Galangan kapal merupakan tempat atau fasilitas industri yang digunakan untuk membangun, memperbaiki, dan merawat kapal. Di dalam galangan kapal biasanya terdapat berbagai sarana seperti dermaga, dok kering (dry dock), bengkel permesinan, serta area perakitan badan kapal. Fasilitas ini memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas pelayaran, perdagangan, serta pertahanan maritim karena kapal membutuhkan tempat khusus untuk dibuat maupun diperbaiki agar tetap layak beroperasi. Pada masa kini, galangan kapal masih menjadi bagian penting dari industri maritim modern. Contohnya adalah perusahaan galangan kapal seperti PT PAL Indonesia yang memproduksi kapal perang, kapal niaga, hingga melakukan perawatan kapal di Indonesia, serta perusahaan besar dunia seperti Hyundai Heavy Industries di Korea Selatan yang menjadi salah satu galangan kapal terbesar di dunia.
Keberadaan galangan kapal sebenarnya sudah ada sejak masa lalu, termasuk pada masa kolonial. Pada abad ke-17 hingga ke-18, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) memiliki galangan kapal di Pulau Onrust yang terletak di Kepulauan Seribu dekat Batavia. Galangan kapal ini digunakan untuk memperbaiki dan merawat kapal-kapal VOC yang berlayar di kawasan Asia, sehingga menjadi fasilitas penting dalam menjaga kelancaran perdagangan dan kekuatan maritim VOC. Dengan demikian, galangan kapal memiliki peran yang sangat strategis, baik pada masa lalu maupun masa kini, karena menjadi pusat pembangunan, perawatan, dan keberlangsungan operasional kapal yang mendukung aktivitas ekonomi, perdagangan, dan kekuatan maritim suatu wilayah. (Yazril Azkar & Wijaya, 2024)
Menurut kajian (Apriliani dkk., 2016) mengenai kegiatan di galangan kapal, proses perbaikan kapal dilakukan melalui beberapa tahapan kerja yang sistematis agar kapal kembali layak beroperasi. Proses dimulai dengan pemeriksaan awal untuk mengetahui kondisi kapal serta mengidentifikasi kerusakan pada bagian lambung, mesin, dan komponen lainnya. Setelah itu kapal dinaikkan ke galangan atau dock agar bagian bawah kapal dapat diperiksa dengan lebih mudah. Tahap berikutnya adalah pembersihan lambung kapal dari lumut, karat, dan teritip yang menempel sehingga kondisi permukaan kapal dapat terlihat dengan jelas.
Setelah proses pembersihan selesai, dilakukan perbaikan pada bagian yang rusak seperti pengelasan lambung yang bocor, penggantian komponen yang sudah tidak layak pakai, serta perbaikan atau penyetelan mesin kapal. Selanjutnya kapal dicat kembali menggunakan cat pelindung untuk mencegah korosi dan pertumbuhan organisme laut. Tahap terakhir adalah pengujian kapal untuk memastikan seluruh sistem berfungsi dengan baik sebelum kapal kembali diturunkan ke laut dan dioperasikan.
Berdasarkan jurnal (Hasbullah, 2016) tentang strategi penguatan galangan kapal nasional, penguatan armada dilakukan melalui peningkatan kemampuan industri galangan kapal dalam membangun, memperbaiki, dan merevitalisasi kapal. Salah satu langkah utama adalah melakukan revitalisasi armada yang sudah tua, karena sebagian besar kapal yang beroperasi telah berusia lebih dari 20 tahun sehingga efisiensi dan kinerjanya menurun. Melalui perbaikan, perawatan, dan modernisasi kapal, armada dapat kembali beroperasi dengan lebih efektif tanpa harus sepenuhnya mengganti kapal baru.
Selain itu, penguatan armada juga dilakukan dengan meningkatkan kapasitas galangan kapal nasional agar mampu membangun kapal baru serta melakukan docking dan perbaikan secara lebih efisien. Penggunaan material lokal, peningkatan teknologi galangan, serta pengelolaan jadwal pembangunan dan perbaikan kapal yang baik dapat mengurangi biaya dan risiko operasional. Dengan adanya industri galangan yang kuat, ketersediaan kapal dapat meningkat sehingga armada pelayaran termasuk yang berfungsi untuk kepentingan pertahanan dan keamanan menjadi lebih kuat, efektif, dan siap mendukung kebutuhan transportasi maupun kekuatan maritim nasional.
Kesimpulan
Galangan kapal memiliki peran penting dalam pembangunan, perawatan, dan perbaikan kapal agar tetap layak beroperasi serta mendukung aktivitas pelayaran dan perdagangan. Sejak masa kolonial, fasilitas galangan kapal sudah menjadi bagian penting dari kekuatan maritim. Di Nusantara, salah satu galangan kapal yang berperan besar berada di Pulau Onrust yang digunakan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Melalui galangan tersebut, kapal-kapal yang berlayar di kawasan Asia dapat diperbaiki, dirawat, dan dipersiapkan kembali untuk berlayar, sehingga aktivitas perdagangan dan kekuatan maritim VOC tetap terjaga. Dengan demikian, galangan kapal tidak hanya berfungsi sebagai tempat perbaikan kapal, tetapi juga sebagai infrastruktur strategis yang mendukung kelangsungan pelayaran, perdagangan, dan kekuatan maritim suatu wilayah.
Bagaimana peran galangan kapal di Pulau Onrust?
Galangan kapal di Pulau Onrust berperan sebagai pusat perbaikan, perawatan, dan persiapan kapal-kapal VOC yang beroperasi di wilayah Asia. Fasilitas ini membantu menjaga kondisi armada agar tetap layak berlayar, memperkuat kekuatan maritim VOC, serta mendukung kelancaran perdagangan di kawasan Batavia dan jalur perdagangan Nusantara. (Buana Ma’ruf & Ahmad Bisri, 2023)
Daftar Pustaka
Apriliani, I. M., Wisudo, S. H., Iskandar, B. H., & Novita, Y. (2016). JARINGAN KERJA DAN EFEKTIVITAS PERBAIKAN KAPAL DI GALANGAN KPNDP DKI JAKARTA, MUARA ANGKE (Network and Effectiveness of Ship Repair at KPNDP Shipyard DKI Jakarta, Muara Angke). Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management, 5(1), 79–89. https://doi.org/10.29244/jmf.5.1.79-89
Buana Ma’ruf & Ahmad Bisri. (2023). KONSISTENSI PENGARUH SUMBERDAYA DALAM MENDUKUNG DAYA SAING GALANGAN KAPAL NASIONAL. Majalah Ilmiah Pengkajian Industri, 12(3), 173–180. https://doi.org/10.29122/mipi.v12i3.3076
Hasbullah, M. (2016). STRATEGI PENGUATAN GALANGAN KAPAL NASIONAL DALAM RANGKA MEMPERKUAT EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI ARMADA PELAYARAN DOMESTIK NASIONAL 2030. 14.
Kurniawan, M. B., Amiruddin, A., & Budianto, A. (2024). Transformasi Pulau Onrust: Dari Karantina Haji Hingga Penjara Politik (1933-1951). Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia, 4(2), 193–202. https://doi.org/10.52436/1.jishi.200
Nathanael, J., & Surya, R. (t.t.). KAJIAN REVITALISASI GALANGAN KAPAL VOC: MENGHIDUPKAN ZONA PERDAGANGAN KELAUTAN BATAVIA.
Prayetno, E., & Nugraha, S. (2016). ANALISIS QUALITY CONTROL DI GALANGAN KAPAL TRADISIONAL – STUDI KASUS PULAU BINTAN. 5(02).
Sabrina, D. A., Utami, A. P., & Basyari, A. (t.t.). Batavia dalam Rongrongan Kolonialisme Belanda Melalui VOC Abad ke XVII – XIX.
Yazril Azkar, R., & Wijaya, D. N. (2024). Physical Means and Trading Network of Onrust in the 17th and 18th Centuries. Yupa: Historical Studies Journal, 8(2), 308–327. https://doi.org/10.30872/yupa.v8i2.2981
Zulfakhri, A. (2025). Challenges and Opportunities in Shipyard Industry Financing in Indonesia: A SWOT Analysis Comparing Batam and Non-Batam Clusters.
Oleh : Rayhan Ramadhan Haidir (Universitas Negeri Malang)




