Kota Semarang salah satu kawasan pesisir di Jawa yang telah lama berkembang sebagai pusat perdagangan. Lokasinya di rute perdagangan pesisir utara Jawa menjadikan kota ini destinasi populer bagi para pedagang dari berbagai wilayah, baik dari kepulauan Indonesia maupun dari luar Asia. Perkembangan perdagangan di Semarang meningkat setelah kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang menjadikan kota ini salah satu pusat aktivitas ekonomi di wilayah Jawa. Komunitas Tionghoa memainkan peran penting dalam aktivitas perdagangan ini. Pedagang Tionghoa dikenal memiliki jaringan perdagangan yang luas dan aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi di kota-kota pelabuhan. Di Semarang, mereka tidak hanya bertindak sebagai pedagang tetapi juga sebagai perantara yang menghubungkan pedagang lokal dengan jaringan perdagangan yang lebih luas. Hubungan perdagangan antara pedagang Tionghoa dan komunitas Jawa mendukung perkembangan aktivitas perdagangan di wilayah tersebut. Berdasarkan kondisi ini bertujuan untuk menjelaskan peran komunitas Tionghoa dalam aktivitas perdagangan di Semarang dan bagaimana hubungan perdagangan antara pedagang Tionghoa dan komunitas lokal berkembang selama masa pemerintahan VOC.
Hubungan perdagangan antara pedagang Tionghoa dan Jawa di Semarang telah ada sejak abad ke-16, seperti yang tercatat dalam Suma Oriental karya Tomé Pires, yang menyebutkan aktivitas pedagang Tionghoa di pelabuhan-pelabuhan Jawa yang membawa porselen dan sutra dari Tiongkok serta mengangkut rempah-rempah kembali. Di Semarang, hubungan ini berkembang menjadi sistem perdagangan yang saling menguntungkan pedagang Tionghoa membeli beras, gula, dan rempah-rempah dari pedagang Jawa untuk diekspor, sementara juga mendistribusikan barang-barang impor ke pedalaman. Komunitas Tionghoa di Semarang berkembang begitu pesat sehingga VOC menunjuk Kapitan Tionghoa pertamanya pada tahun 1672 untuk mengatur aktivitas perdagangan mereka. Dalam sistem perdagangan VOC, pedagang Tionghoa menjalankan fungsi-fungsi strategis. Pertama, sebagai perantara yang menghubungkan VOC dengan petani dan pedagang lokal, memfasilitasi pengumpulan komoditas ekspor. Kedua, sebagai pengelola jaringan distribusi yang mengontrol peredaran barang pokok dan komoditas impor. Ketiga, sebagai penyedia modal dengan jaringan perdagangan yang menjangkau Batavia dan pelabuhan strategis di Asia. Salah satu tokoh penting dalam komunitas pedagang Tionghoa di Semarang adalah Kwee Kee Hoo, yang dikenal sebagai Kapten Tionghoa pada awal masa pemerintahan VOC. Sebagai pemimpin komunitas Tionghoa dan seorang pedagang, ia berperan dalam mengatur aktivitas perdagangan dan bertindak sebagai perantara antara komunitas Tionghoa dan pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie di Semarang. Keberadaan tokoh-tokoh pedagang seperti ini menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa tidak hanya berperan sebagai pedagang, tetapi juga memegang posisi penting dalam struktur ekonomi kota pelabuhan.
Dapat disimpulkan bahwa Kota Semarang pada abad ke-17 berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan penting di pesisir utara Jawa. Letaknya yang strategis membuat Semarang menjadi tempat bertemunya pedagang dari berbagai daerah. Perkembangan ini semakin meningkat setelah kedatangan VOC, yang menjadikan Semarang sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan di wilayah Jawa. Dalam kegiatan perdagangan tersebut, komunitas Tionghoa memiliki peran penting. Mereka tidak hanya bertindak sebagai pedagang, tetapi juga sebagai penghubung antara VOC dan pedagang serta petani dari masyarakat Jawa. Melalui peran ini, pedagang Tionghoa membantu mengumpulkan komoditas seperti beras, gula, dan rempah-rempah untuk diperdagangkan ke daerah lain. Selain itu, mereka juga berperan dalam mendistribusikan barang-barang impor ke pasar lokal dan daerah pedalaman. Kerja sama antara pedagang Tionghoa dan masyarakat Jawa menunjukkan adanya hubungan perdagangan yang saling mendukung. Hal ini turut mendorong perkembangan aktivitas perdagangan di Semarang pada masa VOC.
Daftar Pustaka
Koentjaraningrat. (1994). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.
Melati, M. L., Nataya, A. K., & Wibowo, A. A. (2014). Perkembangan kawasan Pecinan Semarang. Jurnal Arsitektur Komposisi, 10(6), 361–374.
Murdiyastomo, H. Y. A., & Adra, H. M. (2023). Dinamika kebudayaan Tionghoa di Semarang.
ESTORIA: Journal of Social Science and Humanities, 3(2), 461–474.
Prayitno, U. S. (2019). Revolusi mental dalam perspektif budaya Jawa: Analisis melalui pemikiran Pierre Bourdieu. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 8(2), 223–234.
Sari, S. R., & Hendro, E. P. (2020). Konservasi Kampung Pecinan Semarang sebagai media integrasi berdimensi multikulturalisme. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 4(1), 93–108.
Pires, T. (1944). The Suma Oriental of Tomé Pires: An account of the East from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512–1515 (A. Cortesão, Ed. & Trans.). London: Hakluyt Society.
Oleh : Salfa Azalia Putri (Universitas Negeri Malang)




