat ini. Jika dahulu gotong royong identik dengan kerja fisik bersama di lingkungan sekitar, sekarang nilai tersebut mulai hadir melalui ruang digital. Penggalangan dana online, kampanye sosial melalui media sosial, hingga komunitas relawan daring menjadi bentuk baru solidaritas masyarakat modern (Safitri et al., 2025). Kehadiran platform digital membuat masyarakat dapat saling membantu tanpa harus berada di tempat yang sama. Solidaritas kini tidak lagi bergantung pada kedekatan geografis, tetapi pada kesamaan tujuan dan rasa empati.
Generasi muda memiliki peran utama dalam perubahan bentuk gotong royong ini. Pemuda tidak hanya menjadi penerus nilai tradisional, tetapi juga aktor yang melestarikan gotong royong agar tetap relevan dengan kondisi zaman. Banyak anak muda memanfaatkan media sosial untuk menggalang bantuan sosial, mengadakan aksi kemanusiaan, hingga membentuk komunitas relawan digital. Hal ini menunjukkan bahwa gotong royong bukan budaya yang hilang, melainkan budaya yang sedang beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan sosial (Zebua et al., 2025).
Selain itu, pendidikan juga memiliki peran dalam menjaga nilai gotong royong di tengah modernisasi. Penanaman nilai kebersamaan, empati, dan kepedulian sosial perlu diperkuat sejak dini melalui lingkungan sekolah maupun keluarga. Kegiatan sosial seperti kerja bakti sekolah, proyek kolaboratif, dan kegiatan kemasyarakatan dapat membantu generasi muda memahami perlunya hidup bersama dalam masyarakat (Ma’ali et al., 2026).
Gotong royong di Kota Malang sedang tidak mati, tetapi sedang bernegosiasi dengan zaman. Donasi online dan relawan digital membuktikan bahwa kepedulian bisa mengambil banyak bentuk. Namun di tengah semua perubahan itu, ada satu hal yang tidak bisa digantikan teknologi maupun tren, yaitu ketulusan sebagai alasan kenapa kita mau melakukannya. Selama kita masih memilih hadir karena takut dihakimi, bukan karena benar-benar peduli, maka gotong royong hanya akan menjadi tradisi yang tampak hidup tapi kosong di dalamnya.
Daftar Referensi
Ma’ali, M. S., Qolbi, N., & Rohman, M. T. (2026). PENELITIAN TINDAKAN SOSIAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL: MENJAGA NILAI GOTONG ROYONG DI ERA MODERN. Jurnal Penelitian Dan Pendidikan Agama Islam, 3(2), 56–72.
Rifaldi, M. N., Hidayatissalam, A. S., & Turnip, K. D. (2025). Lunturnya Nilai Gotong Royong Di Era Globalisasi. Nusantara: Jurnal Pendidikan, Seni, Sains Dan Sosial Humaniora, 2(September), 1–17. https://journal.forikami.com/index.php/nusantara/article/download/842/576
Safitri, D., Belinda, A., Azwa, R., & Tilawati, R. (2025). Gotong Royong di Era Digital : Narasi Transformasi Kolektif dalam Perspektif Postmodern. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, Ilmu-Ilmu Sosial, Dan Hukum (SENPISHUM), 1–15.
Zebua, F., Zahra, N. K., Malik, R., Sitompul, M. A. Y., & Habibi, A. (2025). Melawan Sunyi Sosial : Pemuda Dalam Revitalisasi Gotong Royong di Era Pembangunan. Iman Dan Aksi: Generasi Muda Menjawab Problematika Zaman, 81–92.
Oleh : Zahwa Sausan (Universitas Brawijaya)




