Angkutan kota atau yang lebih dikenal dengan sebutan angkot merupakan salah satu ikon transportasi publik di Kota Malang. Kehadirannya telah menjadi bagian penting dalam mobilitas masyarakat, khususnya untuk rute-rute dalam kota yang tidak dijangkau moda transportasi lain. Ciri khas kendaraan berukuran kecil dan warna-warna tertentu sesuai trayek, angkot di Malang tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga mencerminkan budaya dan dinamika kehidupan kota. Transportasi kota ini, tetap memainkan peran sentral dalam memenuhi kebutuhan perjalanan harian warga Malang.
Pada zaman sekarang, kondisi angkutan kota di kota Malang menghadapi permasalahan serius seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Jumlah pengguna angkot mengalami penurunan seiring dengan perubahan minat masyarakat terhadap penggunaan ttransportasi yang lebih cepat dan nyaman. Akibatnya, sejumlah trayek angkot mengalami pengurangan dan membuat eksistensi angkot seolah berada dalam keadaan “mati suri”, di mana keberadaannya masih ada namun perannya semakin terpinggirkan dalam sistem transportasi kota.
Angkutan kota menjadi fokus perhatian dalam kaitannya dengan kebutuhan transportasi untuk penanggulangan kemacetan di Kota Malang. Kelebihan yang dimiliki oleh transportasi publik ini yaitu harga relatif terjangkau, angkot seharusnya berperan dalam mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Penurunan minat terhadap angkot justru berpotensi memperparah kemacetan, sehingga perlu ada upaya serius untuk merevitalisasi atau menyesuaikan peran angkot dalam sistem transportasi kota yang lebih efisien.
Fenomena penurunan eksistensi angkot ini di latar belakangi oleh pola mobilitas yang kian berubah. Angkutan kota (angkot) pernah menjadi moda transportasi utama yang menghubungkan berbagai wilayah di Kota Malang. Keberadaannya sangat membantu mobilitas masyarakat sehari-hari, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, angkot mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan. Jumlah armada dan trayek yang beroperasi semakin berkurang, bahkan beberapa trayek yang dulu ramai kini nyaris tidak berfungsi, seolah angkot mengalami kondisi “mati suri”.
Perubahan pola mobilitas masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan penggunaan angkot. Kehadiran transportasi daring seperti ojek dan taksi online menawarkan kemudahan dan kenyamanan yang sulit disaingi oleh angkot konvensional. Selain itu, peningkatan jumlah kendaraan pribadi di Malang turut mengurangi ketergantungan masyarakat pada angkutan umum. Pandemi Covid-19 juga memberikan dampak yang cukup besar, mengingat pembatasan sosial dan kekhawatiran terhadap penularan virus membuat jumlah penumpang angkot menurun drastis.
Dampak dari penurunan ini sangat dirasakan oleh para sopir dan pemilik armada angkot yang pendapatannya menurun tajam. Banyak sopir yang terpaksa mencari pekerjaan lain atau bahkan berhenti beroperasi. Selain itu, fasilitas pendukung angkot seperti halte dan rute angkot yang tidak terawat semakin memperburuk kondisi, sehingga semakin sedikit masyarakat yang
memilih angkot sebagai moda transportasi. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi angkot di Kota Malang saat ini.
Selain dampak diatas tentunya juga berdampak pada sektor sosial dan ekonomi. Dulunya, angkutan umum menjadi sarana utama untuk mobilitas masyarakat. Namun, dengan munculnya ojol dengan kemudahan akses, kecepatan layanan, dan praktis membuat masyarakat beralih. Tak sekadar soal itu, kehadiran ojol juga mengubah pola interaksi sosial masyarakat. Penumpang kini lebih individualis, tak lagi berbagi ruang dan cerita dengan sesama penumpang angkutan umum. Di sisi lain, pengemudi ojol membentuk komunitas baru, namun hubungan mereka dengan penumpang cenderung hanya sebatas transaksional dan singkat.
Di bidang ekonomi, ojol membuka peluang kerja yang luas bagi masyarakat, terutama mereka yang kesulitan mendapat pekerjaan. Banyak orang yang sebelumnya menganggur atau bekerja serabutan kini bisa memperoleh penghasilan tetap sebagai driver ojol. Namun, keberhasilan ojol membawa konsekuensi pahit bagi sektor angkutan umum konvensional. Pendapatan sopir angkutan umum menurun drastis, jumlah armada berkurang dengan sendirinya yang diakibatkan sepinya penumpang, dan banyak pengemudi terancam kehilangan pekerjaan. Tidak sedikit yang akhirnya beralih profesi. Persaingan antar driver ojol sendiri juga semakin ketat, sehingga tidak semua menikmati peningkatan pendapatan secara merata.
Fenomena ditinggalkannya angkutan umum demi ojol adalah gambaran nyata perubahan sosial ekonomi akibat kemajuan teknologi dan minimnya inovasi bagi transportasi umum khususnya angkutan umum yang ada di Kota Malang. Di satu sisi, ojol menjadi solusi mobilitas yang efisien dan membuka lapangan kerja baru. Namun di sisi lain, ia menimbulkan ketimpangan dan mengancam keberlanjutan transportasi umum serta kesejahteraan.
Pemerintah Kota Malang dan masyarakat perlu mencari titik keseimbangan agar transformasi ini tidak meninggalkan ketimpangan marginal. Melalui penguatan regulasi, perlindungan sosial bagi pekerja transportasi, dan revitalisasi angkutan umum menjadi agenda krusial agar mobilitas masyarakat tetap inklusif dan berkelanjutan di tengah arus perubahan zaman. Pemerintah Kota Malang perlu mengadopsi sistem – sistem yang diterapkan kota – kota besar lain yang ada di Indonesia mengenai pengelolaan Transportasi umum. Seperti contoh Kota Surabaya yang berhasil menciptakan sistem transportasi umum yang berkelanjutan yang mudah di akses, cepat layanannya, dan praktis membuat masyarakat antusias untuk menggunakan. Dalam operasionalnya mereka menggunakan Suroboyo bus dan wira wiri surabaya yang tarifnya terjangkau dan menggunakan transportasi ramah lingkungan.
Inilah paradoks modernitas, di satu sisi memudahkan, di sisi lain mengikis pola interaksi manusiawi yang dulu menjadi ruh transportasi publik. Angkot bukan sekadar kendaraan, melainkan ruang sosial yang hidup. Sementara ojol, meski efisien, pada akhirnya hanyalah mesin transportasi digital yang mengantar kita ke titik tujuan.
Disamping itu, Tantangan dan kendala tentunya banyak yang sedang dihadapi oleh para pekerja angkutan kota akibat dari pola konsumsi masyarakat yang cenderung beralih ke online. Tantangan dan kendala angkot yang pertama sepinya penumpang karena beralih ke kendaraan pribadi dan ojek online (ojol) yang dapat berpengaruh pada penghasilan dan keberlangsungan pekerja angkutan kota (angkot). Angkutan Kota saat ini mengalami kemunduran terutama di daerah malang kota yang dikenal dengan kota pendidikan serta mahasiswa yang tinggal jarang dan hampir tidak pernah berkendara dengan angkot. Kemudahan memanfaatkan teknologi
menjadi sumber transportasi sehingga menciptakan ojek online yang sangat dimanfaatkan oleh para generasi muda seperti pelajar atau mahasiswa. Karena generasi muda saat ini lebih suka dengan teknologi maka lebih sering menggunakan ojol daripada angkot. Angkutan Kota dimanfaatkan oleh para orang-orang tua yang tidak paham dengan teknologi atau gaptek.
Kemudian angkutan kota juga harus bersaing dengan ojek online, hal ini menjadi tantangan terberat bagi angkot karena ojol dinilai lebih efisiensi, cepat dan terjangkau daripada angkot. Sistem ojol dan angkot sangat berbeda, yang paling mendasari adalah pemanfaatan teknologi sebagai sumber mendapatkan penumpang. Ojol memanfaatkan teknologi mulai dari memesan, membayar hingga memberikan penilaian yang membuat ojol lebih terpadu dalam persebarannya. Meskipun ojol ada banyak akan diatur oleh sistem aplikasi untuk membaginya. Sedangkan Angkutan Kota atau angkot masih menerapkan cara kuno dalam mendapatkan penumpang yakni dengan berjalan melewati rute yang sudah tercantum di depan kacanya. Angkot tidak mesti dalam mendapatkan penumpang, apabila dalam rute yang dilewatinya sepi/tidak ada yang akan naik angkot maka hanya penumpang kosong dengan pengeluaran solar dan apabila ramai maka akan mendapatkan banyak penghasilan. Jadi tantangan ini berpengaruh besar terhadap eksistensi angkot.
Persaingan ojek online dan angkutan umum dalam memperoleh penumpang menentukan penghasilan masing-masing. Disamping itu, Angkutan umum juga menjadi salah satu transportasi yang sudah tua sehingga dalam fasilitas memang tertinggal dari transportasi modern seperti ojek online yang menyebabkan masyarakat lebih nyaman menggunakan transportasi ojek online. Fasilitas yang diberikan oleh ojol lebih baik daripada angkot seperti kecepatan dalam berlaju, kenyamanan saat duduk, keamanan saat berkendara serta bisa kemanapun tanpa mengikuti rute. Sehingga fasilitas yang diberikan oleh ojek online tersebut menyebabkan pergeseran yang awalnya orang-orang apabila bepergian menggunakan angkot, saat ini bergeser ke ojek online terutama para generasi muda yang sudah melek teknologi.
Angkutan Kota bukan hanya satu atau dua orang akan tetapi melibatkan banyak orang yang berprofesi sebagai sopir angkutan Kota. Sehingga perlu adanya solusi untuk menyelamatkan eksistensi angkot supaya para sopir tetap membawa pulang uang untuk memenuhi kehidupannya. Solusi dapat dilaksanakan oleh pemerintah, warga, serta para pekerja yang salah satunya yakni :
1. Pentingnya perbaikan layanan, fasilitas, dan integrasi sistem transportasi
Layanan dan fasilitas menjadi salah satu faktor yang menyebabkan ketertarikan konsumen untuk menikmati, membeli atau menggunakannya. Apabila layanan dan fasilitas semakin baik maka seseorang akan semakin tertarik dan nyaman dalam menggunakannya. Perlu adanya perbaikan layanan dan fasilitas bagi angkutan kota untuk memberikan rasa nyaman terhadap konsumen sehingga angkutan kota akan dipilih menjadi armada untuk sampai ke titik tujuan. Perbaikan layanan dan fasilitas bisa berupa peningkatan sikap sopir terhadap penumpang, penambahan alat untuk alasan keamanan serta dapat menambahkan alat untuk alasan kenyamanan. Dan integrasi sistem transportasi pada angkutan kota dapat diterapkan melalui teknologi misalnya memanfaatkan GPS untuk melacak rute angkot serta penentuan jam berjalan supaya orang yang akan menaiki dapat merencanakan atau persiapan terlebih dahulu seperti pada sistem transportasi kereta. Angkutan Kota apabila dapat memberikan kepastian terkait keberangkatan hingga rutenya, maka akan menambah keyakinan seseorang
dalam menaiki angkot karena dapat memberikan kepastian sampainya. Misalnya angkot A melaju dari gadang ke landungsari pada jam 8:15-8:30 dan kembali 8:45-9:00 Wib.
2. Subsidi dan insentif bagi sopir serta pemilik armada untuk menjaga keberlanjutan angkot
Dalam melaksanakan pembaruan dari sistem operasi angkot perlu dukungan dari pemerintah setempat misalnya pemberian intensif, pemberian dukungan melalui peraturan serta dapat melalui event-event yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk mendukung eksistensi angkutan kota tersebut. Pemberian subsidi dan insentif tidak hanya berupa uang, akan tetapi dapat berupa solar atau barang lainnya yang bermanfaat bagi sopir sendiri misalnya subsidi solar kepada sopir angkot 50% atau lainnya. Dengan begitu angkot akan tetap berjalan serta orang-orang akan menggunakan angkot karena pasti murah apabila bahan modalnya lebih murah.
3. Kolaborasi dengan swasta dan pemanfaatan CSR untuk perbaikan fasilitas dan promosi
Kolaborasi dengan swasta dapat membantu meningkatkan kualitas fasilitas yang ada, seperti infrastruktur, sarana, dan prasarana dari angkutan kota. Apabila kualitas fasilitas meningkat maka akan menarik pandangan dari konsumen atau penumpang. Dan dengan bantuan swasta, promosi dapat dilakukan lebih efektif dan efisien, sehingga meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat. Promosi yang efektif akan tersebar dan tersampaikan secara luas kepada masyarakat selaku konsumen sehingga promosi yang tersampaikan dapat memberikan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan angkutan kota. Kolaborasi dengan swasta ini dapat membantu menciptakan pengembangan yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat maupun transportasi angkutan kota.
Pemanfaatan CSR juga dapat digunakan sebagai sumber dana untuk perbaikan fasilitas dan promosi. CSR dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar dengan memperbaiki fasilitas dan meningkatkan kesadaran dari masyarakat. Kolaborasi dengan swasta dan pemanfaatan CSR dapat meningkatkan citra perusahaan dan masyarakat sekitar.
4. Kampanye masif untuk mengubah mindset masyarakat agar kembali menggunakan angkutan kota
Apabila dibandingkan dengan ojek online, angkot sebenarnya lebih murah dengan jarak tempuh lebih jauh daripada ojek online. Akan tetapi ojek online memang lebih baik dalam waktu, estimasi dan fasilitas. Sehingga perlu adanya kampanye yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa angkutan kota sebenarnya transportasi yang tepat untuk dijadikan pilihan. Di dalam angkot bukan hanya sekedar dari titik awal ke titik tujuan, akan tetapi di dalam angkot terdapat unsur sosial yang dapat mempererat dan juga menambah relasi antar masyarakat dengan melakukan interaksi sosial didalam angkot tersebut.




