“Duel Maut Selat Malaka: Supremasi Portugis Melawan Agresi Armada VOC”

“Whoever is lord of Malacca has his hand on the throat of Venice.”
Siapa yang menguasai Malaka, maka ia bisa mencekik tenggorokan Venesia.

Begitulah nubuat Tomé Pires (1512) terhadap Malaka yang terabadikan dalam Suma Oriental, sebuah risalah perjalanannya mengelilingi Samudra. Pujian tersebut seringkali dianggap hiperbolis, namun begitulah kenyataannya. Malaka adalah sebuah Pelabuhan penting yang menjadi pintu masuk Nusantara dan tempat pertemuan pedagang dari India, Cina, dan Arab. Dapat dikatakan Malaka di masa lampau mempunyai daya tawar tinggi di kancah perniagaan internasional. Oleh sebab itu banyak negeri ingin menancapkan kuasanya atas Malaka. Diantaranya adalah Portugis dan Belanda. Meski Portugis sudah lebih dahulu berlabuh disana pada 1511, tak menyurutkan niat Belanda yang diwakili VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) untuk menaklukkannya. Tulisan ini akan menyoroti duel antara Portugis dan VOC dalam memperebutkan Malaka, serta bagaimana jatuhnya benteng A Famosa pada 1641 yang nantinya menjadi salah satu modal VOC dalam menjajah Nusantara.

Sekilas tentang Malaka dan Kejatuhannya di Tangan Portugis

Malaka adalah sebuah kota Pelabuhan yang terletak di semenanjung Malaya yang dihiasi pegunungan sehingga banyak dihinggapi tambang timah. Awalnya, Malaka ditaklukkan oleh Iskandar Shah pada abad 15. Kesultanan Malaka tumbuh menjadi bandar persinggahan pedagang dari Cina, India, dan Arab. Selain itu, Bandar Malaka juga menjajakan rempah-rempah yang kala itu menjadi primadona negeri seberang seperti kopi, teh, gula, dan minyak kelapa. Komoditas semacam ini nantinya diangkut melalui Laut Merah dan berakhir di Mekah, Kairo, Aljazair, dan Venesia.
Pada 1509, Diogo Lopes de Sequeira tiba di Malaka atas perintah Raja Portugal untuk menjalin hubungan dagang. Namun, upaya tersebut berujung konflik setelah Sultan Malaka, yang dipengaruhi peringatan pedagang lain, mencoba menyerang rombongan Portugis.

Menanggapi ketegangan tersebut, Afonso de Albuquerque datang membawa armada militer pada 1511. Perang besar pecah, dan karena keunggulan militer Portugis, Malaka akhirnya jatuh pada 15 Agustus 1511. Untuk memperkuat dominasinya, Albuquerque mendirikan benteng A Famosa sebagai simbol kekuasaan baru Portugis di wilayah tersebut.
Satu abad kemudian, posisi Portugis sebagai juru kunci Malaka mulai diganggu oleh Belanda melalui Kongsi dagangnya yang bernama Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau VOC. Kedatangan VOC otomatis menjadi tantangan baru bagi Portugis untuk mempertahankan harga dirinya atau takluk dibawah saingannya.

Masuknya Saingan Portugis dari Belanda

Kuasa Portugis atas Malaka mulai renggang ketika kapal-kapal Belanda di bawah bendera VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) malang melintang di selat Malaka pada awal abad ke-17. VOC kala itu memandang Malaka sebagai ‘emas’ yang harus direbut paksa dari tangan Portugis. Niatan ini sejalan dengan konflik keagamaan yang timbul diantara keduanya. VOC pertama-tama menguasai dan memonopoli perdagangan di Banten dan Jawa. Dikomandoi oleh Jan Pieterszoon Coen, VOC menghancurkan Jayakarta yang saat itu berada dalam lingkup Kerajaan Banten. J. P. Coen membangun ulang Jayakarta dan menamainya dengan ‘Batavia’. Singkatnya, Batavia kemudian berkembang menjadi kantor pusat VOC di Asia.

Sejak awal VOC berusaha menyerang Portugis di Malaka untuk mendirikan pos perdagangan disana. Namun rencana itu harus terhalang karena kuatnya basis pertahanan Portugis di Malaka. Benteng A Famosa nampaknya sangat kokoh bak ‘Tembok Konstantinopel’ yang sulit ditembus dan diruntuhkan. Untuk itu VOC mencari sekutu sebagai kekuatan tambahan dalam mendobrak benteng A Famosa. VOC tahu kalau Portugis sudah lama berkonflik dengan Kesultanan Johor yang mengklaim dirinya sebagai pewaris sah dari Malaka. Sebelumnya, Kesultanan Johor kerap kali menyerang Portugis di Malaka namun selalu berujung pada kegagalan. Barulah pada tahun 1606, Kesultanan Johor menjalin aliansi dengan VOC dibawah Cornelis Matelief de Jonge. Bersama Johor, VOC mulai menghimpun segala kebutuhan yang diperlukan untuk menundukkan dominasi Portugis di Malaka.

Kejatuhan Benteng A Famosa dan Berakhirnya Kuasa Portugis atas Malaka

Duet VOC dan Johor dalam mencerabut kekuasaan Malaka menemui puncaknya pada 1641 ketika VOC memutuskan untuk melakukan pengepungan atas Malaka. Pengepungan itu dilakukan dengan cara memblokir setiap kapal yang hendak singgah di Malaka. Blokade semacam ini berlangsung selama berbulan-bulan dan berhasil melemahkan semangat juang militer Portugis. Disisi lain, pasukan Portugis mengisolasi diri di Benteng A Famosa. Benteng itu merupakan salah satu benteng terkuat di Nusantara dengan tinggi 32 kaki atau sekitar 9,8 meter, dan dipersenjatai 70 meriam disekelilingnya membuatnya sulit didobrak oleh pasukan musuh. Bahkan, Portugis mengklaim bahwa hanya pasukan terkuat di Eropa yang dapat melumpuhkan kokohnya tembok A Famosa.
Namun, dibalik kokohnya Benteng A Famosa, tentara Portugis berada dalam keadaan yang memilukan. Kelaparan akibat blokade VOC dan Johor serta munculnya wabah penyakit pes menyebabkan Portugis hampir mengibarkan bendera putih tanda kekalahan. Kemudian pada kurun waktu Mei 1640 hingga Januari 1641, Gubernur Jenderal VOC saat itu, Antonio van Diemen mengirimkan surat perintah penyerangan A Famosa kepada komodor kapal VOC di Malaka yang dipimpin oleh Sersan Andriaen Antonisz.
Pada 14 Januari 1641, komandan VOC bernama Minne Willemsz Caertekoe bersama tentara kesultanan Johor yang dikomandoi oleh Bendahara Skudai, merebut paksa Malaka dari tangan Gubernur Portugis bernama Manuel de Sousa Coutinho. Pertempuran berlangsung sengit yang didominasi gemilangnya komodor VOC melawan tantara ‘sekarat’ milik Portugis. Menurut catatan VOC, tentara Portugis kehilangan 7000 prajuritnya, namun tak jelas apakah angka tersebut mencakup warga sipil atau tidak. Sebaliknya, VOC hanya kehilangan sekitar 100 komodor dalam pengepungan ini.

Penutup Pergulatan Portugis dan Belanda di Malaka

Seorang bijak pernah berkata: Setiap sesuatu pasti ada masanya, begitu pula dengan Malaka. Tanah yang subur oleh perniagaan, harus runtuh karena persaingan dua imperium dunia. Setelah kejatuhannya, Malaka ‘ditelantarkan’ oleh Belanda. Salah satu faktor pemicunya adalah menurunnya ketertarikan Malaka di mata Belanda, yang lebih memilih Batavia sebagai pusat pemerintahannya. Terkesan ironis, namun begitulah realitanya. Malaka kemudian dikuasai Belanda hingga tahun 1824. Setelahnya, Malaka menjadi kepemilikan Inggris dalam perjanjian Inggris-Belanda dibawah komando Thomas Stamford Raffles.

Daftar Pustaka

Aizid, R. (2025). Sejarah lengkap kolonial di Nusantara: Portugis, VOC, Hindia Belanda, dan Inggris. IRCiSoD.
Borschberg, P. (2002). The seizure of the Sta. Catarina revisited: The Portuguese Empire in Asia, VOC politics and the origins of the Dutch-Johor alliance (1602–c.1616). Journal of Southeast Asian Studies, 33(1), 31–62.
Cardon, R. (2020). The fall of Portuguese Malacca to the Dutch. Nutmeg Publishing.
Nurcahya, Y. (2025). Sejarah Islam di Johor sampai Riau. Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, 1(2).
Pires, T. (1944). The Suma Oriental of Tome Pires: An account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512–1515. London: Hakluyt Society.
Rakhman, A. S., Handayani, Y., & Bahktiar, A. (2025). Perdagangan di Selat Malaka pada masa pendudukan VOC 1786–1800. JEJAK: Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah FKIP Universitas Jambi, 5(1), 108–114. https://doi.org/10.22437/jejak.v5i1.45990
Sinaga, R., Simanjuntak, J. V., Tondang, O. P., & Larasati, S. (2024). Masa pemerintahan VOC di Nusantara: Awal kedatangan hingga penyebab bubarnya VOC. AR RUMMAN: Journal of Education and Learning Evaluation, 1(2).

Oleh : Muhammad Wildan Hakim (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top