“Awal Mula Bahasa Melayu Kuno di Jawa”

Bahasa Melayu Kuno selama ini lebih sering dikaitkan dengan pusat kekuasaan Sriwijaya di Sumatra. Namun, temuan beberapa prasasti di Pulau Jawa menunjukkan bahwa bahasa tersebut juga digunakan di luar wilayah asalnya. Fakta ini menimbulkan pertanyaan penting: sejak kapan dan melalui proses apa bahasa Melayu Kuno hadir di Jawa? Hal ini penting untuk memahami bagaimana bahasa Melayu Kuno menyebar dan berperan dalam jaringan interaksi antardaerah di Asia Tenggara. Salah satu temuan yang sering disebut sebagai prasasti Melayu Kuno tertua di Jawa adalah Prasasti Sojomerto (Boechari, 1966). Prasasti ini ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dan ditulis dengan aksara Pallawa. Berdasarkan analisis paleografi, prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi (Boechari 1966; Darmosoetopo 2003). Tulisan ini berpendapat bahwa keberadaan bahasa Melayu Kuno di Jawa sejak abad ke-7 Masehi dapat dibuktikan melalui data paleografis, kebahasaan, dan konteks interaksi politik-budaya abad ke-7 M, yang salah satu buktinya tercermin dalam Prasasti Sojomerto. Dengan demikian, kehadiran bahasa Melayu Kuno di Jawa menunjukkan bagaimana bahasa tersebut menyebar melalui interaksi regional, bukan sekadar akibat ekspansi politik.

Salah satu alasan utama yang menunjukkan bahwa bahasa Melayu Kuno telah digunakan di Jawa sejak abad ke-7 Masehi adalah hasil analisis paleografi terhadap Prasasti Sojomerto. Boechari (1966) menyimpulkan bahwa bentuk aksara pada Prasasti Sojomerto menunjukkan ciri abad ke-7 Masehi dan termasuk periode awal perkembangan aksara di Jawa. Pendapat ini diperkuat oleh Darmosoetopo (2003) yang menyatakan bahwa prasasti tersebut menggunakan aksara Pallawa tipe muda yang berasal dari akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 Masehi. Penanggalan ini penting karena menunjukkan bahwa bahasa Melayu Kuno telah hadir di Jawa sebelum berkembangnya prasasti-prasasti berbahasa Jawa Kuno. Selain dari segi kronologi, ciri kebahasaan Prasasti Sojomerto juga memperkuat argumen tersebut. Struktur kalimat, bentuk morfologi atau pola pembentukan kata, dan sistem ejaannya masih sangat dekat dengan tradisi prasasti Melayu Kuno dari Sriwijaya, sementara pengaruh bahasa Jawa Kuno hampir tidak terlihat. Perubahan yang ada lebih bersifat fonologis, yakni pada perbedaan bunyi atau pelafalan, dan tidak sampai mengubah makna (Kartakusuma, 1999). Kondisi ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu Kuno dalam prasasti tersebut belum mengalami proses penyesuaian yang kuat dengan bahasa lokal, sehingga penggunaannya dapat dipahami sebagai tahap awal penyebaran bahasa Melayu Kuno di Jawa.

Penggunaan bahasa Melayu Kuno di Jawa tidak berhenti pada abad ke-7 Masehi, melainkan berlangsung dalam rentang abad ke-7 hingga abad ke-10 Masehi berdasarkan data prasasti-prasasti berbahasa Melayu Kuno di Pulau Jawa (Kartakusuma, 1999). Keberadaan Prasasti Sojomerto juga tidak dapat dilepaskan dari pola persebaran prasasti Melayu Kuno di wilayah pesisir. Edi Sedyawati menjelaskan bahwa prasasti Melayu Kuno di Jawa umumnya ditemukan di kawasan pesisir sebelum berkembang ke pedalaman (Sedyawati, 1986 dalam Kartakusuma, 1999). Lokasi Sojomerto di wilayah Batang yang berada di pesisir pantai memperkuat pola tersebut. Darmosoetopo (1998) menunjukkan bahwa persebaran prasasti Melayu Kuno mencakup wilayah Dieng, Prambanan, Pekalongan, dan Batang, sehingga memperlihatkan bahwa penggunaan bahasa Melayu Kuno di Jawa merupakan bagian dari jaringan budaya yang lebih luas. Pada masa itu, bahasa Melayu Kuno juga berfungsi sebagai lingua franca atau bahasa penghubung dalam aktivitas perdagangan dan komunikasi di Asia Tenggara. Soedewo (2007) menegaskan bahwa kemunculan bahasa Melayu Kuno di Jawa berkaitan erat dengan dinamika hubungan politik, ekonomi, dan keagamaan pada masa Hindu-Buddha. Dengan demikian, keberadaan bahasa Melayu Kuno di Jawa lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi budaya dan integrasi antardaerah, bukan semata-mata akibat ekspansi politik Sriwijaya (Darmosoetopo, 1998). Dari sisi sosial-politik, penyebutan tokoh Dapunta Selendra dalam Prasasti Sojomerto yang oleh sebagian peneliti dikaitkan dengan cikal bakal Wangsa Sailendra (Maziyah, 2012) menunjukkan adanya struktur kekuasaan yang berkembang di Jawa Tengah pada abad ke-7 Masehi. Berdasarkan kajian Boechari (1966), prasasti ini bukan sekadar artefak epigrafis, melainkan sumber penting untuk merekonstruksi sejarah awal Jawa Tengah.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa Melayu Kuno telah digunakan di Jawa sejak abad ke-7 Masehi sebagaimana dibuktikan melalui analisis paleografi dan ciri kebahasaan Prasasti Sojomerto. Penggunaannya berlangsung dalam rentang abad ke-7 hingga abad ke-10 Masehi dan tersebar di berbagai wilayah Jawa, terutama kawasan pesisir, serta berkaitan dengan dinamika politik, ekonomi, dan keagamaan pada masa Hindu-Buddha. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan bahasa Melayu Kuno dalam tradisi prasasti resmi di Jawa mengalami peralihan seiring berkembangnya kekuasaan dan identitas politik lokal, yang kemudian lebih banyak menggunakan bahasa Jawa Kuno. Dengan demikian, perubahan tersebut menunjukkan adanya dinamika bahasa dalam konteks sejarah awal Jawa.

Daftar Rujukan

Boechari. 1966. Preliminary Report on the Discovery of an Old-Malay Inscription at Sodjomerto. Madjalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia (MISI), Jilid III, No. 2 & 3, Jakarta: Jajasan Penerbitan Karja Sastra, Ikatan Sardjana Sastra Indonesia, hlm. 241–251.

Darmosoetopo, R. 1998. Keberadaan Bahasa Melayu-Kuno Abad VII–IX C di Jawa. Berkala Arkeologi, 18(1), hlm. 30–39. https://doi.org/10.30883/jba.v18i1.774

Darmosoetopo, R. 2003. Prasasti Sojomerto dalam Konteks Sejarah Medang. (Tidak diterbitkan).

Kartakusuma, R. 1999. Persebaran Prasasti-Prasasti Berbahasa Melayu Kuno di Pulau Jawa. Berkala Arkeologi, 19(2), hlm. 39–67. https://doi.org/10.30883/jba.v19i2.822

Maziyah, S. 2012. Kondisi Jawa Tengah pada Abad VIII sampai Abad XV M. Humanika, 15(9), hlm. 19–37. https://doi.org/10.14710/humanika.15.9

Soedewo, E. 2007. Kemelayuan dan Batas-Batasnya pada Masa Hindu-Buddha. Balai Arkeologi Medan, 10(20), hlm. 19–37.

Oleh : Lifna Amelia Safitri (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top