Pada akhir abad ke-16, Kesultanan Aceh menonjol sebagai kekuatan maritim terkemuka di Asia Tenggara. Letak strategisnya di pintu masuk Selat Malaka menjadikannya pusat perdagangan internasional, menarik kapal dari India, Timur Tengah, hingga Asia Timur. Namun, pasca-penaklukan Malaka oleh Portugis pada 1511, Aceh menghadapi ancaman asing yang memicu penguatan militer, khususnya armada laut. Dalam sistem pertahanan ini, Pasukan Inong Balee yang dipimpin Laksamana Keumalahayati dan terdiri dari
janda prajurit yang gugur melawan musuh asing. “Inong Balee” berarti “perempuan janda,” mencerminkan semangat balas dendam mereka. Kajian ini penting karena historiografi Indonesia masih minim membahas peran perempuan dalam sejarah militer
maritim, sehingga memperkaya pemahaman tentang kontribusi Aceh dan posisi perempuan Nusantara. Penulisan esai ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap utama, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Tahap heuristik dilakukan dengan mengumpulkan berbagai sumber sejarah yang berkaitan dengan Kesultanan Aceh, Keumalahayati, dan Pasukan Inong Balee. Sumber-sumber tersebut meliputi naskah klasik seperti Hikayat Aceh dan Bustan al-Salatin, serta catatan perjalanan pelaut Eropa seperti James Lancaster dan Jan Huygen van Linschoten. Setelah sumber-sumber tersebut dikumpulkan, dilakukan kritik sumber untuk menilai keaslian dan kredibilitasnya. Tahap selanjutnya adalah interpretasi, yaitu menafsirkan fakta-fakta sejarah yang ditemukan untuk memahami peran Pasukan Inong Balee dalam kekuatan maritim Aceh. Tahap terakhir adalah historiografi, yaitu penyusunan hasil penelitian dalam bentuk tulisan sejarah yang sistematis.
Pada akhir abad ke-16, Kesultanan Aceh dikenal sebagai salah satu kerajaan maritim yang kuat di kawasan Asia Tenggara. Posisi geografisnya yang berada di pintu masuk Selat Malaka membuat Aceh memiliki peranan penting dalam perdagangan internasional. Kapal-kapal dari berbagai wilayah seperti India, Timur Tengah, dan Asia Timur sering singgah di pelabuhan Aceh untuk melakukan aktivitas perdagangan. Kondisi ini menjadikan Aceh tidak hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai
kekuatan politik yang berpengaruh di kawasan tersebut. Kekuatan maritim Aceh tidak hanya didasarkan pada aktivitas perdagangan, tetapi juga pada kekuatan militernya. Aceh memiliki armada kapal perang yang digunakan untuk melindungi jalur perdagangan serta menghadapi ancaman dari kekuatan asing. Dalam beberapa catatan perjalanan Eropa, Aceh digambarkan sebagai kerajaan yang memiliki pelabuhan ramai dan armada laut yang besar. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan maritim merupakan salah satu unsur utama dalam kekuatan politik dan ekonomi Aceh pada masa tersebut. Dalam konteks pertahanan maritim inilah berbagai unsur masyarakat Aceh turut terlibat dalam upaya mempertahankan kerajaan, termasuk keterlibatan perempuan dalam struktur militer.
Salah satu bentuk keterlibatan tersebut terlihat melalui keberadaan Pasukan Inong Balee yang dipimpin oleh Keumalahayati. Pasukan Inong Balee merupakan unit militer perempuan yang dibentuk dari para janda prajurit Aceh yang suaminya gugur dalam peperangan melawan bangsa asing. Nama “Inong Balee” sendiri secara harfiah berarti perempuan yang telah kehilangan suami. Dalam berbagai sumber sejarah Aceh, pasukan ini digambarkan sebagai kelompok perempuan yang terlatih dalam peperangan dan
memiliki semangat perlawanan yang tinggi terhadap kekuatan asing. Di bawah kepemimpinan Keumalahayati, pasukan ini terlibat dalam berbagai aktivitas militer, terutama dalam mempertahankan wilayah laut Aceh. Catatan perjalanan James Lancaster menyebutkan bahwa Keumalahayati merupakan salah satu tokoh penting dalam struktur militer Aceh dan memiliki pengaruh besar dalam hubungan diplomatik antara Aceh dan Inggris pada akhir abad ke-16. Keberadaan pasukan Inong Balee menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki peran strategis dalam sistem pertahanan maritim kerajaan, terutama dalam menghadapi ancaman kekuatan asing yang berusaha menguasai jalur perdagangan di kawasan tersebut. Peran aktif perempuan dalam militer Aceh tidak dapat dilepaskan dari kedudukan perempuan dalam masyarakat Aceh pada masa itu. Dalam tradisi sosial Aceh, perempuan memiliki posisi yang cukup kuat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang ekonomi dan politik. Hal ini terlihat dari munculnya beberapa tokoh perempuan yang memegang peranan penting dalam sejarah Aceh.
Selain Keumalahayati, sejarah Aceh juga mencatat adanya beberapa sultanah yang pernah memerintah kerajaan tersebut pada abad ke-17. Fakta ini menunjukkan bahwa perempuan Aceh memiliki ruang partisipasi yang luas dalam kehidupan publik. Dengan
demikian, keberadaan Pasukan Inong Balee tidak dapat dipahami sebagai fenomena yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari tradisi sosial Aceh yang memberikan ruang bagi perempuan untuk berperan aktif dalam mempertahankan kerajaan. Berdasarkan uraian tersebut, Pasukan Inong Balee dapat dipahami sebagai salah satu unsur penting dalam kekuatan maritim Aceh pada akhir abad ke-16. Di bawah kepemimpinan Keumalahayati, pasukan ini tidak hanya menjadi simbol perlawanan terhadap kekuatan asing, tetapi juga menunjukkan bahwa Kesultanan Aceh mampu memobilisasi berbagai unsur masyarakat, termasuk perempuan, dalam
mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Selain itu, keberadaan Pasukan Inong Balee juga memperlihatkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam sejarah militer dan maritim Nusantara. Juga untuk memperkaya perspektif historiografi Indonesia
mengenai kontribusi perempuan dalam sejarah perjuangan bangsa.
Daftar Pustaka
Hikayat Aceh. (1979). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Nuruddin ar-Raniri. (1992). Bustan al-Salatin. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
James Lancaster. (1877). The voyages of Sir James Lancaster to the East Indies. London: Hakluyt Society.
Records of the East India Company. (1600–1700). Travel records and maritime reports relating to Kesultanan Aceh.
Universitas Padjadjaran. (2022). Laksamana Keumalahayati dan Pasukan Inong Balee dalam Sejarah Aceh. Jurnal Kajian Riset Kebudayaan.
Mawarnis. (2022). Peran Laksamana Keumalahayati dalam perlawanan Kesultanan Aceh terhadap bangsa asing abad XVI–XVII (Tesis). UIN Walisongo Semarang
Oleh : Panisa Mareta Nurhidayah (Universitas Negeri Malang)




