Bullying di Lingkup Universitas Menyebabkan Sebagian Orang Merasa Terkucilkan

Masih banyak yang menganggap bullying itu identik dengan kekerasan fisik atau hinaan terang-terangan. Padahal, di lingkungan kampus yang dianggap sebagai tempat orang dewasa berpikir dan bertumbuh, bullying bisa muncul dalam bentuk yang jauh lebih halus namun tetap menyakitkan yakni bullying psikologis.

Bentuk kekerasan mental ini sering kali tersembunyi dan tidak terlihat secara langsung. Tapi efeknya? Sangat nyata. Bayangkan berada di tengah teman-teman satu kelas tapi merasa seperti “tidak ada”. Tidak pernah diajak kerja kelompok, pendapat selalu diabaikan, atau menjadi bahan gosip yang membuat reputasi kita tercoreng. Semua itu adalah bentuk nyata dari bullying yang tak kentara.

Menurut Laporan Tahunan KPAI 2023, bullying verbal dan psikologis adalah jenis yang paling sering terjadi di perguruan tinggi. Contohnya? Mengucilkan seseorang dari kelompok tugas, mengabaikan ide atau pendapat, hingga menyebarkan bisik-bisik tak sedap di belakang seseorang. Ini bukan sekadar “drama kampus”, ini bisa berdampak langsung pada kesehatan mental.

Sebut saja Dina (nama disamarkan), seorang mahasiswi yang menceritakan pengalamannya. Ia merasa seperti dinding tak kasat mata memisahkannya dari teman-temannya. Diskusi kelompok? Ia hampir selalu sendirian. Pendapatnya? Jarang ditanggapi. “Saya sampai mikir, mungkin saya memang nggak cocok kuliah di sini,” katanya pelan.

Dari sisi psikologi, fenomena ini bisa dijelaskan melalui teori Paired Associative Learning, yang menunjukkan bagaimana otak manusia membentuk hubungan antara pengalaman tertentu dengan emosi yang menyertainya. Ketika seseorang pernah mengalami rasa dipermalukan, diabaikan, atau dikucilkan dalam lingkungan sosial, otaknya akan mengingat momen itu sebagai sesuatu yang menyakitkan. Akibatnya, ketika menghadapi situasi serupa, misalnya saat harus berbicara di depan kelas atau bergabung dalam diskusi kelompok, tubuh secara otomatis merespons dengan kecemasan, rasa takut, atau minder, meskipun sebenarnya ancamannya belum tentu nyata.

Jika perasaan ini terus muncul dan tidak ditangani dengan tepat, hal tersebut bisa berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius, seperti social anxiety disorder atau bahkan depresi. Mahasiswa bisa merasa enggan berinteraksi, menarik diri dari lingkungan sosial, dan perlahan-lahan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Semangat belajar menurun, prestasi akademik ikut terpengaruh, dan dalam kasus yang ekstrem, muncul perasaan ingin menyerah terhadap masa depan yang seharusnya masih terbuka lebar.

Inilah mengapa penting bagi institusi pendidikan tinggi untuk tidak memandang sebelah mata bentuk-bentuk bullying yang bersifat non-fisik. Kampus harus hadir bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu, tapi juga sebagai ruang yang aman, suportif, dan sehat secara emosional. Ketika satu mahasiswa merasa tidak diterima, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan pribadinya, tetapi juga nilai-nilai dasar kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi di dunia pendidikan.

Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:

  • Edukasi berkelanjutan tentang jenis-jenis bullying, termasuk bentuk yang tersembunyi.
  • Pemberdayaan organisasi mahasiswa untuk menciptakan ruang yang inklusif dan aman bagi semua.
  • Layanan konseling psikologis yang mudah diakses bagi korban.
  • Membangun budaya menghargai, mendengar, dan terbuka di setiap kegiatan kampus.

Menghadapi bullying di lingkungan kampus bukan hal yang mudah, apalagi jika bentuknya tersembunyi dan tak terlihat secara langsung. Namun, itu bukan alasan untuk membiarkannya terus terjadi. Kita semua mahasiswa, dosen, dan pihak kampus punya peran dalam menciptakan ruang yang lebih manusiawi, saling menghargai, dan inklusif. Kampus seharusnya menjadi rumah kedua yang nyaman, bukan tempat yang membuat seseorang merasa asing di tengah keramaian. Tak boleh ada ruang untuk kekerasan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Karena pada akhirnya, kampus bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah tempat kita tumbuh, mencari jati diri, dan membangun masa depan. Tak seharusnya ada satu pun dari kita yang merasa sendirian, tak dianggap, atau tidak layak berada di sana. Mari ciptakan kampus yang bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga sehat secara sosial dan emosional. Karena setiap mahasiswa berhak merasa diterima, didengar, dan dihargai.

REFERENSI :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top