Pendahuluan
Portugis merupakan negara Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Kepulauan Rempah tepatnya di Maluku pada 1512 juga di Kepulauan Banda dan Ternate. Kepulauan Banda adalah gugusan pulau vulkanik yang terletak di Laut Banda dengan posisi yang menguntungkan untuk ekspedisi rempah-rempah karena dekat dengan laut. Kepulauan Banda merupakan rumah bagi pala untuk tumbuh dan satu-satunya daerah penghasil pala di Kepulauan Rempah. Pala yang pada masa itu memiliki nilai jual yang sangat menjanjikan dan berharga membuat Portugis memiliki keinginan untuk menguasai. Akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 setelah berhasil menyebarkan pengaruh monopoli perdangannya, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mulai menunjukkan minat untuk menyebarkan pengaruh di daerah lain. VOC melihat adanya tanda kekuasaan Portugis yang mulai lemah di Kepulauan Banda sebagai hal menguntungkan. Portugis berhasil diusir dan VOC kemudian membangun Benteng pertama dengan nama Benteng Nassau (1609) diatas bekas fondasi benteng Portugis. Benteng Nassau dijadikan sebagai pusat pertahanan, administrasi, dan pengawasan perdagangan. Tahun 1611 dibangun Benteng Belgica untuk melindungi benteng sebelumya. Benteng Nassau dan Benteng Belgicia tidak hanya berfungsi sebagai bangunan militer saja, namun sebagai tanda monopoli di Banda.
Kedatangan VOC di Kepulauan Banda
Kepulauan Banda dikenal sebagai satu-satunya daerah penghasil rempah-rempah dengan nilai jual tinggi, yaitu pala. Portugis yang pada waktu itu menguasai Kepulauan Banda menjadi semakin berkuasa, namun lambat laun mulai kehilangan pengaruhnya apalagi sejak ada dominasi dibawah perusahaan dagang Belanda yaitu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Pengaruh Portugis yang mulai terlihat lemah di Kepulauan Banda ternyata menarik minat VOC apalagi letak Kepulauan Banda yang dekat dengan laut memberikan keuntungan besar kepada VOC dengan kemudahan kapal keluar masuk. VOC dengan cepat menyebarkan dominasinya dan mengusir Portugis dari Kepulauan Banda. VOC mengirim armada kapal bersenjata dibawah pimpinan Laksamana Verhoeven ke Banda pada 1609 (Poesponegoro & Notosusanto, 1993; Farid, 2018 dikutip dalam Lailiyah dkk., 2021). Awalnya kesepakataan dagang berjalan dengan damai, namun ambisi VOC untuk mendapatkan keuntungan lebih semakin menggila sehingga terjadinya monopoli perdagangan.
Benteng Nassau dan Benteng Belgica sebagai Tanda Dominasi
VOC akhirnya berhasil menguasai Kepulauan Banda. VOC kemudaian membangun benteng sebagai langkah pengamanan juga pemantauan terkait rempah-rempah yang dimilikinya. Benteng Nassau pertama kali dibangun Portugis pada tahun 1527, setelah berdiri fondasi awal Portugis tidak melanjutkan pembangunan karena penolakan dan perlawanan dari penduduk Banda di masa itu. Pada 25 April 1609, armada VOC-Belanda dibawah kepemimpinan Laksamana Pieterszoon Verhoeven memerintahkan 750 tentara untuk memulai pembangunan Benteng Nassau di atas bekas fondasi yang ditinggalkan Portugis (Larabani & Raman, 2023). Benteng didesain dengan denah segi empat yang disetiap sudutnya dengan menara untuk memantau musuh juga proses dagang VOC. Wilayah benteng dipilih dekat laut bertujuan mempermudah kontrol perdagangan dan kapal keluar masuk, namun kondisi ini tidak sepenuhnya membawa kesan aman bagi VOC, karena berada dibawah kaki bukit sehingga mudah untuk dipantau atau diserang dari ketinggian.
Rakyat Kepulauan Banda yang terusir oleh VOC menjadi sering melakukan serangan dan menembaki Benteng Nassau dengan panah api dari atas bukit dekat Benteng. Untuk menghentikan perlawanan penduduk, maka tahun 1611 Gubernur Jenderal Pieter Both memerintahkan pembangunan benteng pertahanan kecil di atas bukit itu dengan ketinggian 30 mdpl dan diberi nama Belgica (Surbakti, 2021). Desain benteng lebih kompleks dan ikonik dengan struktur bangunan beringkat berbentuk segi lima dengan menara disetiap sisinya. Bentuk benteng yang segi lima atau pentagon membuat benteng sering dijuluki The Pentagon of Indonesia. Jika musuh menyerang melalui laut maka akan dihadapkan kekuatan dari benteng Nassau, dan jika mencoba melalui bukit akan dihambat oleh pertahanan benteng Belgicia. Keadaan ini sangat aman bagi pertahanan VOC. Peran kedua benteng dalam moonopoli dan pertahanan semakin terlihat setelah peristiwa penaklukan Banda tahun 1621 dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen yang terjadi akibat adanya perlawanan dari penduduk lokal.
Kesimpulan
Benteng Nassau dan Benteng Belgica nyatanya memegang peran yang luar biasa bagi VOC pada masa pendudukannya di Kepulauan Banda. Melalui benteng ini VOC memiliki akses lebih untuk menjalankan pengawasan perdanganan, administrasi, dan monopoli. Dengan demikian kedua benteng ini bukan hanya untuk berfungsi sebagai pertahanan namun bukti kuat adanya keberhasilan monopoli dangan yang dijalankan VOC di Kepulauan Banda.
Daftar Rujukan
Labarani, Ratih & La Raman. 2023. Benteng Nassau: Ekskavasi, Preservasi, dan Dampak Sosiologis pada Masyarakat Banda Neira. Jurnal Pendidikan Sejarah dan Studi Budaya, Vol. 1 No.2, hlm. 33–50.
Lailiyah, Nur Ika, Khairunnisaa, A., & Ekaristiningrum, E. D. 2021. Merawat Ingatan Peristiwa Genosida dan Dominasi VOC di Banda Tahun 1621 (Dalam Perspektif Sosial-Ekonomi). Historiography: Journal of Indonesian History and Education, Vol. 1 No. 4, hlm. 506–514.
Mansyur, Syahruddin. 2006. Sistem Pertahanan di Maluku Abad XVII–XIX (Kajian terhadap Pola Sebaran Benteng). Kapata Arkeologi, Vol. 2 No. 3, hlm. 47–63.
Sinaga, R., Lirinza, A. Z., Yanti, D. D., Hulu, E. M., & Sigiro, L. T. 2025. Dari Perlawanan ke Penaklukan: Strategi VOC dalam Menguasai Banda Neira dan Konsekuensi Jangka Panjangnya. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, Vol. 10 No. 4, hlm. 337–341.
Surbakti, Karyamantha. 2021. Pemanfaatan Tinggalan Kolonial di Pulau Neira, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah sebagai Upaya Preservasi Cagar Budaya. Forum Arkeologi, Vol. 34 No. 1, hlm. 51–66.
Oleh : Alvina Putri Fortuna (Universitas Negeri Malang)




