Pada tahun 1512, bangsa Portugis dibawah pimpinan Antonio de Abreau dan Francisco Serrão berhasil mencapai Maluku setelah sebelumnya menaklukkan Malaka pada tahun 1511. Kedatangan Portugis ke Maluku tidak hanya bertujuan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah, tetapi juga membawa misi penyebaran agama Katolik. Dalam masa perkembangannya, relasi antara bangsa Portugis dan kesultanan Ternate yang semula bersifat kooperatif kemudian berubah menjadi konflik terbuka. Selama ini, konflik antara Portugis dan Ternate lebih sering dijelaskan karena adanya monopoli perdagangan rempah-rempah dan campur tangan Portugis dalam urusan politik kesultanan. Namun, di balik itu terdapat faktor lain yang juga memicu konflik, yaitu penyebaran agama Katolik yang dilakukan oleh Portugis di Ternate.
Penyebaran agama Katolik di wilayah Ternate yang telah memiliki identitas Islam yang kuat turut menambah ketegangan dalam hubungan politik dan kekuasaan antara kedua pihak. Oleh sebab itu, faktor agama juga perlu diperhatikan untuk memahami konflik Portugis dengan Kesultanan Ternate. Studi ini didasarkan pada penelitian dengan menggunakan metode historis dengan pendekatan studi pustaka. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari arsip yang berkaitan dengan sejarah Portugis di Maluku dan hubungan dengan kesultanan Ternate. Data skunder diperoleh dari artikel dan jurnal ilmiah yang membahas konflik antara Portugis dan Ternate, yang berkaitan dengan penyebaran agama Katolik oleh para misionaris di wilayah Maluku. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis untuk memahami peran penyebaran agama dalam konflik antara Portugis dan Kesultanan Ternate serta memperoleh kesimpulan penelitian.
- Misi Katolik Portugis di Maluku
Maluku merupakan wilayah yang sangat penting dalam jaringan perdagangan internasional karena menjadi pusat penghasil cengkih yang sangat berharga di pasar dunia. Menurut buku LOCAL TRADE NETWORKS IN MALUKU IN THE 16TH, 17TH, AND 18TH CENTURIES kedatangan bangsa Eropa ke Maluku didorong oleh keinginan untuk menguasai perdangan rempah-rempah, namun dalam prosesnya mereka juga membawa pengaruh budaya serta tradisi keagamaan dari Eropa yang kemudian memengaruhi hubungan mereka dengan masyarakat lokal (LEONARD Y. ANDAYA, 1991). Pada tahun 1522 Portugis membangun benteng yang bernama benteng Kastella (São João Batista) di Ternate (Khazin, 2022). Pada waktu yang bersamaan Portugis juga menjalin hubungan dengan Kesultanan Ternate . Di sekitar benteng tersebut muncul pemukiman orang Portugis yang sebagian besar beragama katolik dan membentuk komunitas Kristen di wilayah tersebut. Pada pertengahan abad ke-16 muncul beberapa misionaris yang mulai aktif melakukan kegiatan penyebaran agama. Beberapa misionaris yang tercatat melakukan kegiatan misi di wilayah Maluku dan Ternate antara lain: Francis Xavier (sekitar 1546),Jeronimus Rodrigues (1571-1586),Nicolo Nunes (1548-1573),Juan de Beira (1512-1564),Pero Mascarenhas (1532), (International Association for Mission Studies, n.d.). Para misionaris tersebut tidak hanya melakukan pengajaran agama, tetapi juga menulis laporan mengenai kegiatan misi Katolik di Maluku.
Dalam proses pengajaran agama para misionaris menggunakan bahasa Melayu sebagai sarana komunikasi karena bahasa ini telah berfungsi sebagai lingua franca di wilayah Maluku dan Asia Tenggara (Grimes, 2015). Para misionaris menyebarkan agama Katolik melalui pembaptisan dan pengajaran agama (Adison Adrianus Sihombing, 2021). Meskipun demikian, penyebaran agama katolik oleh Portugis tidak selalu berjalan dengan lancar. Di wilayah Ternate yang telah memiliki identitas islam yang kuat sebelum kedatangan Portugis, kegiatan misi katolik sering kali menimbulkan ketegangan dengan kekuasaan lokal. Perbedaan agama serta persaingan politik dan ekonomi antara Portugis dan kesultanan Ternate akhirnya memperburuk hubungan antara kedua pihak. - Faktor Agama sebagai Penguat Konflik
Kehadiran Portugis di Maluku tidak hanya bertujuan berdagang, tetapi juga membawa misi penyebaran agama Katolik. Berdasarkan jurnal Florentinus Suryanto Hadi, ekspansi Portugis dipengaruhi semangat religius dari masa Reconquista, yaitu dorongan untuk menghadapi kekuatan muslim dan menyebarkan agama katolik ke wilayah baru (Hadi Florentinus, 2023). Penyebaran Injil bahkan dianggap sebagai tanggung jawab kerajaan Portugal, bukan hanya tugas Gereja. Melalui sistem Padroado Real, Paus juga memberi hak kepada raja Portugal untuk mengatur kegiatan misi di daerah kekuasaannya. Artinya, agama dan kekuasaan politik berjalan bersamaan.
Latar belakang tersebut juga berkaitan dengan sejarah keagamaan di Eropa. Portugal pernah berada di bawah kekuasaan bangsa Arab dan Berber yang beragama Islam selama beberapa abad. Setelah melalui perang yang panjang, bangsa Portugis berhasil mengusir kekuasaan tersebut. Oleh karena itu, bagi bangsa Portugis dan Spanyol, kekuatan Islam sering dipandang sebagai musuh lama (Van den End Dr Th., 2008). Pengalaman sejarah ini turut memengaruhi semangat ekspansi Portugis ke wilayah lain, termasuk dalam membawa misi penyebaran agama Katolik ketika mereka datang ke kawasan Asia dan Maluku.
Dalam konteks Ternate yang sudah berlandaskan Islam, kondisi ini menimbulkan ketegangan. Islam bukan hanya agama masyarakat, tetapi juga dasar legitimasi kekuasaan sultan. Karena itu, penyebaran Katolik di Ternate dapat dipandang sebagai ancaman terhadap otoritas kesultanan. Perbedaan agama menjadi semakin sensitif karena didukung oleh kekuatan politik asing. Jadi, faktor agama tidak menjadi penyebab utama konflik, tetapi memperkuat ketegangan yang sudah ada. Ketika dua kekuasaan sama-sama menjadikan agama sebagai dasar legitimasi, maka perbedaan keyakinan mudah berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Kesimpulan
Konflik antara Portugis dan Ternate pada abad ke-16 tidak hanya dipicu oleh kepentingan perdagangan dan politik, tetapi juga diperkuat oleh faktor agama. Portugis membawa misi penyebaran Katolik yang didukung oleh kerajaan dan legitimasi kepausan, sementara Ternate menjadikan Islam sebagai dasar legitimasi kekuasaannya. Perbedaan agama tersebut kemudian memperkuat ketegangan politik yang telah ada dan memperbesar konflik antara kedua pihak.
Daftar Rujukan
Adison Adrianus Sihombing, M. P. (2021). TELADAN IMAN DAN GURU BAGI MASYARAKAT KATOLIK. 555–582. https://doi.org/10.31291/jlka.v19.i2.887
Grimes, B. D. (2015). TIlE DEVELOPMENT AND USE OF AMBONESE MALAY n LrrJ rtawai. 1, 83–123. https://doi.org/10.15144/PL-A81.83
Hadi Florentinus. (2023). PADROADO REAL : ORGANISASI MISI KATOLIK DI BAWAH BENDERA PORTUGIS Florentinus Suryanto Hadi. 03(02), 45–56.
Khazin, M. Z. (2022). Ketahui Fakta Benteng Kastella, Salah Satunya Saksi Bisu Kebiadaban Penjajah. Unews.Id. https://www.unews.id/lifestyle/pr-2883577163/ketahui-fakta-benteng-kastella-salah-satunya-saksi-bisu-kebiadaban-penjajah
LEONARD Y. ANDAYA. (1991). LOCAL TRADE NETWORKS IN MALUKU IN THE 16TH, 17TH, AND 18TH CENTURIES (C. for S. A. S. (CSEAS). niversity of Hawaii at Manoa (ed.)). Cakalele: Maluku Research Journal (Volume 2, No. 2), diterbitkan oleh Center for Southeast Asian Studies, University of Hawaii at Manoa.
nternational Association for Mission Studies. (n.d.). Archive for Asia – International Association for Mission Studies. Missionstudies.Org. Retrieved March 11, 2026, from https://www.missionstudies.org/archive/asia/
Van den End Dr Th. (2008). Sejarah Gereja di Indonesia th. 1500-1860 an (Staff Redaksi BPK gunung mulia (ed.)). PT. BPK GUNUNG MULIA. https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=ox_pTpB9AjQC&oi=fnd&pg=PA3&dq=misi+katolik+portugis+di+ternate+&ots=9d-PIzKLZO&sig=gTUQHUHL_c_WLTbMOOSeKsFe6Yo&redir_esc=y#v=onepage&q=misi katolik portugis di ternate&f=false
Oleh : Rahma Candra Cyahyani (Universitas Negeri Malang)




