Perkembangan zaman yang terjadi saat ini diikuti dengan banyaknya penemuan teknologi-teknologi terbaru, khususnya dalam menunjang pembelajaran. Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) atau yang lebih familiar disebut dengan AI merupakan media penunjang dalam membantu proses pembelajaran di kalangan mahasiswa. Keberadaan AI saat ini mempermudah proses pembelajaran bagi mereka dikarenakan AI dapat menjadi pendorong bagaimana mahasiswa berfikir selanjutnya, efisiensi dalam waktu pengerjaan serta dapat menciptakan suasana aktif dikelas. Namun penggunaan AI juga merupakan suatu kegiatan yang berdampak kurang baik apabila penggunaannya tidak digunakan secara bijak seperti, penurunan kemampuan berfikir kritis serta ketergantungan pada AI. Secara moralitas keberadaan AI ditangan mahasiswa menjadi suatu pertanyaan, ini hal yang baik atau sebaliknya. Pertanyaan inilah yang menjadi tantangan bagi penulis untuk menggali lebih dalam lagi tentang hubungan antara penggunaan AI dengan proses pembelajaran mahasiswa saat ini.
Adanya AI menjadi sebuah referensi atau dorongan berfikir bagi mahasiswa. AI menjadi alat untuk memberikan jawaban instan, AI dapat digunakan sebagai pembuka ruang baru bagi mahasiswa untuk lebih berfikir kritis. AI dapat menjadi sumber referensi atau teman berdiskusi mahasiswa. Mahasiswa yang bijak akan menggunakan AI tidak hanya untuk jawaban instan atau menggantikan proses berfikir, tetapi untuk menambah dan meningkatkan pemahaman. Mengambil kasus nyata di sekitar kita, banyak mahasiswa yang menggunakan AI sebagai teman saat melakukan presentasi. Ada yang menggunakannya sebagai referensi mencari pertanyaan yang dilemparkan kepada presentator dan ada juga yang menggunakannya sebagai pencari referensi jawaban yang dilemparkan oleh audiens. Hal tersebut dapat menjadi hal positif dan negatif. Negatifnya jika mahasiswa mentah-mentah melemparkan atau menjawab pertanyaan dari AI. Hal ini menggantikan proses berfikir, yang berarti jawaban atau pertanyaan yang dilontarkan tidak murni dari pemikiran mahasiswa. Positifnya jika mahasiswa hanya menjadikan AI sebagai sumber referensi, sehingga jawaban atau pertanyaan yang dilontarkan tidak murni dari AI. Melainkan pemikiran mahasiswa itu sendiri.
Selain menjadi dorongan berfikir mahasiswa, AI juga berkontribusi dalam efisiensi waktu pengerjaan. Dengan menggunakan AI mungkin kita memang bisa menghemat waktu dalam mengerjakan suatu hal, contohnya seperti tugas. AI bisa membantu kita untuk mencari atau merangkum sebuah informasi hanya dalam beberapa detik saja. Selain itu, mengerjakan suatu tugas memang lebih mudah dengan menggunakan AI, karena dapat membantu memperbaiki tatanan bahasa serta menyusun sebuah kalimat dengan rapi. tetapi itu semua tidak bisa dijadikan sebuah kebiasan dalam mengerjakan tugas, karena dengan mengandalkan AI kita jadi tidak bisa mengontrol atau mengatur waktu untuk diri kita sendiri. Serta bisa menurunkan sikap disiplin waktu, yang dimana kita akan mengganggap itu semua mudah dikerjakan, karena adanya AI.
Terlepas dari efisiensi waktu dalam pengerjaan suatu hal. AI juga berperan sebagai pendorong munculnya keaktifan di kelas, khususnya saat presentasi dan diskusi tanya jawab. AI berperan sebagai media yang dimana oleh mahasiswa digunakan sebagai tempat bagi mereka mencari pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang ada disesi diskusi. Kegiatan tersebut secara sadar sudah menciptakan kondisi pembelajaran di kelas yang aktif, namun di sisi lain penggunaan AI oleh mahasiswa pada kegiatan mencari dan menjawab pertanyaan diskusi dapat menurunkan pemahaman mereka (dari pihak presentator maupin audience) mengenai materi yang sedang dibahas.
Penurunan pemahaman yang terjadi inilah yang berdampak pada cara berfikir bagi mahasiswa. Saat proses pembelajaran, mahasiswa sering kali menggunakan AI untuk mengerjakan tugas. Tidak hanya dalam mengerjakan tugas, mahasiswa juga sering kali menggunakan AI untuk mencari dan menjawab pertanyaan. Hal tersebut membuat kemampuan berpikir mahasiswa menurun karena banyak dari mereka yang berfikir semua bisa diatasi hanya dengan menggunakan AI. Dengan menggunakan AI mahasiswa cenderung malas berfikir dan hanya mengandalkan AI untuk menemani proses belajar mereka. Banyak orang yang memilih jawaban instan di banding memilah jawaban dengan menganalisis atau menyimpulkan beberapa informasi. Padahal pemikiran kritis itu muncul dari proses menganalisis, mengevaluasi dan menafsirkan informasi. Hal tersebut juga membuat mereka kurang bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah, karena semua mengandalkan AI tanpa mencari informasi tambahan lainnya.
Dengan mengandalkan AI tanpa mencari informasi tambahan, itu bisa menimbulkan perilaku tidak mengakui atau plagarisme. Misalnya mengakui bahwa hal yang dikerjakan adalah buatan atau murni dengan pikirannya sendiri, padahal itu semua diambil dari AI. Perilaku tersebut bisa membuat seseorang lebih bergantung pada AI, karena nantinya mereka tidak ingin berusaha untuk menyelesaikannya dengan pikiran mereka sendiri dan hanya berfokus pada jawaban AI saja. Jika itu semua dilakukan secara terus menerus, kemungkinannya mereka akan menghilangkan kejujuran dalam diri mereka.
Kesimpulannya adalah baik dan buruknya keberadaan AI ditangan mahasiswa bergantung pada mahasiswa itu sendiri, bagaimana cara mereka menggunakan serta memanfaatkan adanya teknologi AI saat ini. Secara moralitas mahasiswa menggunakan AI itu bukanlah suatu kesalahan namun juga bukan suatu kebenaran, tergantung konteks penggunaan yang dilakukan. Penggunaan AI bisa menjadi perilaku buruk apabila membuat mahasiswa mengalami penurunan pengetahuan dan kejujuran dalam pengerjaan, dan sebaliknya penggunaan AI berdampak baik bagi mahasiswa apalagi dimanfaatkan hanya sebagai alat bantu dalam menunjang proses pembelajaran mereka, contohnya sebagai referensi dalam pembelajaran mereka, untuk membantu efisiensi pengerjaan tugas dan mendorong mahasiswa aktif didalam kelas. Harapan kami mahasiswa bisa lebih bijak dalam penggunaan AI serta tidak menjadikan AI sebagai prioritas utama dalam menyelesaikan suatu hal, melainkan hanya sebagai referensi saja.
Ika Mery Hernanda, Muhammad Raffi Firman Maulana, Rifqa Nayla Fitria, Saskia Arta Mega
Universitas Negeri Malang




