“Bangunan Suci & Toleransi Beragama Pada Masa Mataram Kuno”

Bangunan Suci Adalah Sebuah Bangunan Atau Tempat Yang Dianggap Sakral Dan Dihormati Oleh Umat Beragama Karena Di Sana Mereka Beribadah Dan Berdoa Kepada Tuhan. Di Tempat Ini, Umat Beragama Biasanya Melakukan Berbagai Kegiatan Keagamaan, Seperti Sembahyang, Upacara, Atau Perayaan Hari Besar Agama. Bangunan Suci Juga Sering Menjadi Tempat Berkumpulnya Umat Untuk Belajar Agama Dan Mempererat Hubungan Satu Sama Lain. Peninggalan Umat Hindu-Buddha Pada Masa Lalu, Seperti Candi, Adalah Contoh Nyata Dari Adanya Bangunan Yang Dianggap Suci Di Masa Lampau, Yaitu Tempat Yang Dianggap Istimewa Karena Menjadi Lokasi Ibadah Dan Pemujaan Kepada Dewa-Dewi Atau Buddha. Di Candi, Umat Hindu-Buddha Melakukan Berbagai Ritual Keagamaan, Seperti Persembahan Sesaji, Doa, Dan Upacara Keagamaan, Sehingga Candi Berfungsi Sebagai Pusat Kegiatan Rohani Sekaligus Tempat Berkumpulnya Masyarakat. Setiap Bagian Candi, Mulai Dari Bentuk Bangunan, Arca, Hingga Relief Pada Dinding, Dirancang Dengan Simbol-Simbol Yang Memiliki Makna Spiritual Dan Menggambarkan Ajaran Agama Mereka.

Pada Tahun 778 M Di Wilayah Kekuasaan Mataram Kuno, Jawa Tengah Memiliki Dua Dinasti Terdapat Wangsa Sailendra Yang Bercorak Buddha Dan Wangsa Sanjaya Yang Bercorak Hindu (Siwais). Menurut (Suleiman Dalam Tyas, 2017) Kedua Dinasti Ini Sama-Sama Berpengaruh Meskipun Wangsa Sanjaya Sempat Terdesak, Izin Pendirian Kuil Tetap Harus Melalui Maharaja Panangkarana Yang Merupakan Raja Kedua Mataram Kuno Setelah Sanjaya. Maharaja Panangkaran Digambarkan Didalam Isi Prasasti Kalasan Sebagai Raja Yang Memberi Persetujuan Dan Tanah Untuk Pendirian Bangunan Suci Bagi Para Bhiksu Buddha Yang Kini Disebut Sebagai Candi Kalasan Di Yogyakarta.  Kondisi Ini Menunjukkan Bahwa Politik Dan Agama Di Mataram Kuno Tidak Bersifat Tunggal, Melainkan Diwarnai Oleh Kerja Sama Antara Kekuatan Hindu Dan Buddha. Prasasti Kalasan Menjadi Bukti Bahwa Perbedaan Agama Tidak Secara Langsung  Memunculkan Konflik.

Dengan Memahami Candi Kalasan Sebagai Bangunan Suci Pada Masa Mataram Kuno, Dapat Terlihat Bahwa Candi Ini Menunjukkan Sinkretisme, Yaitu Percampuran Atau Penyatuannya Ajaran Hindu Dan Buddha Menjadi Satu Kesatuan. Meskipun Candi Ini Dibuat Khusus Untuk Pemujaan Dewi Tara (Buddha) Dan Memiliki Vihara Untuk Biksu Tetapi Pada Ornamen Candinya Terdapat Unsur Hindu/Syiwa Terlihat Dari Ornamen Kala, Makara, Pahatan Sosok Dewa, Relung Bercorak Hindu, Dan Arsitektur Stupa Yang Memadukan Simbolisme Hindu-Buddha, Pembangunannya Didukung Penuh Oleh Raja Hindu Rakai Panangkaran, Sehingga Unsur-Unsur Kedua Agama Tercampur Dalam Arsitektur, Relief, Dan Ritualnya. Sinkretisme Ini Terlihat Dari Cara Masyarakat Saat Itu Tidak Memisahkan-Misahkan Agama, Melainkan Menggabungkan Simbol-Simbol Hindu Seperti Dewa-Dewi Dengan Ajaran Buddha, Sehingga Candi Menjadi Tempat Ibadah Yang Diterima Semua Pihak.

Simbol Toleransi Ini Juga Tercermin Dalam Kisah Rakai Pikatan Raja Ke-7 Mataram Kuno (Sanjaya) Yang Membangun Candi Prambanan Untuk Hindu Dan Borobudur Untuk Buddha Sebagai Bentuk Kasih Sayang Kepada Istrinya, Pramodhawardhani (Sailendra). Meskipun Berlatar Belakang Hindu, Rakai Pikatan Mendukung Pembangunan Vihara Buddha Demi Kebahagiaan Sang Ratu Yang Memeluk Buddha, Menunjukkan Toleransi Tinggi Antaragama Melalui Bangunan Suci.

Sinkretisme Siwa-Buddha Yang Telah Tampak Pada Masa Mataram Kuno Melalui Pembangunan Candi-Candi Bercorak Hindu-Buddha Menjadi Dasar Bagi Perkembangan Toleransi Dan Penyatuan Ajaran Agama Hingga Pada Masa Kerajaan Singhasari Pada Pemerintahan Kertanegara, Yang Juga Mengusung Harmoni Antara Siwaisme Dan Buddhisme Dalam Kehidupan Bernegara.

DAFTAR PUSTAKA

Wardhana, A. W. (2008). KONTROVERSI ANTARA SANJAYAWANGSA DAN SAILENDRAWANGSA DI KERAJAAN MATARAM HINDU JAWA TENGAH ABAD KE 8-10 MASEHI (Doctoral dissertation, Universitas Pendidikan Indonesia).

Wahyutiyas, L. Sejarah perkembangan agama-agama di Indonesia.

Tiyas, L. W. (2017). Prasasti Peninggalan Kerajaan Yang Bercorak Hindu-Buddha Yang Mengambarkan Keharmonisaan Agama Hindu-Buddha. skripsi: Fakuktas Ilmu Sosial Unversitas Negeri Semarang.

Damai, A. H. (2019). Toleransi Beragama pada Masa Mataram Kuna. In Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Budaya IV (pp. 24-28).

Gumulya, C. A. (2023). Studi Komparasi Karakteristik Arsitektur Candi Kalasan dengan Candi Budha Era Mataram Kuno dalam Mengembangkan Rekonstruksi Virtual. Jurnal Arsitektur TERRACOTTA, 4(2), 99.

Oleh : Alfin Cahya Rahmadhanti (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top