Songgoriti yang berada tepat di lereng Panderman, Kota Batu, bukan sekedar destinasi wisata secara sejarah saja, kawasan ini adalah kawasan yang yang memiliki nilai spiritual dan budaya, tempat berdirinya Candi songgoririti yang berusia ratusan tahun, berpusat pada legenda sakral, dan mata air panas untuk melakukan ritual memandikan keris pusaka. Namun dibalik keramaian wisatawan dan janji ekonomi pariwisata, terjadi penurunan nilai yang mengkhawatirkan serta menguji ketahanan moral masyarakat lokal. Songgoriti sedang berjuang menghadapi dilema eksistensial antara mempertahankan identitas budaya yang sakral melawan godaan keuntungan ekonomi jangka pendek.
Praktik Vila-Vila Tersembunyi dan Stigma Moral
Perubahan dan pengalihan fungsi hunian menjadi vila atau penginapan privat. Pergeseran ini yang didorong oleh keuntungan finansial yang besar dan permintaan wisatawan akan privasi, telah membuka pintu bagi praktik tersembunyi yang merendahkan nilai nilai sosial Stigma Pariwisita seks kini menjadi label yang melekat pada Songgoririt. Ini buka sekadar isu nilai masyarakat lokal, tetapi juga krisis sosial yang nyata, terutama bagi generasi muda. Anak anak setempat beresiko terpengaruh pada perilak dewasa yang bertentangan dengan nilai nilai komunal. Kegagalan masyarakat lokal dalam mengontrol praktik ini tidak terduga dipicu oleh tekanan pasar. Pendapatan tinggi dari bisnis akomodasi illegal terbukti lebih kuat daripada norma Paguyuban atau control moral masyarakat internal. Inilah titik rapuh modal sosial Songgoriti jaringan sosial dan kepercayaan kuat dalam komunitas belum mampu melawan kekuatan ekonomi yang merusak.
Sakral yang Dikomersialkan Aset Spiritual yang Terjual
Jika alih fungsi lahan merusak moral, maka privatisasi aset sakral merampas identitas. Penjualan mata air panas Candi Songgoriti kepada pihak swasta adalah pengalihan nilai spiritual suci demi keuntungan. Fungsi air suci yang dulu digunakan untuk ritual kini dirubah menjadi barang dagang yang diperjual belikan. Masyarakat lokal kehilangan hak dan peran mereka sebagai penjaga warisan spiritual dan sejarah. Krisis ini diperparah oleh kegagalan struktural pemerintah. Konflik administrasi yang berlarut-larut antara Kota Batu dan Kabupaten Malang membuat situs bersejarah sepenting Candi Songgoriti terabaikan dan rentan dieksploitasi. Ini adalah kegagalan pemerintah dalam melindungi apa yang seharusnya menjadi warisan bersama. Perubahan yang terjadi di songgoriti bukan sekadar transaksi ekonomi ini adalah pergeseran kekuasaan dari Modal Sosial-Budaya milik komunitas ke Modal Ekonomi Murni milik investor. Air suci, yang seharusnya menjadi milik masyarakat dan sumber kekuatan spiritual bersama, kini dikontrol oleh hak pribadi kepentingan swasta. Masyarakat lokal yang secara historis menjadi penjaga dan pelaksana ritual kini kehilangan hak kebebasan untuk melakukan ritual. Setiap penggunaan untuk kepentingan adat atau spiritual harus dilakukan di bawah persetujuan, atau biaya, yang ditetapkan oleh pemilik baru. Nilai sejarah dan spiritual yang telah dijaga kini dihargai setara dengan harga yang dapat dimonetisasi. Hal ini memutus mata rantai tradisi dan membuat masyarakat lokal merasa terasing dari warisan spiritual mereka sendiri.
Sengketa administrasi menciptakan ketidakjelasan status hukum Candi dan aset-aset di sekitarnya. Kondisi ini secara tidak langsung membuka jalan bagi investor untuk mengambil alih dan memprivatisasi aset tanpa proses uji yang ketat dan transparan, karena tidak ada badan pengelola yang berpengaruh untuk menjaga kepentingan masyarakat.
Candi Songgoriti sebagai Cagar Budaya Nasional seharusnya dilindungi oleh undang-undang, namun ketidaksepakatan administrasi membuat situs ini terabaikan dan rentan digunakan oleh siapapun yang memiliki modal, karena tidak ada pihak yang secara sah dan pasti bertanggung jawab atas perlindungan dan konservasinya sebagai warisan tak ternilai.Ini adalah kegagalan pemerintah dalam melaksanakan tugasnya untuk melindungi warisan bersama pemerintah secara pasif membiarkannya mengalami penurunan nilai menjadi properti privat sehingga masyarakat lokal pun kehilangan hak dan peran mereka sebagai penjaga spiritual dan sejarah.
Mekanisme Bertahan melalui Perlawanan Budaya yang Cerdas
Meski terancam, masyarakat Songgoriti menunjukkan perlawanan melalui budaya yang tinggi. Ketahanan ini diwujudkan melalui mekanisme bertahan yang cerdas dan adaptif. Pelestarian Tradisi dengan melakukan Ritual rutin seperti Ruwatan Desa dan Sedekah Bumi menjadi benteng kultural untuk mengukuhkan identitas kelompok. Perlawanan Simbolis yang Transformatif melalui Inisiatif Ngarak Banteng 1 Suro adalah contoh brilian dari adaptasi budaya. Prosesi ini tidak hanya melambangkan perlawanan terhadap kebatilan moral stigma seks pariwisata, tetapi juga secara cerdas menciptakan dampak ekonomi positif ganda. Mereka mengimbangi kerugian pariwisata negatif dengan menarik ribuan pengunjung melalui kekayaan budaya. Dan Rebranding Desa Ramah Anak merupakan Usaha untuk mengubah citra Songgoriti menjadi “Desa Budaya Ramah Anak” dan menjadikan Candi sebagai pusat pendidikan sejarah adalah strategi jangka panjang yang fundamental untuk memperbaiki citra dan melindungi generasi penerus.
Rekomendasi Mendesak untuk Menyeimbangkan Modal
Ketahanan moral Songgoriti tidak akan terwujud tanpat indakan yang kuat dari pemerintah dan komitmen komunitas. Melalui regulasi yang Tegas Pemerintah Kota Batu harus segera menetapkan Peraturan Daerah (Perda) yang memberikan sanksi tegas terhadap kegiatan ilegal di tempat penginapan. Tanpa landasan hukum, modal sosial masyarakat akan terus tak berdaya menghadapi modal ekonomi ilegal. Pariwisata budaya songgoriti harus dikelola secara bersama Sengketa administrasi harus segera diselesaikan, dan pengelolaan Candi serta sumber air panas harus dikembalikan kepada masyarakat lokal melalui model co-management. Ini adalah pengakuan hak sipil budaya atas warisan bersama. Program Desa Budaya Ramah Anak harus didukung penuh dan dijadikan prioritas utama untuk Prioritas Pendidikan Karakter Lokal dan memperkuat nilai-nilai Cipta, Karsa, dan Rasa sehingga membuat anak-anak menjadi benteng moral masa depan Songgoriti. Songgoriti berada di persimpangan jalan. Pilihan ada di tangan kita: membiarkan riuh pariwisata menenggelamkan nilai-nilai luhur dan identitasnya, atau menggunakan modal budayanya yang kaya sebagai senjata untuk menuntut kembali kedaulatan moral dan spiritualitas.
Ahmad Kurnia Ramadhani (Universitas Negeri Malang)




