“Krontjong Toegoe: Pertahanan Hidup Mardijkers di Batavia XVII”

Pendahuluan

Sejarah Batavia abad ke-16 dan 17 tidak hanya tentang kolonialisme Belanda (VOC) dan penderitaan rakyat pribumi di Hindia Belanda, tetapi juga tentang kaum asing minoritas yang terpinggirkan secara sosial-politis dan dihantui tekanan bangsa lain. Jauh sebelum Belanda menguasai Batavia, Tomé Pires dalam Suma Oriental (1512-1515) mencatat pentingnya pelabuhan Jawa sebagai pusat perdagangan dunia, yang memicu ketertarikan Portugis untuk menjalin aliansi dengan pemerintah lokal melalui perjanjian Aguada do Padrão (1522). Perjanjian tersebut tidak menyisakan pengaruh budaya yang menetap, jejak Portugis muncul di Batavia melalui jalan yang berbeda, yaitu migrasi paksa kaum Mardijkers yang dibawa Belanda ke Batavia setelah Malaka, yang sebelumnya dikuasai Portugis, jatuh ke tangan Belanda.

Mardijkers, tawanan perang dan bekas budak kolonialisme Portugis yang dimerdekakan oleh Belanda dengan banyak syarat. Di tengah keditaknyamanan hidup dalam tuntutan pemerintah kolonial di Batavia, Krontjong Toegoe lahir sebagai alat pertahanan kaum Mardijkers, dibungkus sebagai hiburan rakyat guna melindungi akar kebudayaan Katolik-Portugis mereka tanpa harus tunduk sepenuhnya pada hegemoni Belanda. Esai ini disusun untuk menganalisis cara Krontjong Toegoe digunakan sebagai strategi adaptasi dan pertahanan identitas kaum Mardijkers dalam menghadapi keterasingan, diskriminasi, serta kontrol ketat pemerintahan kolonial di Batavia.

Pembahasan

Mardijkers di Batavia merupakan sekelompok etnis hibrida, tetapi mereka memiliki sebuah kesamaan yaitu status sosial sebagai budak Portugis sebelum Belanda datang. Secara garis besar Mardijkers terdiri dari bangsa Afrika, India, dan Asia yang sebelumnya merupakan wilayah jajahan Portugis. Mardijkers juga dikenal sebagai “Portugis Hitam” karena kulit mereka yang gelap, menyebut diri mereka sebagai Portugis, menggunakan bahasa kreol Portugis, dan memeluk agama Katolik. Pada awal kedatangan Mardijkers di Batavia, identitas visual mereka sangat kental dengan gaya berpakaian Portugis-Sentris. Mereka memakai setelan jas hitam dengan kancing perak, topi beludru, kaos kaki panjang dan sepatu pantofel yang meniru gaya berpakaian masyarakat kelas atas Portugis. Namun, hal-hal itulah yang membuat Mardijkers berada dalam posisi sulit saat VOC menguasai Batavia.

Belanda menawarkan kebebasan dan status sosial yang lebih tinggi yaitu sebagai rakyat yang merdeka pada para budak dengan syarat yang ketat, mereka dituntut berpindah agama ke Protestan-Calvinis yang dibawa Belanda. Pemerintah kolonial melakukan berbagai cara untuk melakukan Belandaisasi, termasuk membatasi dan mengawasi secara ketat kegiatan gereja. Tapi bagi Mardijkers, melepaskan identitas Katolik-Portugis berarti memutus akar sejarah mereka. Setelah dimerdekakan dari status budak, Mardijkers tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat Belanda maupun pribumi, salah satunya adalah karena gaya berpakaian mereka yang bertransformasi menjadi perpaduan antara Eropa dan lokal yang dianggap janggal. Pria Mardijkers memadukan jas Eropa dan topi beludru dengan kain sarung lokal atau celana longgar bemotif, sedangkan perempuannya memakai kebaya lokal dan mempertahankan aksesoris mencolok khas Portugis seperti tusuk konde besar dan syal sutra yang. Penampilan baru Madijkers menciptakan kesan norak di mata pemerintah kolonial, serta kesan asing di mata pibumi. Akibatnya, pada tahun 1661, VOC menempatkan Mardijkers di wilayah terpencil di pinggiran Batavia, yang kini dikenal sebagai Kampung Tugu, yang menjadi tempat munculnya Krontjong Toegoe sebagai kesenian sekaligus benteng pertahanan terakhir Mardijkers.

Perpaduan alat musik dawai dan melodi tradisional Barat tidak hanya sekedar hiburan, tapi sebagai sarana komunikasi rahasia dan penguat solidaritas dalam keterasingan. Dalam setiap pertunjukannya, Krontjong Toegoe menggunakan jenis alat musik dawai (kordofon) khas seperti Macina (kecil), Prounga (sedang), dan Jitera (besar) yang dimainkan secara ansambel bersama gitar dan biola. Bunyi ritmis dari ansambel ini menciptakan ruang aman bagi Mardijkers untuk merawat identitas mereka yang dilarang oleh VOC. Lantunan doa dan kerinduan akan identitas lama mereka tercantum dalam lirik-lirik berbahasa kreol Portugis yang dinyanyikan saat pertemuan-pertemuan di Kampung Tugu, bentuk penolakan halus pada Belanda melalui kesenian. Mardijkers juga menggunakan Krontjong Toegoe sebagai media mengekspresikan nilai-nilai spiritual dan tradisi melalui musik yang tidak tersentuh oleh pengawasan ketat gereja Protestan Belanda.

Kebebasan berekspresi melalui Krontjong Toegoe tersebut menjadikan kreativitas sebagai strategi pertahanan hidup yang memungkinkan kaum Mardijkers eksis di Batavia tanpa harus sepenuhnya merubah identitas mereka menjadi “Belanda” atau “pribumi”. Krontjong Toegoe menjadi benteng yang menjaga mentalitas kaum Mardijkers sebagai sekelompok masyarakat yang merdeka dari status budak. Melalui kesenian ini, kaum Mardijkers mengubah keterpencilan Kampung Tugu, dari tempat pengasingan menjadi pusat pelestarian warisan leluhur yang terus hidup hingga masa kini.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, disimpulkan bahwa perjalanan kaum Mardijkers di Batavia adalah tentang cara sekelompok minoritas bertahan hidup di tengah tekanan kolonialisme. Sebagai mantan budak yang memiliki budaya Portugis namun dipaksa mengikuti budaya Belanda, mereka berada di posisi yang sulit. Mereka tidak sepenuhnya diterima oleh orang Belanda karena dianggap berbeda, tetapi mereka juga tidak bisa dianggap sebagai bagian dari pribumi. Tekanan ini terlihat jelas dari pandangan Belanda dan pribumi terhadap gaya berpakaian mereka yang dianggap aneh, hingga mereka diasingkan ke Kampung Tugu oleh pemerintah kolonial. Namun, keterpencilan Mardijkers di Kampung Tugu justru melahirkan Krontjong Toegoe sebagai penyelamat identitas kolektif. Musik ini bukan sekadar hiburan biasa, melainkan cara bagi kaum Mardijkers untuk melawan tanpa kekerasan. Melalui dawai dan lagu berbahasa Portugis, mereka bisa menjaga agama dan tradisi asli secara sembunyi-sembunyi di balik pengawasan ketat pemerintah Belanda. Musik ini menciptakan ruang unik di mana Mardijkers tidak harus menjadi “Belanda” atau “pribumi” sepenuhnya, dengan mampu merawat jati diri mereka. Pada akhirnya, Krontjong Toegoe membuktikan bahwa untuk mempertahankan diri dari paksaan budaya asing, cara-cara halus seperti kesenian seringkali lebih ampuh dan bertahan lama daripada perlawanan fisik.

Daftar Rujukan

Ganap, V. 02/1097/ps. (2006). Krontjong Toegoe Sejarah Kehadiran Komunitas Dan Musiknya Di Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara [Doctoral, Institut Seni Indonesia Yogyakarta].
Magetanapuang, J. D., Komsiah, S., & Rachmaningsih, D. M. (2025). Krontjong Toegoe – Merawat Akar Keroncong Indonesia. Ikra-Ith Humaniora : Jurnal Sosial Dan Humaniora, 9(3), 638–647.
Nopianti, R., Riawanti, S., & Rajab, B. (2019). Identitas Orang Tugu sebagai Keturunan Portugis di Jakarta. Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 11(2), 169.
Pires, T. (2014). Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan buku Francisco Rodrigues (A. Cortesao, Ed.; T. B. Wahyono, Terj.). Ombak. (Karya asli ditulis sekitar 1512–1515).
Pratama, A. Y., Wijaya, D. N., Masruroh, H., & Yafie, E. (2022). Hybrid Identities in Kampung Tugu Jakarta. Prosiding Seminar Nasional Karakter Bangsa, 5(1).
Suratminto, L. (2011). Creol Potuguese of the Tugu Village: Colonial Heritage in Jakarta Based on the Historical and Linguistic Review. Tawarikh, 3(1).

Oleh : Aulia Nur Azizah (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top