Perkembangan zaman yang pesat, telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal peran dan posisi perempuan di masyarakat. Dulu, perempuan lebih sering diidentikkan dengan tugas-tugas domestik, seperti mengurus rumah tangga, mengasuh anak, dan menjalankan pekerjaan yang dianggap “lembut” atau tidak membutuhkan mobilitas tinggi. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesetaraan gender, perempuan mulai merambah ke berbagai sektor pekerjaan yang dulunya didominasi oleh laki-laki. Aplikasi Gojek dan Grab di Kota Malang mulai beraktifitas dan mulai mencapai puncaknya pada tahun 2016, dengan ditunjukkan banyaknya fasilitas yang diberikan oleh aplikasi Grab dan Gojek seperti layanan pengantaran barang dan penyedia jasa pembelian makanan dan pembelian tiket, termasuk jasa pengiriman barang lainnya (Nugroho, 2016). Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi sosial tentang peran perempuan mengalami pergeseran, meskipun perubahan tersebut tidak serta-merta diterima oleh semua kalangan masyarakat.
Salah satu profesi yang mencerminkan transformasi tersebut adalah ojek online. Sejak kemunculannya, pekerjaan ini lebih banyak diisi oleh laki-laki karena dianggap membutuhkan tenaga fisik, keberanian, serta jam kerja yang tidak menentu. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perempuan yang ikut serta menjadi pengemudi ojek online, termasuk di Kota Malang sebuah kota yang tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar, tetapi juga kota dengan mobilitas ekonomi yang tinggi. Pengguna tersebut tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai seller atau penyedia jasa (Anindita, 2016). Perempuan pengemudi ojek online kini dapat ditemui dengan mudah di jalan-jalan kota, mengenakan atribut resmi dari platform transportasi daring, dan melayani berbagai kebutuhan pelanggan, mulai dari transportasi hingga pengantaran barang dan makanan.
Sayangnya, kehadiran perempuan dalam profesi ini belum sepenuhnya diterima oleh semua pihak. Masih banyak pandangan konservatif di masyarakat yang menganggap pekerjaan sebagai ojek online tidak layak atau tidak pantas dilakukan oleh perempuan. Mereka dianggap melanggar norma sosial, menghadapi risiko keamanan yang tinggi, dan bahkan dipandang “tidak tahu diri” karena bekerja di ruang publik yang keras dan kompetitif. Emansipasi yang terus menurus dipoles, akan terus mendorong kaum perempuan untuk tetap memperjuangkan kesetaraannya dengan laki-laki (Verastiwi, 2018). Akibatnya, perempuan ojek online sering kali mendapat stigma negatif, cibiran, hingga pelecehan secara verbal. Dari hal itulah yang mendukkung secara perlahan pengemudi ojek online perempuan enggan untuk berpartisipasi dengan menyadarii kapasista diri sebagai perempuan serta menghindari cuitan bahkan godaan dari pengemudi ojek online pria (Wulan, 2018). Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana masyarakat membagi pandangannya terhadap perempuan dalam profesi ini. Artikel ini akan membahas persepsi yang muncul di kalangan masyarakat Kota Malang terhadap perempuan pengemudi ojek online, tantangan yang mereka hadapi, serta langkah-langkah apa saja yang dapat diambil untuk menghapus stigma yang masih melekat.
- Latar Sosial Perempuan Ojek Online
Perempuan yang memilih bekerja sebagai pengemudi ojek online di Kota Malang datang dari latar belakang sosial ekonomi yang beragam, namun sebagian besar di antaranya menghadapi tekanan ekonomi yang cukup besar. Banyak dari mereka yang menjadi tulang punggung keluarga karena berbagai alasan kehilangan suami, menjadi ibu tunggal, atau karena penghasilan suami tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga. Dalam kondisi seperti ini, bekerja sebagai ojek online menjadi salah satu pilihan realistis karena tidak membutuhkan pendidikan tinggi, modal besar, ataupun pengalaman kerja khusus. Hal ini bisa dimafhumi ketika melihat di sebuah tempat atau mangkal banyak didominasi laki-laki, maka secara perlahan pengemudi ojek online perempuan tersebut enggan untuk ikut berpartisipasi karena menyadari kapasitas diri sebagai perempuan dan juga merasa risih dengan cuitan dan bahkan godaan yang diberikan oleh teman laki-laki yang seprofesi dengannya (Perguna, 2019). Profesi ini memberikan fleksibilitas yang dibutuhkan oleh perempuan, terutama yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga. Mereka bisa memilih jam kerja sendiri, menyesuaikan dengan jadwal anak-anak atau keperluan keluarga lainnya. Selain itu, penghasilan yang didapatkan bisa diterima harian, sehingga sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tidak sedikit dari mereka yang merasa bangga karena mampu menghidupi diri sendiri dan anak-anaknya secara mandiri. Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang mengatakan bahwa mereka memilih untuk menjadi driver ojek online sebagai pekerjaan dengan alasan tidak perlu mengeluarkan modal banyak dan cukup mudah dalam mengerjakannya, serta jam kerja yang tidak ditentukan dan dapat dilakukan kapan dan dimana saja (Siti Arofah & Alam, 2019). Namun, pilihan ini sering kali berseberangan dengan norma sosial dan budaya yang masih cukup kuat mengakar. Dalam pandangan sebagian masyarakat, perempuan idealnya berada di rumah, mengurus anak dan suami, bukan berkendara sendiri keliling kota, mengangkut penumpang asing, apalagi laki-laki. Tindakan ini dianggap “tidak sopan”, “tidak aman”, atau bahkan “tidak pantas” dilakukan oleh perempuan. Perempuan yang menjadi driver ojek online kerap kali dipandang seolah-olah melanggar batas peran gender tradisional yang telah lama terbentuk.
- Pandangan Positif Seperti Dukungan dan Apresiasi
Meskipun tantangan cukup besar, tidak semua masyarakat memberikan penilaian negatif. Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender dan apresiasi terhadap kerja keras perempuan, muncul pula pandangan positif dari berbagai pihak. Banyak pengguna jasa ojek online, terutama perempuan, merasa lebih nyaman jika diantar oleh driver perempuan. Dukungan terhadap pernyataan berikut adalah Irwan (2003) mengemukakan konteks gender tersebut sebagai kontruksi sosiokultural yang membedakan jenis kelamin. Mereka menilai bahwa perempuan cenderung lebih hati-hati, lebih sopan dalam berinteraksi, dan sering kali menunjukkan empati yang tinggi terhadap penumpang. Secara umum, alasan perempuan memilih untuk bekerja, adalah (Puspitasari, 2016):
1. Jumlah tanggungan keluarga
2. Memanfaatkan ilmu yang telah dimiliki
3. Membantu suami
4. Mengisi waktu luang.
Media sosial turut memainkan peran penting dalam membentuk citra positif perempuan pengemudi ojek online. Dalam banyak kasus, masyarakat justru merasa kagum terhadap ketangguhan perempuan dalam menghadapi kerasnya kehidupan perkotaan.
- Pandangan Negatif Tentang Stigma dan Diskriminasi Gender
Meski ada stigma terhadap perempuan dalam profesi ojek online masih sangat nyata. Banyak masyarakat yang memandang mereka dengan kacamata penuh prasangka. Perempuan dianggap tidak seharusnya bekerja di jalanan, apalagi melakukan pekerjaan yang “berat” dan berisiko. Sebutan seperti “tidak tahu malu”, “wanita liar”, atau “gagal jadi ibu rumah tangga” sering kali dilontarkan, baik secara langsung maupun tersirat. Iswantini (2017) beranggapan bahwa driver ojek online perempuan adalah soal memperbaiki stereotip yang beredar di masyarakat bahwa profesi tukang ojek adalah profesi yang tidak pantas dilakukan oleh kaum hawa karena keterbatasan fisik. Stigma ini tidak hanya datang dari masyarakat umum, tetapi juga bisa berasal dari keluarga, tetangga, bahkan pasangan mereka sendiri. Ini menunjukkan bahwa diskriminasi sosial terhadap perempuan yang mandiri masih mengakar kuat di berbagai lapisan masyarakat.
Selain itu, perempuan pengemudi ojek online juga lebih rentan terhadap ancaman kekerasan, pelecehan seksual, dan ketidakamanan di jalan. Hal-hal semacam ini jarang dialami oleh pengemudi laki-laki dalam skala yang sama. Tidak sedikit dari mereka yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari penumpang laki-laki, bahkan dalam bentuk yang cukup membahayakan secara fisik maupun psikologis.
- Upaya Menghapus Stigma
Untuk menghapus stigma terhadap perempuan yang bekerja sebagai pengemudi ojek online, diperlukan upaya kolektif dan berkelanjutan dari berbagai pihak. Sosialisasi gender dapat direproduksi melalui kelembagaan sosial (Marhumah, 2011). Pertama, edukasi masyarakat sangat penting untuk mengubah pola pikir konservatif yang masih melekat. Kesadaran akan kesetaraan gender harus ditanamkan sejak dini, baik melalui kurikulum pendidikan, diskusi publik, maupun media massa. Kedua, perusahaan penyedia layanan ojek online seperti Gojek dan Grab perlu mengambil peran aktif dalam melindungi driver perempuan. Mereka bisa memberikan pelatihan khusus, menyediakan layanan pengaduan yang responsif, dan menciptakan komunitas internal yang aman dan suportif. Ketiga, pemerintah daerah juga harus ikut serta dalam menciptakan ruang kerja yang aman dan adil bagi perempuan. Kota Malang bisa mempelopori kebijakan yang pro terhadap pekerja informal perempuan, misalnya dengan menyediakan tempat istirahat khusus, layanan hukum gratis.
- Perspektif Gender Dalam Masyarakat Malang
Sebagai kota pendidikan dan budaya, Malang memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor perubahan sosial yang lebih inklusif. Namun, dalam kenyataannya, nilai-nilai patriarkal masih cukup kuat di banyak lingkungan. Pandangan bahwa laki-laki adalah satu-satunya pencari nafkah dan perempuan sebaiknya tinggal di rumah masih hidup dalam banyak keluarga. Muqoyyin (2013) memandang gender adalah bukan dari kemampuan fisikal saja. Ini menciptakan tekanan sosial terhadap perempuan yang memilih untuk tampil di ruang publik. Meskipun demikian, gelombang perubahan mulai terlihat, terutama di kalangan anak muda. Generasi muda di Malang semakin terbuka terhadap peran perempuan dalam berbagai profesi. Mereka cenderung lebih menghargai kerja keras dan kemandirian, tanpa melihat jenis kelamin. Media sosial, dunia pendidikan, dan interaksi lintas budaya di kota ini menjadi faktor yang mendukung perubahan cara pandang tersebut.




