“Mitigasi Bencana dalam Perspektif Epigrafi: Studi atas Prasasti Tugu”

Pendahuluan

Siklus alam sering menimbulkan bencana bagi makhluk hidup, sehingga manusia berupaya beradaptasi melalui mitigasi bencana. Mitigasi dapat dilakukan dalam bentuk kesiapsiagaan, peringatan dini dan pencegahan (Prasetyo, 2019). Tindakannya berupa struktural maupun non-struktural. Contoh mitigasi longsor meliputi perbaikan tanah, pemasangan jangkar, dan dinding diafragma, sedangkan gempa berfokus pada peningkatan kualitas bangunan dan infrastruktur. Adapun banjir dilakukan melalui revitalisasi drainase, pembangunan waduk, dan sumur resapan. Sebelum era modern, upaya mitigasi banyak mengandalkan kearifan lokal dalam mengelola lingkungan. Dalam sejarah Nusantara, jejak mitigasi juga tercatat dalam prasasti, meskipun jumlahnya terbatas karena bencana sering dipahami secara mistikal. Kata yang merujuk pada bencana ialah “Pralaya” dalam Prasasti Pucangan yang berarti bencana besar dan “Rwa bhaya” yang berarti hama dan bahaya. Umumnya prasasti lebih banyak mencatat pengelolaan aliran air sebagai bentuk mitigasi banjir, sementara gempa, longsor, dan letusan gunung tidak disebutkan secara eksplisit. Salah satu contoh prasasti yang memuat mitigasi adalah Prasasti Tugu yang mencatat penggalian kenal pada masa Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara.

Pembahasan

Pada awal abad ke-5 Masehi, Maharaja Purnawarman telah merencanakan program pembangunan sungai-sungai di wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara (sekarang Jabodetabek). Secara geografis Kerajaan Tarumanagara memiliki dataran yang rendah dan terdapat bayak rawa-rawa, sehingga rawan terhadap bencana-bencana alam terutama banjir. Program pembangunan itu berupa memperkokoh, memperlebar, dan memperdalam sungai yang dilakukan oleh seluruh masyarakat sebagai karya bakti (Sanusi, dkk., 2022). Program ini dilakukan dengan menggali beberapa kanal dan memperdalam sungai di sekitar wilayah kerajaan. Tidak heran jika kemudian, selain Prasasti Tugu sebagian besar prasasti yang ditemukan berada di titik-titik yang berdekatan dengan aliran sungai. Prasasti Ciaruteun ditemukan di Desa Ciaruteun Ilir, terletak di tepi Sungai Ciaruteun. Prasasti Muara Cianten ditemukan di tepi Sungai Cisadane, Desa Ciaruteun Ilir. Terakhir Prasasti Cidanghiang ditemukan di tepi Sungai Cidanghiang. Sedangkan prasasti lainnya ditemukan dipedalaman atau bukit. Letak prasasti- prasasti yang berjauhan secara tidak langsung merepresentasikan luasnya Kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Tarumanagara berkembang sekitar abad ke-4 hingga ke-7 Masehi sebagaimana disebutkan dalam naskah Wangsakerta, yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta di Cirebon dan memuat sejarah Sunda serta Nusantara (Surachmad & Purnengsih, 2018). Menurut Seta (2018), kerajaan ini didirikan pada tahun 350 M oleh Rajadirajaguru Jawasingawarman. Masa kejayaanya diduga pada masa pemerintahan raja ketiga, Raja Purnawarman. Raja Purnawarman direpresentasikan sebagai Dewa Wisnu, berbagai prasasti Kerajaan Tarumanagara melegitimasi pemujaan dan pujian kepada Raja Purnawarman juga pencapaiannya. Prasasti Tugu selain berisi pujian pada Raja Purnawarman juga berisi tentang penggalian 2 kanal.

Prasasti Tugu ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu, di sekitar Simpang Lima Semper sekarang, tidak jauh dari tepian Kali Cakung. Media prasasti berupa batu andesit berbentuk menyerupai telur dengan tinggi sekitar satu meter, bertuliskan huruf Pallawa dalam lima baris. Berdasarkan analisis paleografi, prasasti ini berasal dari abad ke-5 Masehi. Isi prasasti menyebutkan penggalian dua sungai atas perintah Raja Purnawarman. Sungai Gomati digali sebagai saluran Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi) sepanjang sekitar 12 km dalam waktu 21 hari (Seokmono, 1973). Sesuai baris 1 dan 4, yakni :
Baris ke-1
“pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau”
Artinya : “Dahulu, oleh raja diraja yang mulia dan berlengan kuat, telah digali (saluran) yang termasyhur; setelah mencapai kota, (airnya) mengalir sampai ke lautan Candrabhaga.”
Baris ke-4
“ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka”
Artinya : “Sepanjang enam ribu seratus dua puluh dua dhanus, sungai yang indah bernama Gomati, yang berair jernih.”

Hipotesa lingkungan dan potensi banjir yang ada membuat Raja Purnawarman menitahkan untuk menggali 2 kanal, Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati. Beberapa ahli ada yang menyebutkan Raja Purnawarman pun ikut langsung dalam penggalian tersebut. Apabila ruas sungai Gomati yang digali adalah 6.122 tumbak, artinya ruas yang digali adalah 6.122 x 14 m2 sama dengan 85.708 m2 (Historia, 2020). Kedalaman ini diperkirakan berhasil mengatasi luapan air pada masa itu. Jelas bahwa manfaat utama dari Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati ialah upaya penanggulangan banjir. Ini membuktikan adanya upaya mitigasi bencana banjir di daerah tersebut telah ada sejak Kerajaan Tarumanagara.

Sebagai kesimpulan, mitigasi bencana diantaranya bukanlah konsep baru dalam sejarah melainkan, telah dipraktikkan sejak masa kerajaan meski, tidak selalu disebut secara eksplisit dalam prasasti. Dalam konteks Kerajaan Tarumanagara, kebijakan Raja Purnawarman sebagaimana tercatat dalam Prasasti Tugu menunjukkan adanya upaya terencana dalam pengelolaan sungai melalui penggalian Sungai Candrabhaga dan Gomati untuk mengendalikan banjir. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran ekologis dan tindakan mitigasi struktural telah menjadi bagian dari kebijakan pemerintahan masa lampau, sekaligus memperlihatkan bahwa prasasti tidak hanya merekam legitimasi kekuasaan tetapi juga respon adaptid terhadap tantangan lingkungan.

Daftar Pustaka :

  • Banjir di Kerajaan Tarumanegara. (2020, January 17). Historia – Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. https://historia.id/kuno/articles/banjir-di-kerajaan-tarumanegara-v22Kd
  • Prasetyo, B. (2019). Kearifan Lokal Sebagai Basis Mitigasi Bencana. Peran Matematika, Sains, dan Teknologi dalam Kebencanaan, 111-129.
  • Sanusi, A., Arif, F., & Hasyim, R. S. (2022). Perubahan eksistensi sungai dan pengaruhnya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat kota cirebon pada masa hindia belanda tahun 1900-1942. Yayasan Wiyata Bestari Samastra.
  • Seta, M. A. (2018). Mengenal Kerajaan-kerajaan Besar Nusantara. Laksana..
  • Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid II. Yogyakarta: Kanisius
  • Surachmad, A., & Purnengsih, I. (2018). Perancangan Karakter Purnawarman sebagai Tokoh Utama dalam Film Animasi Kerajaan Tarumanagara. Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya, 1(01), 1-7.

Oleh : Ery Widhiastuti (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top