Kerajan Sunda merupakan negara yang bercorak Hindu-Buddha yang berdiri di Jawa Barat dan berkuasa selama abad ke-8 hingga abad ke-16M. Sebagai salah satu negara yang besar, Kerajaan ini berpusat di Kota Pakwan Pajajaran atau Bogor sekarang. Secara arkeologis, temuan-temuan yang berhubungan dengan Kerajaan Sunda utamanya berupa prasasti, yang rupanya juga ditemukan di daerah Sukabumi dan Cirebon, salah satu prasasti peninggalan Kerajaan ini yaitu Prasasti Huludayeuh yang ditemukan di Tengah sawah blok Huludayeuh, Desa Cikalahan, Kec. Sumber, Kab. Cirebon, Jawa Barat. Prasasti Huludayeuh ditemukan dalam kondisi kedua sisinya (kanan dan kiri) patah dan tulisannya sudah aus. Dilihat dari kondisi fisik pada saat ditemukannya Prasasti Huludayeuh, tidaklah memungkinkan informasi yang didapat dari prasasti ini selengkap prasasti lain yang ditemukan secara utuh, informasi yang didapat berupa satu nama raja dan usaha penghormatan kepada jasa raja, nama raja yang disebut ialah Ratu Purana Sri Baduga Sri Maharaja, dari sekian informasi yang ada, dalam Prasasti Huludaeyuh tidak ada informasi yang jelas mengenai tanggal dibuat atau diresmikannya prasasti tersebut, dengan demikian, penentuan penanggalan Prasasti Huludayeuh dapat dilakukan melalui analisis paleografi dengan metode tertentu.
Analisis kebahasaan yang diterapkan oleh para epigraf atau sejarawan dalam proses identifikasi penanggalan pada Prasasti Huludayeuh ialah metode linguistic komparatif, linguistic komparatif sendiri merupakan metode analisis dengan melakukan perbandingan antara Bahasa pada tataran lebih rendah dengan Bahasa pada tataran lebih tinggi. Mengapa menggunakan metode Linguistik Komparatif dalam proses analisisnya? karena pada proses identifikasi Prasasti Huludayeuh ini, para epigraf membandingkan isi, huruf, Bahasa, dengan prasasti yang berdasarkan isinya memiliki kata kata yang mirip dengan apa yang tertulis dalam Prasasti Huludayeuh, dengan contoh penyebutan nama raja yang ada, dilakukan perbandingan dengan Prasasti Kebantenan 1 (Jayagiri I), Prasasti Kebantenan II (Sundasembawa I), Prasasti Kebantenan IV (Gunung Samaya) serta Prasasti Batutulis. Dari ke-4 Prasasti tersebut, disebutkan nama Ratu Purana Sri Baduga Maharaja. Meski dalam Prasasti Huludayeuh disebutkan satu nama raja, tetapi belum tentu Raja tersebut yang mengeluarkan Prasasti tersebut. Perbandingan kata tersebut tidaklah cukup untuk menentukan penanggalan pada Prasasti Huludayeuh, perlu pertimbangan ulang dengan isi prasasti yang masih bisa terbaca. Isi Prasasti Huludayeuh yang masih bisa terbaca ialah mengenai peringatan usaha usaha Kebajikan yang dilakukan oleh Ratu Purana Sri Baduga Maharaja, kemungkinan besar Prasasti Huludayeuh tidak dikeluarkan oleh Ratu Purana Sri Baduga Maharaja, melainkan oleh penerusnya, Raja Surawisesa yang diperkirakan memerintah pada tahun 1521-1535 Masehi.
Jika dilakukan perbandingan dengan prasasti lain yang ada, Prasasti Huludayeuh diperkirakan sejaman dengan prasasti-prasasti Tersebut, yaitu dalam kurun waktu sekitar awal abad ke-16 M. Dari analisis tersebut, didapatkan bahwa Prasasti Huludayeuh sejaman dengan Prasasti Batutulis, dimana pada Prasasti Batutulis terdapat penanggalan yang masih utuh dan dapat terbaca, yaitu “pañca-pandawanê (m)banbumi”, dari kata tersebut didapatkan angka 1455 atau sekitar tahun 1533 Masehi, singkron dengan hipotesis yang muncul bahwa Prasasti Huludayeuh sejaman dengan Prasasti Batutulis dan dikeluarkan oleh penerus Ratu Purana Sri Baduga Maharaja, yaitu Raja Surawisesa. Hipotesis yang sama juga berlaku pada bentuk huruf yang terukir pada Prasasti Huludayeuh ini, dengan bentuk huruf yang dipahat tidak rapih, besar huruf sekitar 1,5 sampai 3 cm, sama persis dengan bentuh huruf yang ada pada Prasasti Batutulis Bogor. Temuan tersebut makin memperkuat bahwa Prasasti Huludayeuh memang dikeluarkan oleh raja yang sama.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa Prasasti Huludayeuh meskipun dalam kondisi tidak utuh pun masih bisa dibaca dan ditentukan penanggalannya, Meskipun demikian, penentuan penanggalan prasasti ini tidaklah mudah, tidak bisa hanya berbekal dengan hipotesis seorang epigraf. Melalui analisis paleografinya dengan metode linguistic komparatif, epigraf menganalisis bentuk tulisan, perbandingan Bahasa, perbandingan isi dan perbandingan kata yang ada pada Prasasti Huludayeuh dengan Prasasti Batutulis, Prasasti Kebantenan 1, 2, dan 4. Bahkan Ketika ada nama raja pada prasasti tersebut, belum tentu prasasti tersebut dikeluarkan oleh orang yang sama dengan yang ditulis dalam prasasti tersebut, informasi informasi yang ada harus dirangkai agar sinkron antara informasi yang satu dengan informasi yang lain.
Daftar Pustaka
Djafar, H. (1994). Prasasti Batutulis Bogor.
Djafar, H. (1994). Prasasti Huludayeuh. Berkala Arkeologi, 14(2), 197–202. https://doi.org/10.30883/jba.v14i2.723
Dwiyanto, D. (1998). Manfaat Prasasti Bagi Penulisan Sejarah Lokal. Berkala Arkeologi, 18(1), 1–6. https://doi.org/10.30883/jba.v18i1.771
Hardani, K. (2007). Metode Linguistik Historis Komparatif Bagi Epigrafi: Metode dan Analisis bagi Gejala Kebahasaan dalam Prasasti Berbahasa Jawa Kuna. Berkala Arkeologi, 27(2), 18–31. https://doi.org/10.30883/jba.v27i2.950
Prasodjo, T. (1998). Epigrafi Indonesia: Peran, Kedudukan, Dan Pengembangannya. Berkala Arkeologi, 18(1), 7–16. https://doi.org/10.30883/jba.v18i1.772
Oleh : Naila Zahra Putri Rofikudin (Universitas Negeri Malang)




