“Pancasila dan Kesenian Tari: Menjaga Nilai Kebangsaan di Tengah Tantangan Zaman”

Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia yang berisi nilai-nilai fundamental bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai tersebut mencakup ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial yang menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat Indonesia (Kaelan, 2016). Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai Pancasila tidak hanya tercermin dalam sistem pemerintahan atau kebijakan negara, tetapi juga dalam berbagai aspek budaya, termasuk kesenian. Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman seni budaya, salah satunya adalah seni tari. Setiap daerah memiliki tarian tradisional yang mencerminkan nilai-nilai budaya, sejarah, serta identitas masyarakat setempat. Tari tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan, ekspresi budaya, serta media untuk menanamkan nilai-nilai moral dan sosial kepada masyarakat (Latif, 2018).

Namun, perkembangan zaman dan globalisasi membawa tantangan baru bagi keberlangsungan seni tari tradisional. Masuknya budaya populer dari luar negeri, perubahan gaya hidup masyarakat, serta perkembangan teknologi membuat sebagian generasi muda kurang mengenal dan menghargai kesenian tradisional. Oleh karena itu, muncul pertanyaan penting: Bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat membantu menjaga dan mengembangkan kesenian tari Indonesia di tengah tantangan kontemporer?
Salah satu tantangan yang dihadapi kesenian tari di Indonesia saat ini adalah pengaruh globalisasi budaya. Arus informasi yang cepat melalui internet dan media sosial membuat budaya luar dengan mudah masuk dan memengaruhi gaya hidup masyarakat, terutama generasi muda. Banyak anak muda yang lebih tertarik pada budaya populer internasional dibandingkan dengan kesenian tradisional yang berasal dari daerahnya sendiri. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka kesenian tradisional seperti tari daerah dapat mengalami penurunan minat bahkan berisiko dilupakan.

Dalam konteks ini, nilai Persatuan Indonesia yang terkandung dalam sila ketiga Pancasila memiliki peran penting. Kesenian tari dapat menjadi simbol persatuan bangsa karena setiap tarian mencerminkan identitas budaya daerah yang berbeda, namun semuanya menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional. Ketika masyarakat menghargai keberagaman tari daerah, maka secara tidak langsung mereka juga memperkuat rasa persatuan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia (Winarno, 2017). Selain itu, seni tari juga mencerminkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab sebagaimana terdapat dalam sila kedua Pancasila. Banyak tarian tradisional yang menggambarkan kehidupan masyarakat, hubungan sosial, serta nilai-nilai moral yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui gerakan, musik, dan ekspresi, tari dapat menyampaikan pesan tentang kerja sama, rasa hormat, serta sikap saling menghargai antarindividu dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagai contoh, beberapa tarian tradisional di Indonesia menggambarkan semangat kebersamaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas budaya Indonesia. Nilai gotong royong ini sejalan dengan semangat Pancasila yang menekankan pentingnya kerja sama dalam mencapai kesejahteraan bersama (Kaelan, 2016). Dalam proses penciptaan maupun pertunjukan tari, kerja sama antara penari, pemusik, penata tari, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar sebuah pertunjukan dapat berjalan dengan baik.
Perkembangan teknologi juga memberikan tantangan sekaligus peluang bagi kesenian tari. Di satu sisi, teknologi dapat membuat masyarakat lebih tertarik pada hiburan modern sehingga kesenian tradisional kurang mendapat perhatian. Namun di sisi lain, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan tari tradisional kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui media digital, pertunjukan tari dapat disebarluaskan sehingga dapat dikenal tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di tingkat internasional.
Dalam hal ini, nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dapat menjadi pedoman dalam pengembangan kesenian tari. Pemerintah, seniman, lembaga pendidikan, serta masyarakat perlu bekerja sama melalui musyawarah untuk merumuskan strategi pelestarian dan pengembangan seni tari. Kolaborasi antara berbagai pihak dapat menciptakan inovasi baru tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tari tradisional.

Selain itu, seni tari juga dapat berperan dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana tercantum dalam sila kelima Pancasila. Pengembangan kesenian tari dapat memberikan peluang ekonomi bagi para seniman, penari, dan pelaku industri kreatif. Festival budaya, pertunjukan seni, serta kegiatan pariwisata yang melibatkan seni tari dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus melestarikan budaya bangsa. Dengan demikian, seni tari tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan budaya yang sangat penting. Melalui seni tari, nilai-nilai Pancasila dapat diwariskan kepada generasi muda secara lebih menarik dan mudah dipahami. Proses pembelajaran tari di sekolah maupun di sanggar seni dapat menjadi sarana untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya bangsa sekaligus memperkuat karakter kebangsaan.

Kesenian tari merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Di tengah berbagai tantangan kontemporer seperti globalisasi budaya, perubahan gaya hidup, serta perkembangan teknologi, keberadaan seni tari tradisional perlu terus dijaga dan dikembangkan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat menjadi landasan penting dalam upaya pelestarian kesenian tari di Indonesia. Persatuan, kemanusiaan, kerja sama, serta keadilan sosial yang terkandung dalam Pancasila sejalan dengan nilai-nilai yang hidup dalam tradisi seni tari. Oleh karena itu, masyarakat terutama generasi muda perlu terus mempelajari, menghargai, dan mengembangkan kesenian tari sebagai bagian dari identitas bangsa. Dengan menjadikan Pancasila sebagai pedoman, seni tari tidak hanya dapat bertahan di tengah perkembangan zaman, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat persatuan serta memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.

Daftar Pustaka

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. (2020). Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: BPIP.
Kaelan. (2016). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
Latif, Yudi. (2018). Wawasan Pancasila: Bintang Penuntun untuk Pembudayaan. Jakarta: Mizan.
Winarno. (2017). Paradigma Baru Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Jakarta: Bumi Aksara.

Oleh : Sevina Amanatus Salsabila Khaironi (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top