“Jejak Historis UM : Potensi, Tantangan dan Pengembangan Edutourism Kampus”

Edutourisme berkembang sebagai salah satu pendekatan baru dalam memaksimalkan fungsi lembaga pendidikan, tidak hanya sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga sebagai ruang publik yang menawarkan pengalaman wisata edukatif. Di berbagai negara, model edutourism terbukti mampu meningkatkan citra institusi, memperluas interaksi masyarakat dengan dunia pendidikan, serta mendorong kontribusi ekonomi lokal. Dalam konteks ini, Universitas Negeri Malang (UM) sebenarnya memiliki modal historis dan akademik yang sangat kuat untuk menjadi pusat edutourism unggulan. Namun, mini riset yang dilakukan menunjukkan bahwa kekuatan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal akibat berbagai hambatan struktural dan kelembagaan. Oleh karena itu, diperlukan argumentasi akademik bahwa penguatan edutourism UM merupakan kebutuhan strategis yang mendesak bagi pengembangan kampus ke depan.

Potensi Historis UM sebagai Basis Edutourism yang Unik

Argumen pertama yang menguatkan urgensi pengembangan edutourism UM terletak pada kekayaan historisnya. UM, yang berakar dari Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Malang sejak 1954, memiliki jejak panjang dalam perjalanan pendidikan di Indonesia. Sejarah transformasi dari PTPG menjadi IKIP Malang, hingga kini berstatus universitas, menyimpan nilai akademik, budaya, dan historis yang tidak dimiliki banyak institusi lain. Berbagai gedung bersejarah, arsip institusi, museum pendidikan, maupun narasi tokoh-tokoh nasional menjadi sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi konten edutourism berbasis heritage. Dalam perspektif teori wisata edukasi berbasis warisan (heritage-based edutourism), aset historis bukan sekadar objek visual, melainkan media pembelajaran yang menghubungkan masa lalu dengan konteks pendidikan masa kini. Oleh karena itu, pemanfaatan sejarah UM dalam bentuk paket “Jejak Historis UM” bukan hanya meningkatkan daya tarik kampus, tetapi juga memperkuat identitas institusi sebagai pelopor pendidikan nasional.

Fasilitas Akademik sebagai Pilar Pengalaman Belajar Interaktif

Selain potensi historis, argumen kedua terletak pada melimpahnya sumber daya akademik UM. Dengan lebih dari seratus laboratorium, pusat kebudayaan, museum microteaching, galeri seni, serta pusat inovasi sains dan pendidikan, UM memiliki infrastruktur yang memungkinkan terciptanya pengalaman hands-on learning dalam skala yang luas. Fasilitas semacam ini sesungguhnya merupakan fondasi esensial dalam pengembangan edutourism berbasis multidisipliner. Dalam konteks teori pengalaman belajar konstruktivistik, wisata edukatif efektif ketika peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi berinteraksi langsung dengan objek, aktivitas, atau simulasi pembelajaran. Laboratorium UM dapat difungsikan sebagai “learning stations” untuk edutourism sains, seni, budaya, dan teknologi. Dengan tata kelola yang sistematis, UM dapat menawarkan paket tur laboratorium, simulasi microteaching, eksplorasi budaya, hingga edukasi inovasi riset. Ini menunjukkan bahwa potensi fasilitas akademik seharusnya menjadi tulang punggung pengembangan edutourism kampus.

Fragmentasi Praktik Edutourism sebagai Penghambat Utama

Meski memiliki potensi besar, temuan riset menunjukkan bahwa praktik edutourism UM masih terfragmentasi dan tidak terkelola secara institusional. Kegiatan seperti kunjungan sekolah, tur kampus, atau eduwisata desa binaan berjalan tanpa standar operasional, tanpa struktur pemandu, dan tanpa koordinasi lintas fakultas. Situasi ini membuat edutourism UM bersifat insidental—bergantung pada inisiatif individu atau unit tertentu, bukan bagian dari strategi kelembagaan. Dari sudut pandang teori manajemen pendidikan, fragmentasi semacam ini berpotensi melemahkan kualitas layanan, menghambat kesinambungan kegiatan, dan mengurangi kemungkinan inovasi. Tanpa unit pengelola resmi, edutourism tidak dapat dipromosikan secara luas, tidak memiliki nilai jual yang konsisten, serta sulit menarik mitra sekolah atau masyarakat.

Digitalisasi sebagai Kebutuhan Strategis dalam Modernisasi Edutourism

Argumen berikutnya adalah bahwa UM perlu mengatasi keterlambatan dalam digitalisasi. Kampus lain telah memanfaatkan teknologi AR/VR, portal reservasi online, katalog digital, hingga modul interaktif sebagai bagian dari edutourism. UM, sebaliknya, masih belum memiliki sistem informasi edutourism yang terintegrasi. Padahal, dalam era pendidikan digital, kehadiran platform daring bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi syarat mutlak untuk visibilitas publik dan profesionalitas layanan. Digitalisasi tidak hanya akan mempermudah akses informasi, tetapi juga memperbesar jangkauan UM sebagai destinasi edutourism. Digital tour, peta interaktif kampus, atau katalog laboratorium dapat meningkatkan daya tarik pengunjung sekaligus memperkuat citra kampus sebagai universitas modern dan adaptif.

Sinergi dengan Desa Binaan sebagai Model Edutourism Berbasis Komunitas

Argumen terakhir menyoroti potensi kolaborasi UM dengan desa binaan. UM memiliki pengalaman panjang dalam pengabdian masyarakat melalui KKN, PPM, dan pemberdayaan komunitas. Desa seni, desa budaya, dan desa edukasi yang selama ini menjadi mitra UM dapat dijadikan bagian dari paket edutourism berbasis komunitas (community-based edutourism). Model ini tidak hanya memperluas cakupan wisata edukatif, tetapi juga membawa dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar. Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, edutourism berbasis komunitas dianggap sebagai model ideal karena menggabungkan aspek edukatif, ekonomi, budaya, dan pemberdayaan lokal. UM dapat berfungsi sebagai gerbang pengetahuan sebelum peserta melakukan eksplorasi lapangan di desa binaan. Integrasi kampus dan komunitas ini menjadi keunggulan kompetitif yang jarang dimiliki perguruan tinggi lain.

UM Perlu Bertransformasi dari Potensi ke Implementasi

Secara argumentatif, dapat ditegaskan bahwa pengembangan edutourism UM bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis yang akan memperluas fungsi kampus sebagai pusat pengetahuan, pelestari sejarah pendidikan, dan motor penggerak pemberdayaan masyarakat. Dengan modal sejarah yang kaya, fasilitas akademik yang lengkap, jejaring komunitas yang luas, serta peluang digitalisasi yang besar, UM memiliki semua komponen untuk menjadi pusat edutourism unggulan. Tantangannya kini adalah bagaimana UM mampu mengintegrasikan seluruh potensi tersebut ke dalam tata kelola yang profesional melalui pembentukan Unit Pengelola Edutourism, penyusunan SOP, pengembangan paket tematik, dan digitalisasi layanan. Jika langkah-langkah ini dijalankan, UM berpotensi bukan hanya menjadi destinasi edutourism kampus, tetapi juga model nasional dalam pengembangan wisata edukatif berbasis sejarah, akademik, dan pemberdayaan komunitas.

Mochammad Rizky Kurnia, Mochammad Rizky Kurnia,Saskia Asyifa Zahra,Athario Fauzan,Yustina Angela  

Universitas Negeri Malang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top