Pendahuluan
Portugis merupakan salah satu negara yang bersinggah di Nusantara pada abad ke-16. Penaklukan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511 menyebabkan berpindahnya kekuasaan jalur rempah Nusantara ke tangan Portugis. Karena hal tersebut Portugis mampu berlayar ke timur Nusantara untuk mencari rempah-rempah, salah satu wilayah yang disinggahi oleh Portugis yaitu Maluku. Perjalanan Portugis ke Maluku dipimpin oleh Fransisco Serrao dan Antonio de Abreu, armada yang diperintah oleh Alfonso de Albuquerque. Ketika Sultan Ternate mengetahui bahwa Fransisco Serrao di Ambon, Sultan Ternate mengirim sebuah surat untuk Fransisco Serrao agar menemuinya. Surat tersebut berisi undangan agar mereka datang ke Ternate dan memberikan sebuah penghargaan. Kemudian dibuatlah surat perjanjian antara Kesultanan Ternate dan Portugis, yang berisi bahwa Portugis membantu Ternate untuk menghadapi Tidore, Portugis diperbolehkan membangun benteng dan diperbolehkan membeli cengkih
Dari perjanjian tersebut Portugis akhirnya membangun benteng pertama nya di Ternate, Maluku. Saat ini benteng tersebut dikenal sebagai Benteng Kastela. Benteng yang dibangun pada tahun 1522 ini sempat berganti-ganti nama. Awalnya benteng ini dinamakan Sao Jao Batista, karena peletakan batu pertama kalinya bertepatan dengan tanggal pembaptisan Saint John. Kemudian oleh Sultan Baabullah diganti menjadi Gam Lamo, Spanyol menyebutnya dengan Ciudad del Rosario atau Nostra Senora del Rosario, dan saat ini dinamakan Benteng Kastela karena letaknya di Desa Kastela. Benteng ini terbuat dari susunan batu karang dan andesit yang direkatkan dengan kalero. Benteng ini berbentuk persegi yang dikelilingi tembok dengan ukuran 26 depa, di benteng ini terdapat bastion, menara bertingkat dua, gudang, barak personil, dan ruang untuk kantor dagang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana fungsi Benteng Kastela sebagai bangunan dalam monopoli cengkih yang dilakukan oleh Portugis. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan esai ini menggunakan studi kepustakaan. Dengan mengumpulkan sumber-sumber dari buku, artikel, dan jurnal untuk mendapatkan informasi mengenai Benteng Kastela.
Pembahasan
Fungsi Benteng Kastela dan Monopoli Cengkih
Pembangunan Benteng di Ternate ini memiliki beberapa fungsi. Salah satunya ialah sebagai pusat pertahanan yang dapat melindungi Portugis dari serangan para pesaing atau musuh. Apalagi letak Benteng Kastela yang tak jauh dari pesisir. Lokasinya termasuk strategis, sehingga memudahkan Portugis untuk mengendalikan lalu lintas perdagangan cengkih dengan mengawasi keluar masuknya kapal. Portugis juga membatasi akses pedagang lain untuk kepentingan ekonomi. Tidak hanya itu, benteng ini juga digunakan sebagai tempat permukiman orang Portugis, gudang penyimpanan rempah-rempah, dan sekolah Katolik.
Benteng yang juga dijadikan sebagai pos perdagangan dan pusat administrasi mendorong Portugis untuk memonopoli cengkih. Portugis yang memiliki kuasa untuk mengatur perdagangan cengkih, menjadikan benteng ini sebagai tempat untuk menyimpan cengkih. Kemudian cengkih telah disimpan di gudang tersebut dijual ke luar wilayah Maluku melalui jalur maritim, terutama Eropa untuk memperkuat posisinya dengan nilai jual yang tinggi. Selain itu, Portugis juga menjual rempah-rempah seperti cengkih ke wilayah Malaka, penjualan ini membuat Portugis mendapatkan keuntungan besar.
Keuntungan besar yang didapat oleh Portugis merupakan salah satu misi awal dari perjalanan Portugis ke Nusantara ketika mencari rempah-rempah. Keuntungan tersebut didapat dari harga cengkih yang dijual dengan harga yang tinggi. Perlu diketahui bahwa Portugis memiliki kekuasan penuh di Maluku, sehingga mereka dapat mengatur harga cengkih. Cengkih dijual dengan harga yang berbeda-beda tergantung wilayahnya, apakah wilayah tersebut memiliki minat yang tinggi terhadap rempah-rempah seperti cengkih. Harga cengkih yang dijual oleh penduduk lokal dapat merugikan penduduk itu sendiri. Karena Portugis membeli dengan harga yang relatif rendah kemudian menjualnya dengan harga yang tinggi.
Maluku kaya akan sumber daya alam yang melimpah berupa rempah-rempah dimanfaatkan oleh Portugis untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah terutama cengkih demi mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Portugis menjadikan Benteng Kastela sebagai alat bagi mereka untuk menguasai perdagangan cengkih di Maluku, walau kedudukan mereka hanya sementara.
Kesimpulan
Dengan demikian, Benteng Kastela di Ternate pada abad ke-16 tidak hanya berfungsi sebagai bangunan pertahanan, tetapi juga menjadi pusat strategis bagi negara Portugis dalam menguasai perdagangan cengkih di Maluku. Melalui benteng ini, Portugis dapat mengawasi jalur pelayaran, menyimpan hasil rempah, menjalankan aktivitas perdagangan, serta mengatur distribusi dan harga cengkih sehingga tercipta sistem monopoli yang menguntungkan mereka. Selain berperan sebagai basis militer, benteng ini juga menjadi pusat permukiman, administrasi, dan penyebaran agama, yang memperkuat pengaruh Portugis di wilayah tersebut. Kondisi benteng tersebut saat ini sudah tidak utuh lagi, sebagian telah runtuh dan hanya menyisakan puing-puing dinding yang mulai rusak.
Daftar Pustaka
Andaya, L. Y. (1993). The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. University of Hawaii Press.
Atjo, R. A. (2009). Pergolakan di Maluku Pada Abad 16. Jakarta: CikoroTrirasuandar.
Iriyanto, N. (2010). Benteng-Benteng Kolonial Eropa di Pulau Ternate: Dalam Peta Pelayaran dan Perdagangan Maluku Utara. Tesis Pascasarjana. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Lukito, Y. N. (2025). Revisiting fort heritage in Ternate, North. Built Heritage.
Marihandono, J. (2008, April). Perubahan Peran dan Fungsi Benteng dalam Tata Ruang Kota. Wacana: Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya No. 1, Vol. 10.
Pires, T. (2015). Suma oriental karya Tome Pires: perjalanan dari Laut Merah ke Cina & buku Francisco Rodrigues. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Jalil, L. A. (2019). PEMBANGUNAN BENTENG NOSTRA SENORA DEL ROSARIO THE ESTABLISHMENT OF NOSTRA SENORA. 5(1), 27–38.
Mansyur, S. (2006). SISTEM PERTAHANAN DI MALUKU ABAD XVII-XIX (Kajian Terhadap Pola Sebaran Benteng). 2(3).
Oleh : Nafidatul Fitriyah (Universitas Negeri Malang)




