Sahur : Tradisi Atau Gangguan?

Bulan Ramadhan adalah momen yang dinanti-nantikan bagi umat muslim di seluruh dunia. Pada bulan Ramadhan umat muslim melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan. Kegiatan makan dan minum sebelum fajar selama bulan Ramadhan atau sering disebut dengan sahur telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi umat muslim saat bulan suci Ramadhan. Saat ini sahur sudah menjadi bagian dari budaya yang berkembang di masyarakat. Di beberapa daerah sahur sudah menjadi rutinitas yang wajib di lakukan di kalangan kaum muda mudi. Berbagai cara untuk membangunkan sahur seperti menggunakkan ketukan kentongan, lantunan sholawat, berjalan mengelilingi kampung sambil menyayi bersama, dll. Dengan tujuan untuk membantu masyarakat yang masih belum bangun untuk melaksanakan sahur. Kegiatan sahur dilakukan sesuai dengan budaya di berbagai daerah. Tradisi tersebut sebagai berikut :

  1. Tradisi Ngarak Beduk
    Tradisi Ngarak Beduk biasanya dilakukan di Jakarta, terutama pada masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi menggunakan suara beduk yang dipukul dan diarak dengan menggunakan gerobak untuk membangunkan sahur. Selain menggunakan beduk, dapat menggunakan alat tradisional lain seperti genta, rebana, dan genjring yang dibunyikan untuk mengiringi lagu daerah Betawi. Bukan hanya menggunakan alat music tradisional, biasanya untuk lebih memeriahkan Masyarakat Betawi pun juga menggunakan ondel- ondel. Namun, saat ini tradisi tersebut sudah jarang ditemukan.
  2. Tradisi Ubrug-Ubrug
    Ubrug-Ubrug merupakan tradisi membangunkan sahur di daerah Karawang, Jawa Barat. Keunikan tradisi ini dikarenakan adanya sinden yang meramaikan para pemusik. Para sinden berkeliling kampung diiringi dengan berbagai alat musik tradisional maupun modern. Alat music yang digunakan seperti kendang, organ, gitar, gong, dan beberapa alat musik lainnya.
  1. Tradisi Dengo-Dengo
    Tradisi Dengo-Dengo adalah tradisi yang sudah dilakukan sejak abad ke-17. Tradisi ini dapat ditemukan di daerah Kota Bungku, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Dengo-Dengo merupakan bangunan yang didirikian non-permanen pada bulan suci Ramadhan. Bangunan ini terbuat dari batang bambu sebagai tiang penyangga, lantai dari papan kayu, dan beratapkan daun sagu. Didalam Dengo-Dengo biasanya diletakkan alat music seperti gong, gendang, rebana, yang dijaga oleh beberapa warga. Para pemuda biiasanya ditugaskan untuk menjaga dan membangunkan warga pada saat sahur.
  2. Tradisi Bagarakan Sahur
    Tradisi Bagarakan Sahur biasanya dilakukan di daerah Banjar, Kalimantan Selatan. Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak Islam masuk ke daerah tersebut. Peralatan yang digunakan untuk membangunkan sahur seperti panic, galon, dan terkadang radio. Meskipun menggunakan peralatan yang dapat dikatakan sederhana, namun dapat menghasilkan suara yang cukup keras.
  3. Tradisi Koprekan
    Tradisi Koprekan merupakan tradisi yang dilakukan di daerah Tegal. Menurut tokoh budaya Atmo Tan Sidik, tradisi kopekan adalah rekonstruksi nostalgia di masyarakat. Sekitar tahun 1986 tradisi ini menggunakan mercon maupun bedug untuk membangunkan sahur. Namun sekitar abad 21, tradisi Kopekan dilakukan dengan mnggunakan alat pukul seperti gentongan dan berbagai perabotan rumah tangga, seperti jeriken dan botol.

Namun, dibalik maknanya yang religius,kultural, kebersamaan muncul beberapa perdebatan di kalangan masyarakat ada yang menggangap sahur mengganggu kenyamanan dan ketertiban umum. Gamgguan ini dikarenakan beberapa masyarakat menggunakan alat musik tradisional maupun alat musik modern yang berlebihan. Hal ini menjadikan perdebapan apakah sahur merupakan tradisi atau justru sebuah gangguan bagi sebagian orang. Pada artikel ini akan membahas hal tersebut dalam dua sudut pandang.

Sahur sebagai Tradisi yang Bermakna

Bagi umat muslim, sahur bukan hanya sekedar makan dan minum sebelum menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Tetapi, sahur merupakan momentum spiritual yang penuh makna. Sahur menjadi momen untuk memperkuat niat berpuasa, menjaga pola makan, menjaga tubuh agar

tetap kuat dan sehat saat menjalankan ibadah puasa, serta mempererat keharmonisan keluarga karena pada saat ini keluarga sering berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. Selain mempererat keharmonisan keluarga, pelaksanaan sahur juga dapat menghidupkan semangat komunitas. Tradisi membangunkan sahur dapat memperkuat hubungan dengan memperkuat semangat komunitas dan meningkatkan kesadaran untuk menjalankan ibadah selama puasa dengan baik. Tradisi ini juga mengajarkan kedisiplinan dan kesabaran, disiplin untuk selalu bangun tepat waktu dan mempersiapkan sahur serta sabar dalam menunggu waktu berbuka. Dua hal tersebut nilai penting dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, sahur memiliki manfaat kesehatan apabila melakukan pola makan yang tepat. Konsumsi makanan yang sehat dan bergizi saat sahur dapat menjaga energi untuk berkegiatan selama puasa. Dengan demikian, sahur bukan hanya tradisi namun juga bagian dari gaya hidup sehat selama bulan suci Ramadhan.

Sahur sebagai Gangguan

Di sisi lain, bagi sebagian orang sahur dianggap sebagai gangguan. Gangguan ini biasanya disebabkan karena adanya ronda atau patrol sahur. Di daerah perkotaan maupun pedesaan, selama sahur selalu diadakan kegiatan ronda sahur. Akan tetapi, hal tersebut justru dianggap mengganggu karena kebisingan alat musik seperti terompet, bedug, maupun alat musik elektrik. Penggunaan volume yang terlalu keras dan dimainkan sebelum waktunya sahur, seperti pada pukul 00.00- 02.00 WIB dianggap mengganggu ketenangan saat tidur dan istirahat di malam hari. Gangguan tersebut bukan hanya dirasakan oleh orang muslim saja atau orang-orang yang menjalankan sahur, melainkan masyarakat yang bukan muslim atau tidak berpuasa.

Selain itu, sebagian orang juga mengganggap bahwa sahur merupakan gangguan, bukan hanya gangguan karena suara-suara saat melakukan patrol sahur atau ronda sahur, melainkan karena jam tidur. Pada saat bulan suci Ramadhan, banyak orang-orang yang terganggu akan jam tidur mereka. Sahur yang dilakukan pada dini hari membuat orang-orang malas bangun untuk sahur. Mereka lebih memilih untuk tertidur karena untuk menjaga jam tidur mereka.

Kesimpulan

Sahur sejatinya adalah tradisi yang akan penuh makna dan manfaat, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa bagi sebagian orang bisa menjadi gangguan. Untuk permasalahan ronda sahur mungkin dapat menggunakan alternatif dengan cara pemilihan waktu yang tepat. Alat musik tradisional seperti gamelan atau kendang sebaiknya dimainkan pada 30 menit awal sebelum subuh dengan suara yang lembut, agar menciptakan suasana yang damai. Kemudian, alat musik elektrik

bisa digunakan saat mendekati waktu sahur untuk memastikan semua orang terbangun tepat waktu. Selain itu pengaturan volume juga harus diperhatikan. Volume tidak boleh terlalu keras, baik pada alat musik tradisional maupun elektrik, agar tidak mengganggu ketenangan lingkungan. Dalam menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, penting untuk tetap menjaga kerukunan dan kedamaian di lingkungan masyarakat sekitar, dengan cara mempertimbangkan cara-cara yang efektif yang tidak mengganggu untuk membangunkan orang-orang untuk bangun sahur. Kunci utamanya adalah bagaimana kita menjalankan dan melakukan sahur dengan baik, sehingga tidak menghilangkan tradisi yang sudah melekat tanpa mengorbankan ketenangan dan kenyamanan orang lain.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top