“Gema Perlawanan Laksamana Perempuan di Kesultanan Aceh Darussalam”

Seorang perempuan apalagi mereka yang menyandang status janda kerap kali terpinggirkan karena seringkali dilekatkan dengan kelemahan dan ketergantungan. Namun, pada abad ke-16 terdapat sebuah armada laut sepenuhnya terdiri dari perempuan bergerak di bawah komando seorang janda yang dikenal berperan sebagai laksamana perempuan bernama Keumalahayati. Alih-alih diam dalam keterpurukan dan menarik diri ke ranah domestik setelah suaminya gugur di medan laga, Keumalahayati bangkit menjadi kekuatan yang menggetarkan armada kolonial Eropa dengan pasukan yang ia bentuk bernama Inong Balee. Keumalahayati menjadi bukti nyata bahwa kedaulatan sebuah negara tidak terbatas pada gender. Kepemimpinannya menunjukkan bahwa perempuan mampu berdiri di garis depan untuk menegakkan martabat bangsa di lautan

Eksistensi Armada Inong Balee dalam Pertahanan Aceh

Laksamana Keumalahayati lahir dari keturunan bangsawan Aceh. Semangat maritimnya telah dipupuk sejak kecil berkat latar belakang keluarganya yang juga bergelut dalam dunia militer. Untuk mengasah kemampuannya, ia menimba ilmu di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis di Kesultanan Aceh Darussalam. Keinginan kuat Keumalahayati untuk menjabat sebagai laksamana dipicu oleh gugurnya sang suami saat berhadapan dengan pasukan Portugis di Teluk Aru. Sebagai sosok perempuan yang tangguh, Keumalahayati tidak lantas meratapi nasib dalam kesunyian, ia bangkit dari kesedihannya dan bertekad menggantikan peran suaminya yang telah gugur. Demi mewujudkan tujuannya itu, ia mengajukan permohonan kepada Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil untuk mendirikan sebuah armada militer khusus yang beranggotakan para janda yang ditinggal suaminya dalam perang, termasuk dirinya. Armada ini secara resmi dibentuk dengan nama Armada Inong Balee, yang bermarkas strategis di Teluk Krueng Raya. Di sana, terdapat benteng pertahanan Inong Balee pada ketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Pasukan yang awalnya hanya terdiri dari 1.000 janda ini kemudian tumbuh pesat menjadi 2.000 personel. Keanggotaannya pun meluas, tidak hanya terdiri dari para janda tetapi juga gadis-gadis muda. Pertumbuhan ini mencerminkan betapa besarnya pengaruh kepemimpinan Keumalahayati dalam menggerakkan perempuan Aceh untuk terjun ke ranah pertahanan negara.

Legitimasi Maritim Armada Inong Balee

Armada Inong Balee melampaui definisinya sebagai sekadar satuan tempur. Armada ini sejatinya adalah sebuah institusi yang strategis. Keberadaannya menjadi simbol nyata dalam mengintegrasikan peran perempuan secara sistematis ke dalam struktur pertahanan negara. Penjelajah dan navigator bernama John Davis yang mengunjungi Aceh pada era Keumalahayati menjabat sebagai laksamana, mencatat bahwa armada Aceh saat itu memiliki 100 kapal, sebagian mampu mengangkut 400-500 penumpang dengan seorang perempuan sebagai panglimanya. Dari catatan ini, keberadaan armada besar termasuk unit legendaris Inong Balee sebagai realitas yang ada. Catatan John Davis memposisikan kekuatan militer Aceh sebagai sebuah pertahanan pertahanan yang nyata dan diakui. Keumalahayati mengubah makna Inong Balee dari sekadar sebutan bagi janda menjadi simbol kekuatan yang mendobrak dominasi maskulin di ranah publik. Di balik ketangguhan mereka, para perempuan ini mampu menyelaraskan tugas rumah tangga dengan tanggung jawab besar sebagai pemimpin keluarga. Daripada sekadar meratapi nasib sebagai janda, para perempuan ini memilih mengubah duka menjadi semangat dan kekuatan untuk berjuang. Hal ini membuktikan bahwa lingkungan sosial dan budaya Aceh saat itu sangat terbuka. Mereka berani mendobrak aturan lama tentang peran gender demi satu tujuan besar, yaitu menjaga kedaulatan tanah air. Armada Inong Balee bukanlah sekadar pasukan militer yang terbentuk secara spontan. Sebaliknya, ia merupakan lembaga militer resmi yang berdiri kokoh di bawah naungan Kesultanan Aceh Darussalam. Kapal yang diberikan kesultanan menjadi bukti bahwa Inong Balee adalah bagian penting dari pertahanan Kesultanan Aceh pada saat itu. Struktur militer yang begitu tertata rapi ini merupakan hasil dari perpaduan antara legitimasi hukum yang kuat dan penerimaan budaya masyarakat Aceh yang terbuka.


Sejarah maritim mencatat nama Keumalahayati sebagai sosok yang luar biasa. Baginya, status janda pasca tragedi Teluk Aru bukanlah sebuah titik akhir, melainkan awal dari sebuah kebangkitan besar. Ia berhasil menempa duka menjadi kepemimpinan, mengubah kehilangan menjadi kekuatan, dan membentuk sekumpulan perempuan yang berduka menjadi armada tempur yang disegani oleh kekuatan Eropa. Sosoknya adalah bukti abadi bahwa keberanian dan cinta tanah air tidak pernah dibatasi oleh status sosial maupun gender. Oleh karena itu, Laksamana Keumalahayati bukan hanya sekadar cerita masa lalu, melainkan sebuah pengingat bagi kita untuk mengevaluasi apakah struktur sosial yang kita bangun saat ini benar-benar mencerminkan atau justru mengalami kemunduran dari nilai-nilai keadilan yang telah dipraktikkan.

Daftar Rujukan

Davis, J. (1880). The voyages and works of John Davis, the navigator (A. H. Markham, Ed.). Hakluyt Society.

Laily, A. N., Adriyanto, A., Sutanto, R., & Prakoso, L. Y. (2023). Lesson Learn The Leadership Period of Admiral Keumalahayati for the Development of Maritime Defense Strategy. International Journal Of Humanities Education And Social Sciences (IJHESS), 3(1), 459-468.

Nugroho, H. W., & Murtiningsih, S. (2008). Paradoks Gender: Kajian Feminisme Etis terhadap Kemunculan Inong Balee dalam Kekerasan Politik di Aceh. Jurnal Filsafat, 18(3), 295–313. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Saifullah. (2012). Laksamana Keumalahayati. Banda Aceh: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Wiryono, S. (2025). Admiral Malahayati: The Role of Women in Maritime Defense.

Oleh : Nadhifa Shidqiyah (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top