STUDI KASUS
Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis. Terdapat masalah yang timbul yaitu beberapa hari terakhir sesudah lebaran jumlah grup musik yang ada di sepanjang jalan Kayu Tangan mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan oleh pemotongan anggaran yang diberikan oleh pemerintah kota Malang. Melalui dinas terkait yang awal mula diberikan satu juta rupiah menjadi lima ratus ribu bahkan saat ini kabarnya sudah tidak diberikan sama sekali sehingga kondisi musik jalanan di Kayu Tangan menjadi sepi dan tidak terlalu ramai seperti dulu. Kondisi tersebut merugikan seniman musik jalanan itu sendiri karena mereka harus mengeluarkan uang pribadi untuk mengadakan pertunjukan musik jalanan yang biasa mereka hadirkan.
Akibat pemangkasan anggaran tersebut terasa langsung bagi para seniman jalanan. Banyak grup panggung yang enggan tampil karena biaya operasional (perawatan alat musik, pakaian panggung, transport) harus ditanggung sendiri. Untuk mengatasi problem ini, diperlukan langkah kolaboratif dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, misalnya, harus menyadari pentingnya menghidupkan seni jalanan sebagai bagian dari identitas kota.
ANALISIS SOLUSI
Pengunjung Kayu Tangan dapat secara aktif mendukung dengan lebih banyak memberikan apresiasi atau berdonasi saat menikmati pertunjukan. Jika setiap penonton memberikan dukungan sekadarnya, beban biaya seniman bisa terbagi. Masyarakat, komunitas seni, dan pelaku wisata sebaiknya menjadi bagian dari solusi: menyuarakan pentingnya keberadaan pengamen ini, melibatkan mereka dalam agenda wisata kota, dan memperjuangkan kebijakan yang adil. Terpenting, kita harus mengakui bahwa budaya termasuk seni jalanan adalah aset tak ternilai bagi identitas Malang. Jika anggaran sekecil apapun dihilangkan, jangan biarkan itu menjadi alasan meminggirkan seniman jalanan. Pemerintah dan warga perlu bergotong royong menjaga agar Kayu Tangan kembali bersinar dengan alunan musik pengamen jalanan, demi kebudayaan dan kebanggaan kita bersama.



