“Kemajuan atau Kemunduran? Saat IPTEK Lepasdari Nilai-Nilai Pancasila”
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia saat ini seperti pedang bermata dua yang memisahkan realitas sosial kita.
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia saat ini seperti pedang bermata dua yang memisahkan realitas sosial kita.
Pendidikan tinggi sering kali diagungkan sebagai pusat keilmuan sekaligus benteng terakhir penjaga moralitas bangsa, di mana idealisme tentang manusia yang “beradab” didengungkan sebagai jati diri utama.
Beberapa waktu lalu, nama Harvey Moeis mendadak menjadi buah bibir di mana-mana. Bukan karena prestasi, bukan karena inovasi, melainkan karena sebuah angka yang sulit dicerna akal sehat: Rp300 triliun
Dunia pendidikan tinggi di Indonesia tengah disorot akibat maraknya kasus pelanggaran etika di lingkungan kampus. Padahal, kampus seharusnya menjadi ruang yang menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan, dan prinsip Pancasila.
Konstelasi kehidupan beragama di Indonesia sering kali terjebak dalam pusaran standarisasi administratif yang bersifat kaku dan mekanistis.
Beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia dihadapkan pada berbagai persoalan sosial yang menunjukkan semakin besarnya tantangan terhadap penerapan nilai-nilai Pancasila.
Fujoshi adalah istilah dari Jepang yang merujuk pada perempuan penggemar karya bertema hubungan romantis antar laki-laki atau Boys’ Love (BL)
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia saat ini ibarat arus sungai yang mengalir deras membawa manfaat besar, namun juga menyimpan potensi bahaya jika tidak diarahkan dengan baik.
Kebutuhan energi di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, aktivitas industri, transportasi, dan pembangunan ekonomi.
Raden Ajeng Kartini merupakan pelopor yang melawan tradisi demi pendidikan dan pembebasan. Namun, saat ini, narasi kemajuan tersebut seolah terhenti pada keberhasilan sekelompok perempuan di puncak karier.