“Representasi Legitimasi Kekuasaan Sriwijaya dalam Prasasti Kedukan Bukit melalui Bahasa Ilahi dan Pujasastra”

Telah diketahui secara umum, apa itu prasasti? Prasasti merupakan salah satu sumber sejarah yang sangat penting untuk memahami kehidupan di masa lampau. Prasasti biasanya ditulis pada batu atau logam dan digunakan untuk mencatat peristiwa penting, kebijakan, atau aktivitas penguasa di masa itu. Dengan adanya prasasti, kita dapat melihat akhir dari masa Prasejarah dan awal dari masa sejarah, karena masyarakt sudah mengenal sistem tulisan (Hapidi, 2020). Di antara berbagai prasasti dari zaman Kerajaan Sriwijaya, terdapat satu prasasti yang cukup penting, itu adalah Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti ini ditemukan pada 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Palembang, Sumatra Selatan, tepatnya di tepi Sungai Tatang yang bermuara ke Sungai Musi. Prasasti ini sendiri berbentuk batu dengan ukuran kisaran 45 × 80 cm dan memakai huruf Pallawa dalam aksara yang dipakai serta bahasa Melayu Kuno (Razzaq et al., 2017). Dalam isi Prasasti Kedukan Bukit diceritakan tentang perjalanan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang pada tahun 682 M, pada peristiwa saat ia memimpin pasukan dalam sebuah ekspedisi yang berakhir dengan kemenangan dan pembangunan sebuah wanua sebagai tanda syukur (Razzaq et al., 2017). Pada Prasasti Kedukan Bukit, Pemakaian bahasa yang bersifat ilahi serta gaya pujasastra tidak serta merta berfungsi sebagai catatan peristiwa, tetapi juga menjadi alat legitimasi kekuasaan para penguasa Sriwijaya di hadapan masyarakatnya.

Bahasa ilahi dalam konteks prasasti adalah cara untuk menyampaikan pesan yang sangat penting dan memiliki nilai sakral. Pesan ini biasanya tentang keberkahan, kesuksesan, perjalanan suci, atau restu ilahi untuk tindakan raja atau penguasa. Dalam sejarah Asia Tenggara, istilah seperti svasti yang berarti keselamatan atau keberkahan sering digunakan. Konsep perjalanan suci juga dipakai untuk menunjukkan bahwa tindakan politik atau ekspedisi kerajaan memiliki dimensi spiritual dan mendapat legitimasi dari kekuatan yang lebih tinggi (Hapidi, 2020). Oleh karena itu, bahasa dalam prasasti tidak hanya berfungsi sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai simbol yang menegaskan hubungan antara kekuasaan politik, kepercayaan religius, dan kosmologi masyarakat pada masa itu. Ini berarti bahwa prasasti tidak hanya menceritakan apa yang terjadi, tetapi juga menunjukkan bagaimana kekuasaan dan kepercayaan saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Dalam kajian epigrafi Sriwijaya, bahasa yang dipakai dalam prasasti sering mencerminkan unsur religius sekaligus legitimasi kekuasaan kerajaan yang sedang berkembang (Razzaq et al., 2017).

Dalam Prasasti Kedukan Bukit, bahasa yang digunakan terasa sangat sakral. Isinya menceritakan tentang perjalanan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang pada tahun 604 Saka atau 682 Masehi. Prasasti ini menjelaskan bahwa Dapunta Hyang melakukan perjalanan dengan perahu, didampingi oleh pasukan besar dari Minanga. Mereka membawa tentara dan perlengkapan. Akhirnya, mereka tiba di Mukha Upang dengan gembira setelah ekspedisi yang sukses (Hapidi, 2020). Setelah perjalanan itu, mereka mendirikan sebuah wanua atau kota. Kejayaan Sriwijaya pun dikaitkan dengan keberhasilan perjalanan tersebut. Isi prasasti ini tidak hanya mencatat peristiwa sejarah seperti ekspedisi dan pendirian pusat kekuasaan. Tetapi, juga menjelaskan bahwa keberhasilan Sriwijaya dianggap sebagai hasil dari tindakan yang diberkati secara spiritual. Hal ini memperkuat legitimasi kekuasaan Dapunta Hyang sebagai pemimpin kerajaan (Razzaq et al., 2017).

Pujasastra dalam prasasti adalah bentuk ungkapan pujian atau formula pembuka yang memiliki makna religius dan sakral. Di banyak prasasti di Nusantara, bagian awal tulisan biasanya dimulai dengan kata-kata yang mengandung doa atau harapan keberkahan, dan pujian yang berkaitan dengan kekuatan spiritual dan legitimasi kekuasaan. Dengan menggunakan ungkapan seperti ini, prasasti tidak hanya menjadi catatan peristiwa sejarah, tetapi juga menjadi media simbolik yang menghubungkan tindakan politik dengan nilai religius yang diyakini oleh masyarakat pada masa itu. Pada masa kerajaan Sriwijaya, tradisi penulisan prasasti mencerminkan pengaruh budaya dan kepercayaan yang berkembang, sehingga unsur religius dan simbolik sering muncul dalam struktur teks prasasti tersebut (Setiawan, 2021).

Dalam Prasasti Kedukan Bukit, unsur pujasastra terlihat pada awal teks. Bagian ini menggunakan kata-kata yang bermakna keberkahan dan keberhasilan. Contohnua, kata yang diterjemahkan sebagai “bahagia” atau “sukses”. Prasasti kemudian menjelaskan perjalanan suci (siddhayatra) yang dilakukan oleh Dapunta Hyang. Ia bersama pasukannya membawa banyak tentara dan perlengkapan. Mereka akhirnya tiba di Mukha Upang dan mendirikan pemukiman atau wanua. Pemukiman ini berkaitan dengan kejayaan Sriwijaya (Hapidi, 2020). Penggunaan pujasastra pada awal prasasti menunjukkan bahwa perjalanan dan pendirian kekuasaan ini dianggap tindakan yang diberkahi. Tindakan ini juga memiliki makna religius. Hal ini memperkuat legitimasi kekuasaan raja dan keberhasilan ekspansi kerajaan Sriwijara pada masa itu (Razzaq et al., 2017).

Kesimpulannya, dalam Prasasti Kedukan Bukit, unsur pujasastra terlihat jelas di awal teks. Berdasarkan pembahasan sebelumnya, prasasti ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan tidak hanya untuk mencatat sejarah, tapi juga untuk melegitimasi kekuasaan Sriwijaya. Penggunaan bahasa yang bersifat ilahi dengan istilah religius seperti siddhayatra dan ungkapan keberkahan, membuat tindakan politik Dapunta Hyang terlihat seperti mendapat restu dari kekuatan sakral. Selain itu, pujasastra di awal prasasti memperkuat makna simbolik tersebut. Peristiwa perjalanan dan pendirian kekuasaan digambarkan sebagai tindakan yang membawa keberhasilan dan kejayaan. Dengan cara ini, legitimasi kekuasaan dalam Prasasti Kedukan Bukit dibangun melalui bahasa religius dan simbolik. Hal ini menghubungkan kekuasaan politik Sriwijaya dengan dimensi sakral, sehingga kekuasaan raja terlihat sah dan mendapat pembenaran ideologis.

Daftar Rujukan

Hapidi, W. (2020). Pembangunan Pada Masa Kedatukan Sriwijaya. Khazanah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan Islam, 10(1), 61–68. https://doi.org/10.15548/khazanah.v10i1.273
Razzaq, A., Ridho, S. L. Z., & Asmuni, A. (2017). THE KINGDOM OF SRIWIJAYA IN THE DEVELOPMENT OF ISLAMIC CIVILIZATION AND THE ECONOMY IN NUSANTARA BEFORE 1500 AD. Journal of Malay Islamic Studies, 1(1), 39–52. https://doi.org/10.19109/jmis.v1i1.3790
Setiawan, I. K. (2021). HUMANIS Journal of Arts and Humanities Prasasti-Prasasti Pendek pada Arca dan Bangunan Keagamaan Masa Bali Kuno. 25, 223–229. https://doi.org/10.24843/JH.2

Oleh : Akhmad Rizqi Hidayat Nur Wachid (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top