Karikatur ini berakar dari ironi tajam antara janji-janji luhur yang disampaikan dalam konferensi pers resmi para pejabat di Kota Malang mengenai ketersediaan dan subsidi pupuk, dengan realitas yang dialami petani di lapangan yang semestinya diselesaikan melalui Rembuk Tani (musyawarah petani). Semangat Rembuk Tani yang idealnya melibatkan dialog terbuka, gotong royong, dan pencarian solusi yang berorientasi langsung pada kebutuhan lahan, dikhianati oleh kebijakan yang hanya “tumbuh subur di meja rapat” (seperti janji di konferensi pers), namun mati sebelum menyentuh akar masalah riil yang hanya bisa dipahami melalui kearifan lokal musyawarah para petani itu sendiri.

Karikatur ini juga dibuka dengan ilustrasi “Rapat Memakmurkan Petani” yang menunjukkan sekelompok pejabat berjas di belakang meja. Mereka menyampaikan retorika manis dan janji-janji muluk, seperti “Kita tidak boleh membebani para petani!” dan “Petani harus jaya!”, diakhiri dengan seruan “Hidup Petani!”. Adegan ini menggambarkan optimisme dan komitmen yang diucapkan di tingkat birokrasi, namun belum teruji implementasinya di lapangan.

Kontras dengan janji di ruang rapat, adegan berikutnya menampilkan seorang petani yang marah dan frustrasi saat “Gagal Panen.” Petani itu berteriak dengan penuh emosi, “Teriak ‘makmur’ tapi programnya nggak jalan…,” sambil menunjuk ke arah gedung-gedung yang tampak mewah. Panel ini secara tajam mengkritik kesenjangan antara kebijakan yang disusun di pusat kekuasaan dengan realitas pahit yang dialami petani, di mana program yang digembor-gemborkan ternyata “BERISIK” dan tidak efektif dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.

Frustrasi ini memicu aksi protes. Panel selanjutnya menunjukkan “DEMO PETANI” dengan spanduk bertuliskan “#Tuntut Hak Petani.” Petani menuntut realisasi janji, mengeluhkan bahwa “Programnya tumbuh subur di meja rapat, tapi mati layu sebelum masuk ke ladang kami.” Kritik ini menegaskan bahwa masalah utama bukan pada perencanaan, melainkan pada eksekusi dan korupsi yang terlihat dari bisikan “Setelah ada demo, pengerukutan meningkat lho uangnya” oleh oknum pejabat, bahkan setelah adanya program “SUBSIDI KEPADA PETANI.”

Puncaknya, karikatur ditutup dengan adegan “PANEN MELIMPAH.” Petani tersenyum lebar dan bahagia, sambil berseru, “NAH GINI DONG ADA HASILNYA.” Kesuksesan ini menyiratkan bahwa kemakmuran petani bukan dicapai melalui pidato atau janji kosong, melainkan melalui intervensi nyata, seperti pemberian “pupuk organik” dan “subsidi” yang dikelola dengan jujur, langsung, dan tepat sasaran hingga mencapai lahan mereka. Keberhasilan ini adalah representasi dari kebijakan yang efektif dan berdampak langsung pada kehidupan petani.

Ratu Nooreena Allamanda, Alyanda Putri Saksono, Nur Fatihah Ainiyah, Ryata Mulia Isyana, Chantika Rheyna Ansyah Arifin 

Universitas Brawijaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top