Ketika berbicara tentang demokrasi, bayangan sebagian orang biasanya tertuju pada proses pemilu, perdebatan wakil rakyat, atau dinamika politik di televisi. Padahal, praktik demokrasi paling nyata justru berlangsung di ruang-ruang kecil dalam kehidupan sehari-hari: di pos ronda, rapat RT, atau perbincangan warga mengenai kondisi kampung. Di Kota Malang, praktik seperti ini tumbuh subur melalui keberadaan kampung-kampung tematik, salah satunya Kampung Warna-Warni Jodipan.
Kampung Warna-Warni Jodipan adalah contoh nyata. Sebelum 2016, kawasan ini hanyalah permukiman kumuh di tepian Sungai Brantas yang jarang diperhatikan. Namun, kolaborasi antara mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, warga setempat, dan
dukungan PT Indana Paint melalui program CSR mengubah segalanya. Lebih dari 2 ton cat digunakan untuk mengubah wajah kampung, dan yang lebih penting, mengubah cara warga memandang lingkungan mereka sendiri. Kisah sukses Jodipan menginspirasi lahirnya kampung-kampung tematik lain: Kampung Tridi, Kampung Biru Arema, Kampung Tempe Sanan, hingga Kampung Budaya Polowijen. Semua ini bukan sekadar program pemerintah yang dipaksakan dari atas, melainkan tumbuh dari
inisiatif dan kerja keras warga. Inilah yang membuat kampung budaya di Malang menjadi laboratorium demokrasi partisipatif yang sesungguhnya.
Ketika Warga Mengambil Alih Kendali
Dalam budaya Indonesia, tradisi gotong royong dan musyawarah telah ada jauh sebelum istilah “demokrasi” populer. Di Jodipan, nilai-nilai tersebut tidak sekadar bertahan, tetapi menjadi sistem pengelolaan kampung. Seluruh kegiatan wisata dijalankan oleh warga sendiri. Pengecatan kampung, misalnya, dilakukan rutin setiap enam bulan agar tampilan tetap menarik. Biaya cat tidak berasal dari pemerintah, melainkan dari tiket masuk wisata sebesar Rp 5.000. Pendapatan dari tiket tidak dibagi kepada individu, melainkan digunakan untuk kebutuhan bersama, seperti pemberian sembako saat hari raya hingga pembebasan beberapa iuran
warga. Transparansi dijaga melalui rapat rutin setiap dua bulan. Pada rapat itu, warga membahas penggunaan dana, menilai apa saja yang perlu diperbaiki, dan merancang rencana ke depan.
Semua keputusan diambil bersama, bukan diputuskan sepihak. Selain itu, kegiatan kerja bakti dilakukan setiap dua minggu sekali, terutama untuk menjaga kebersihan sungai. Ketika banjir membawa sampah, warga langsung turun membersihkan tanpa menunggu bantuan pihak luar. Setiap orang memiliki peran, ada yang menyapu, mengecat, hingga menyambut wisatawan. Bentuk partisipasi ini menunjukkan bahwa demokrasi tidak hanya berbentuk hak memilih, tetapi juga gotong royong menjaga lingkungan.
Dinamika Baru Pasca Pandemi
Pandemi Covid-19 membawa perubahan pada banyak sektor termasuk wisata kampung. Sebelum pandemi, kunjungan wisatawan bisa mencapai 200–300 orang setiap hari, termasuk pengunjung dari negara lain seperti Malaysia, Brunei, Thailand, dan China. Setelah pandemi, wisatawan tetap berdatangan, namun jumlahnya berkisar antara 100–200 orang per hari dan cenderung menurun ketika musim hujan. Artinya, kampung masih hidup, tetapi situasinya tidak sama seperti sebelum pandemi. Selain perubahan jumlah kunjungan, tantangan lain muncul dari bertambahnya kampung wisata baru di Kota Malang. Komunitas Jodipan tidak punya pilihan selain terus berinovasi agar tidak kalah bersaing. Mereka menambah ornamen dekoratif, mempercantik spot foto, dan merawat fasilitas umum agar tetap nyaman dikunjungi. Hingga kini, rombongan wisatawan dari Jepara, Tangerang, Pekalongan, hingga Kalimantan masih sering datang, menandakan bahwa Jodipan tetap menarik bagi pengunjung luar kota. Dengan demikian, persoalan yang dihadapi bukanlah hilangnya wisatawan, tetapi bagaimana masyarakat mempertahankan kreativitas dan komitmen bersama agar kampung tetap relevan dan berkembang.
Solusi untuk Demokrasi yang Lebih Kuat
Untuk memperkuat dan memperluas model demokrasi berbasis komunitas ini, beberapa langkah konkret perlu diambil:
Pertama, inovasi visual harus terus dilakukan agar kampung tidak terlihat biasa. Selain pengecatan rutin setiap enam bulan, warga bisa menambahkan mural tematik, hiasan musiman, atau sudut foto baru. Jika pengunjung menemukan hal berbeda setiap kali datang, peluang mereka untuk kembali akan lebih besar.
Kedua, pengelolaan dana tiket harus tetap transparan dan melibatkan warga. Rapat rutin bisa menjadi wadah untuk menjelaskan penggunaan dana dan mendengarkan masukan warga. Ketika semuanya terbuka, kepercayaan masyarakat semakin kuat dan program kampung berjalan lebih stabil.
Ketiga, kerja sama dengan pihak luar juga penting untuk terus dijaga. Mahasiswa, seniman, dan komunitas sosial dapat membantu melalui kegiatan kreatif, pelatihan, atau festival budaya. Kolaborasi seperti ini membuat kampung tetap ramai aktivitas dan tidak berjalan sendiri.
Keempat, menjaga kebersihan lingkungan harus menjadi prioritas. Sungai adalah bagian penting dari daya tarik kampung, sehingga kebersihan air dan bantaran sungai perlu terus diperhatikan. Kegiatan kerja bakti dua minggu sekali harus dipertahankan agar kampung tetap rapi dan nyaman dikunjungi.
Kelima, promosi digital bisa membantu menarik lebih banyak wisatawan. Generasi muda kampung dapat menggunakan media sosial untuk menampilkan foto, video, atau cerita menarik tentang kegiatan warga. Semakin sering kampung muncul di media sosial, semakin luas pula jangkauan promosi tanpa biaya besar.
Demokrasi dari Bawah adalah Harapan Kita
Kampung Warna-Warni menunjukkan bahwa demokrasi tidak harus hadir melalui besar pemerintah. Demokrasi bisa lahir dari keputusan kecil yang menyentuh kehidupan sehari-hari: memilih warna cat rumah, menentukan alokasi dana tiket, atau menjadwalkan kerja bakti. Ketika masyarakat terlibat langsung dalam pengambilan keputusan dan merasakan dampaknya, maka rasa memiliki semakin besar. Di tengah situasi politik nasional yang sering terasa jauh dari kehidupan warga, model seperti ini menjadi pengingat penting bahwa suara masyarakat paling kuat justru berasal dari bawah. Kota-kota lain dapat mencontoh Jodipan-partisipasi warga, rasa tanggung jawab, dan kreativitas dapat mengubah lingkungan yang dulu biasa saja menjadi tempat wisata yang dikenal luas. Pada ruas jalan kecil dan dinding penuh warna itu, kita belajar bahwa demokrasi bukan hanya teori besar. Selama masyarakat terlibat, suara mereka didengar, dan hasilnya dirasakan bersama, maka demokrasi telah berjalan pada bentuknya yang paling sederhana namun paling murni. Kampung yang dulu tidak dikenal kini menjadi bukti bahwa kekuatan warga bisa melahirkan perubahan nyata.
Yurike Dwi Kurniawati, Rr. Ahsa Kamari, Kanya Nurul Izzati
Universitas Brawijaya




