Bandar Grisse, atau yang sekarang lebih dikenal dengan Gresik, merupakan salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa yang telah berperan dalam jaringan perdagangan maritim sejak zaman Majapahit. Karena lokasinya yang strategis di jalur pelayaran Laut Jawa dan dekat dengan daerah agraris, Gresik menjadi salah satu simpul distribusi hasil bumi dan komoditas antarpulau.
Pada awal abad ke-16 hingga abad ke-17, dinamika perdagangan di daerah ini mengalami perubahan yang signifikan seiring dengan masuknya kekuatan dagang Eropa, khususnya VOC. Essai ini akan berargumen bahwa integrasi Bandar Grisse ke dalam jaringan perdagangan VOC tidak hanya mengurangi perannya dalam bidang ekonomi, tapi mengubah struktur ekonomi lokal dari sistem jaringan terbuka menjadi sistem distribusi yang lebih terkonsentrasi dan terkontrol.
Sebelum adanya VOC, Gresik telah berkembang sebagai pelabuhan kosmopolitan yang berperan penting dalam jaringan perdagangan maritim Asia, khususnya perdagangan rempah-rempah seperti pala dan cengkih dari wilayah Kepulauan Maluku dan Banda. Dalam buku Suma Oriental, Tomé Pires menyebutkan bahwa “Grisse is the richest and most important trading port in all Java… The port of Grisse is the jewel of Java in trading ports” (Pires, 1944,Vol.1,p.175), yang menunjukkan pentingnya pelabuhan ini dalam jaringan perdagangan regional. Gresik berfungsi sebagai collecting center rempah-rempah yang kemudian didistribusikan ke berbagai wilayah perdagangan utama seperti Gujarat dan Calicut untuk kebutuhan industri obat-obatan, Malaka dan pasar Eropa, serta ke China sebagai komoditas farmasi.
Letak geografisnya yang strategis di jalur pelayaran yang menghubungkan Strait of Malacca dengan wilayah penghasil rempah di Maluku, serta didukung oleh perairan yang relatif aman bagi kapal dagang untuk berlabuh. Keragaman jaringan perdagangan tersebut juga terlihat dari kehadiran pedagang dari berbagai wilayah. Yang juga dicatat oleh Pires: “Ships from Gujarat, Calicut, Bengal, Siam, China, and Liu-Kiu trade there, and there is active trade between Grisse and Maluku and Banda” (Pires,1944,Vol.1, p.175). Selain itu, akses menuju Sungai Brantas mempermudah distribusi barang dari pedalaman Jawa menuju pelabuhan, sementara kedekatannya dengan Madura Strait memperkuat peran Gresik sebagai penghubung perdagangan di pesisir utara Jawa. Oleh karena itu, pada awal abad ke-16 Gresik berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan penting di kawasan pantai utara Jawa.
Kepentingan utama VOC dalam menjalin hubungan dengan penguasa lokal Gresik Adalah untuk mendapatkan akses perdagangan sekaligus mengamankan jalur distribusi komoditas di wilayah pesisir Utara Jawa. Dimana dengan adanya kerja sama dengan para elite itu VOC mampu mendirikan pos dagang atau loji dagang sebagai pusat aktivitas perdagangan. Selain itu, VOC juga berusaha mengontrol jalur perdagangan dengan cara mengoptimalkan penggunaaan struktur administratif Pelabuhan, termasuk melakukan pengawasan melalui para pejabat Pelabuhan atau Syahbandar. Dengan demikian, distribusu komoditas berasal dari Gresik dapat diarahkan untuk mendukung jaringan perdagangan VOC yang berpusat di Batavia dan terhubung dengan berbagai wilayah lain di Nusantara.
Masuknya VOC kedalam sistem perdagangan Gresik mengakibatkan beberapa perubahan pada sistem Pelabuhan ini sendiri. Perbedaan ini bukan hanya terjadi pada identitas pelaku perdagangannya namun juga pada struktur hubungan ekonomi di Gresik. Sistem perdagangan yang dulunya bersifat terbuka untuk berinteraksi secara langsung dengan para pedagang dari berbagai wilayah kini mulai dibatasi, para pedagang lokal mulai dikendalikan untuk memenuhi kebutuhan VOC lebih dahulu. Dalam kata lain mereka yang dulunya bebas berinteraksi dengan para pedagang lain dari luar, kini hanya bisa menjual barang dagangan mereka kepada VOC.
Dari penjelasan diatas, terlihat bahwasanya pengintegrasian Bandar Grisse dalam jaringan VOC merupakan perubahan yang fundamental dari pelabuhan kosmopolitan yang bebas menjadi pusat perdagangan yang terkontrol. Menurut Babad Tanah Jawi, kejayaan Gresik ini berakar di Majapahit yang pada masa itu didasari oleh otonomi spiritual dan politik, sedangkan Tome Pires mencatat bahwa perlu diingat bahwa kejayaan materi Gresik merupakan “the jewel of Java” yang sayangnya rapuh karena terpecahnya otoritas politik. Dominasi VOC selanjutnya merubah struktur ini dengan cara sistematis melalui monopoli perdagangan serta pembatasan distribusi. Melalui sistem tersebut, penguasa lokal dijadikan sebagai perantara atau agen pengumpul dan mengakhiri kejayaan maritim yang telah berlangsung berabad-abad.
Daftar Pustaka
Pires, T. (1944). “The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, from the Red Sea to Japan”(A. Cortesao, Ed. & Trans., Vol. 1). London: Hakluyt Society.
Suwandi, & Kasdi, A. (1997). “Perkembangan Kota Gresik sebagai Kota Dagang pada Abad XV–XVIII.” Surabaya: University Press IKIP Surabaya.
Olthof, W. L. (Ed. & Trans.). (1941). “Babad Tanah Jawi: The Chronicle of Java.” The Hague: Martinus Nijhoff.
Nagtegaal, L. (1996). “Riding the Dutch Tiger: The Dutch East Indies Company and the Northeast Coast of Java,” 1680–1743. Leiden: KITLV Press.
Gresspedia. (n.d.). Sejarah Pelabuhan Gresik Tempoe Doeloe. Gresspedia
Oleh : Nabila Assalwa Safina (Universitas Negeri Malang)




