Saat ini, kita hidup di era modern yang serba digital, hampir semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh arus budaya asing. Nilai-nilai asing secara bertahap masuk dan membentuk kebiasaan baru dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari gaya hidup dan pakaian. Meskipun fenomena ini membawa perubahan dan kemajuan, ada juga kekhawatiran tentang kehilangan identitas dan jati diri bangsa. Jika tidak dilakukan denganhati-hati, budaya asing yang lebih mendominasi dapat menggantikan budaya asli Indonesia yang kaya dan beragam.
I. Budaya Asing dan Bahasa Indonesia:
Sebuah Pertemuan Dinamis Bahasa Indonesia adalah jati diri dan alat komunikasi penting bagi ratusan suku bangsa yang tinggal di Indonesia.Interaksi budaya, terutama melalui penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris, berkembang seiring arus globalisasi yang kian menguat dan memberi dampak besar pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bahasa asing semakin populer dan dapat ditemukan di banyak platform, termasuk media sosial, dunia profesional, dan institusi pendidikan. Bahasa asing sekarang merupakan keterampilan penting untuk memperluas wawasan dan berkomunikasi dengan orang-orang di seluruh dunia. Satu sisi, bahasa Indonesia telah diperbarui karena masuknya kosakata dan struktur bahasa asing. Ini membuatnya lebih fleksibel, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Istilah-istilah baru dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia untuk mengisi kelangkaan konsep yang dibawa oleh kemajuan teknologi dan budaya. Sebaliknya, penggunaan bahasa asing yang kuat menimbulkan tantangan besar bagi kelestarian dan kemurnian bahasa Indonesia sebagai simbol identitas nasional. Pertemuan antara bahasa Indonesia dan bahasa asing ini jauh melampaui komunikasi, hal ini mencerminkan terjadinya proses pergeseran dan percampuran budaya.Bahasa menggambarkan budaya dan cara berpikir orang yang menggunakannya. Oleh karena itu, ketika bahasa asing digunakan bersama dengan bahasa Indonesia, ideologi dan prinsip budaya asing juga masuk ke dalam pandangan masyarakat.
Proses akulturasi tanpa kontrol dan kesadaran dapat menimbulkan masalah besar. Survei Badan Bahasa tahun 2023 menunjukkan pengurangan penggunaan bahasa Indonesia, bahwa lebih dari 60% remaja di perkotaan lebih sering menggunakan istilah asing dalam percakapan sehari-hari. Data menunjukkan bahwa bahasa nasional mulai terancam. Untuk menghindari pengikisan, keseimbangan antara menyerap dan memfilter sangat penting.
II. Fenomena Bahasa Campuran: Trend atau Risiko?
Penggunaan bahasa campuran, atau campur kode, terutama yang menggabungkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, telah berkembang pesat di kalangan generasi muda Indonesia. Fenomena yang sering disebut sebagai “Bahasa Jaksel” (Jakarta Selatan) ini ditandai dengan penggunaan istilah asing seperti staycation, bestie, literally, dan which is dalam percakapan sehari-hari. Trend ini sering dianggap sebagai bentuk komunikasi yang modern, kosmopolitan, dan lebih ekspresif, terutama dalam interaksi di media sosial dan lingkungan pergaulan.
Menurut Badan Bahasa (2023), praktik campur kode kini semakin meluas di masyarakat, tidak hanya dilakukan oleh remaja tetapi juga oleh kalangan dewasa yang mengikuti gaya komunikasi anak muda. Hasil survei di Jakarta menunjukkan bahwa sekitar 50% mahasiswa usia 17–19 tahun kadang-kadang menggunakan campur kode, sementara 33,3% mengaku sering melakukannya dalam percakapan sehari-hari (Prosiding PNJ, 2023). Temuan ini memperkuat bahwa campur kode telah menjadi bagian dari gaya komunikasi yang umum di era digital.
Fenomena ini muncul karena beberapa faktor. Pertama, pengaruh globalisasi dan media sosial mendorong masuknya kosakata asing melalui film, musik, dan konten digital yang dikonsumsi setiap hari. Kedua, penggunaan bahasa campuran dianggap mampu menunjukkan status sosial dan identitas modern. Penelitian dari Binus University (2022) menyebutkan bahwa remaja cenderung merasa lebih percaya diri dan diterima dalam pergaulan saat menggunakan istilah berbahasa Inggris. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah lingkungan pendidikan bilingual dan tren budaya pop Barat, yang menjadikan penggunaan dua bahasa terasa alami dan keren.
Meskipun trend bahasa campuran mencerminkan kreativitas dan dinamika berbahasa, ada kekhawatiran besar terhadap kemampuan generasi muda dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika fenomena ini dibiarkan tanpa pendidikan bahasa yang memadai, fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dapat terdegradasi, bahkan menyebar ke ranah formal seperti akademik dan administrasi publik. Akibatnya, kualitas komunikasi resmi dapat menurun, dan kemampuan berpikir logis serta penyampaian gagasan secara sistematis ikut terpengaruh.
III. Pengikisan Identitas Bangsa Melalui Bahasa
Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi. Bahasa adalah wadah dan refleksi otentik dari budaya, sejarah, dan identitas suatu bangsa. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan yang lahir dari Sumpah Pemuda 1928, merepresentasikan semangat persatuan dan jati diri bangsa. Namun,besarnya pengaruh bahasa asing di era globalisasi mulai mengikis keaslian dan kebanggaan terhadap bahasa nasional.
Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2022), sekitar 42% pelajar dan mahasiswa di Indonesia lebih sering menggunakan campuran bahasa Indonesia dan bahasa
asing, terutama di media sosial. Data ini diperkuat oleh laporan Kemendikbudristek (2023) yang menunjukkan penurunan penggunaan bahasa Indonesia baku di ruang digital dan profesional. Fenomena ini menandakan adanya pergeseran persepsi bahwa bahasa asing dianggap lebih modern, ekspresif, dan bergengsi dibanding bahasa sendiri.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa upaya penyeimbangan, generasi muda berisiko kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Lebih dari itu, penguasaan terhadap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bahasa nasional akan semakin berkurang, membuat mereka semakin jauh dari nilai-nilai budaya yang menjadi dasar jati diri bangsa. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengikis identitas kolektif bangsa dan melemahkan rasa kebersamaan yang selama ini terbangun melalui bahasa.
IV. Menanggapi Bahasa Campuran: Antara Adaptasi dan Pelestarian
Fenomena bahasa campuran memang tidak bisa dihindari di era globalisasi. Bahasa asing, terutama bahasa Inggris, punya peran penting untuk membuka akses ke pengetahuan, teknologi, dan dunia kerja internasional. Namun, di balik manfaat itu, ada tantangan besar: bagaimana kita bisa tetap mengikuti perkembangan global tanpa kehilangan jati diri bahasa dan budaya kita sendiri. Karena sejatinya, bahasa Indonesia adalah cermin identitas bangsa yang perlu dijaga di tengah perubahan zaman.
Berdasarkan survei Badan Bahasa Kemendikbudristek (2023), sekitar 55% pelajar dan mahasiswa di Indonesia mengaku lebih sering menggunakan bahasa campuran saat berkomunikasi, terutama di media sosial. Data ini menunjukkan bahwa kesadaran menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar mulai menurun di kalangan muda. Oleh karena itu, perlu ada langkah nyata, bukan hanya wacana.
Pemerintah bisa lebih proaktif dalam menjaga eksistensi bahasa Indonesia, misalnya dengan membuat aturan penggunaan bahasa baku di media dan konten digital, memberikan penghargaan untuk karya berbahasa Indonesia, serta memperluas program literasi dan pelestarian bahasa nasional di sekolah dan kampus. Di sisi lain, lembaga bahasa juga bisa berinovasi dengan menciptakan istilah baru agar bahasa Indonesia tetap relevan dan modern tanpa harus selalu mengadopsi istilah asing.
Seperti yang pernah dikatakan Prof. Anton M. Moeliono, pakar bahasa Indonesia, “Bahasa hanya akan hidup jika digunakan, dikembangkan, dan dihargai oleh penuturnya.” Artinya, tanggung jawab menjaga bahasa Indonesia tidak hanya ada di tangan pemerintah atau akademisi, tapi juga di setiap individu.
Jika kita, sebagai generasi muda, bisa bangga dan konsisten menggunakan bahasa Indonesia dengan benar di ruang formal maupun digital, maka kita tidak hanya menjaga bahasa,tetapi juga mempertahankan nilai dan identitas bangsa di tengah arus global yang semakin kuat.
Dova Betsy Lauria Antana
Universitas Brawijaya




