Di tengah meningkatnya kesadaran publik mengenai isu-isu lingkungan, konservasi alam menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya dapat ditemukan di Bumi Perkemahan Bedengan, sebuah destinasi wisata alam yang terletak di Dusun Selokerto, Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Area ini berada pada ketinggian sekitar 900 hingga 1250 meter di atas permukaan laut, tempat ini memiliki udara yang sejuk serta pemandangan yang sangat indah. Menurut Indra Kusuma Wijaya dan tim (2022), istilah “Bedengan” berasal dari kata Jawa “bedeng,” yang artinya gubuk atau tempat berteduh. Sebelumnya, tempat ini adalah lahan untuk pembibitan pohon yang dikelola oleh Perhutani, sebelum dijadikan sebagai lokasi wisata alam dan perkemahan pada tahun 2007. Saat ini, Bedengan memiliki luas sekitar 13,7 Hektar, dengan area khusus untuk perkemahan seluas 2,5 Hektar. Di sekitarnya, terdapat juga perkebunan jeruk yang menjadi ciri khas daerah tersebut sekaligus menjadi mata pencaharian bagi penduduk setempat.
Yang menarik dari Bedengan ini bukan cuman keindahan alamnya, tetapi juga bagaimana masyarakat sekitar ikut terlibat dalam menjaga dan mengelola kawasan ini. Warga dengan aktif melakukan kegiatan kebersihan, pengelolaan sampah organik, dan merawat fasilitas perkemahan. Selain itu, warga juga memanfaatkan potensi wisata untuk menambahkan penghasilan mereka, seperti membuka warung kecil penyedia pasokan makanan untuk pengunjung yang camping, dan menjadi pemandu lokal yang membantu mengelola dan mengatur wilayah setempat. Aktivitas tersebut mencerminkan keseimbangan antara pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Melalui keterlibatan aktif warga, Bedengan menunjukkan bahwa konservasi lingkungan tidak hanya menjaga alam tetap hijau, tapi juga bagaimana nilai gotong royong, tanggung jawab sosial, dan keadinal dapat dipandang sebagai salah satu bentuk penerapan nilai pancasila di masa sekarang hingga yang akan datang.
Upaya melestarikan wilayah Bumi Perkemahan Bedengan ini, menunjukan bahwa menjaga lingkungan hidup tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi formal seperti Perhutani. Melainkan, peran masyarakat sekitar juga sangat penting untuk mewujudkannya. Partisipasi aktif warga Dusun Selokerto dalam menjaga kebersihan, mengelola limbah organik, serta merawat fasilitas yang ada, mengindikasikan bahwa pemahaman akan pentingnya lingkungan hidup telah melekat dalam benak masyarakat, mendorong mereka untuk secara aktif membantu membersihkan lingkungan. Masyarakat tidak menunggu arahan dari pihak berwenang, namun secara sukarela mengambil bagian dalam menjaga kawasan tersebut. Berdasarkan penelitian Indra Kusuma Wijaya, dkk (2022), metode pengelolaan partisipatif semacam ini sangat efektif karena warga merasa memiliki dan bertanggung jawab secara langsung terhadap keberlanjutan alam di sekitar tempat tinggal mereka. Warga tidak hanya berperan sebagai pelindung lingkungan, tetapi juga sebagai pelaku ekonomi yang memanfaatkan potensi pariwisata dengan berinisiatif membuka usaha warung yang menyediakan kebutuhan makanan, menjadi sukarelawan pengelola tempat untuk membantu para wisatawan dalam mendirikan tenda serta perlengkapan lainnya, dan menjual hasil perkebunan jeruk siam lokal yang menjadi keunggulan khas daerah tersebut. Cara pengelolaan ini membuktikan bahwa pemanfaatan ekonomi dan pelestarian lingkungan bukanlah hal yang bertentangan atau berlawanan arah, tetapi dapat saling mendukung jika dikelola dengan arif dan melibatkan partisipasi masyarakat setempat di wilayah seluas 13,7 hektar ini.
Keberhasilan Bumi Perkemahan Bedengan juga terletak pada sistem pengambilan keputusan yang demokratis dan transparan. Musyawarah rutin di tingkat desa menjadi ruang bagi warga Selorejo untuk menyuarakan pendapat mengenai aturan pengunjung, sistem bagi hasil retribusi, hingga strategi pemeliharaan kawasan perkemahan. Transparansi dalam pengelolaan dana menciptakan kepercayaan dan menguatkan komitmen warga untuk menjaga keberlanjutan kawasan yang berada di ketinggian 900 hingga 1250 Mdpl ini. Berbeda dengan model pengelolaan top-down yang sering menimbulkan konflik, pendekatan partisipatif di Bedengan Malang justru dapat mewujudkan solidaritas sosial yang kuat. Praktik gotong royong yang masih terjaga sejak kawasan ini dibuka sebagai lokasi wisata alam dan perkemahan pada tahun 2007, seperti kerja bakti membersihkan area perkemahan dan memperbaiki fasilitas bersama-sama, menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai kebersamaan masih relevan di era modern. Tradisi ini tidak hanya mengurangi biaya operasional, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antar warga yang menjadi modal penting dalam pembangunan berkelanjutan.
Bumi Perkemahan Bedengan berperan sebagai media pembelajaran alami yang mendukung pendidikan mengenai lingkungan. Para pengunjung, terutama siswa yang berkemah di area khusus seluas 2,5 hektar ini, mempunyai kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana warga setempat melaksanakan upaya konservasi di lingkungan yang sejuk dengan latar belakang keindahan pegunungan Malang. Metode pembelajaran yang kontekstual ini terbukti jauh lebih ampuh dalam meningkatkan kesadaran lingkungan dibandingkan dengan metode pembelajaran di dalam kelas. Berinteraksi dengan penduduk setempat memberikan wawasan bahwa menjaga kelestarian alam merupakan kewajiban bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, dan membutuhkan partisipasi dari semua pihak. Konsep Bumi Perkemahan Bedengan menunjukkan bahwa ketika masyarakat terlibat secara aktif dalam pengelolaan destinasi wisata, mereka tidak hanya menjadi pihak yang menikmati manfaatnya tetapi juga berperan sebagai penggerak perubahan yang menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan untuk generasi yang akan datang.
Pelestarian area Bumi Perkemahan Bedengan di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, menjadi contoh nyata penerapan nilai-nilai Pancasila dalam aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan, mengelola sampah organik, serta merawat sarana wisata, mencerminkan nilai gotong royong dan tanggung jawab bersama yang ada di dalam sila ketiga dan kelima Pancasila. Penduduk setempat tidak hanya berfungsi sebagai penghapus sampah lingkungan, tetapi juga berkontribusi sebagai aktor ekonomi yang berinovasi untuk memanfaatkan potensi pariwisata tanpa merusak kelestarian alam. Keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, perundingan, serta pengelolaan yang transparan menunjukkan tercapainya prinsip demokrasi sesuai dengan sila keempat.
Selain itu, usaha warga dalam membuka warung, mengelola aktivitas wisata, dan menjual produk pertanian lokal menjadi bukti konkret penerapan nilai kemanusiaan serta keadilan sosial. Kehadiran para pengunjung, utamanya pelajar dan wisatawan, semakin menguatkan peran Bedengan sebagai laboratorium pendidikan lingkungan hidup, yang menanamkan kesadaran tentang pentingnya keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan alam. Dengan demikian, Bumi Perkemahan Bedengan tidak hanya berfungsi sebagai tempat wisata alam, tetapi juga sebagai contoh nyata penerapan nilai-nilai Pancasila dalam memelihara harmoni antara manusia, masyarakat, dan lingkungan. Model pengelolaan berbasis partisipasi ini patut dijadikan acuan dalam pembangunan berkelanjutan yang menonjolkan nilai kebersamaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial, sejalan dengan semangat Pancasila sebagai landasan kehidupan bangsa Indonesia.
Nabila Rahma Aulia, Reno Saputra, Vina Dewi Ramadhani, Wahyu Adi Novresa
Universitas Brawijaya




