Simbol Perlawanan Budaya: Eksplorasi Spiritual dan Edukatif Candi Singasari

Sejarah Candi Singasari         

Di tengah gemuruh perkembangan kota Malang yang semakin modern, berdiri tegak Candi Singasari sebagai pengingat bisu akan kejayaan Kerajaan Singasari pada abad ke-13. Situs bersejarah ini bukan hanya sekadar tumpukan batu kuno, melainkan simbol perlawanan budaya terhadap arus globalisasi. Candi Singasari terletak di Desa Candi Renggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Candi Singosari pertama kali ditemukan oleh seorang belanda yang menjabat sebagai Gubernur Pantai Timur Laut Jawa bernama Nicholas Engelhard pada tahun 1803 yang selanjutnya direnovasi oleh seorang belanda pada tahun 1934-1937. Candi Singasari di bangun pada tahun 1268-1292 M pada masa kejayaan Raja Singasari yang kelima (terakhir)  bernama Kartanegara. Candi Singasari di buat oleh orang tua Kertanegara bersama menantunya yaitu Raden Wijaya dan Patih Gajahmada sebagai pengawasnya. Candi Singasari berjumlah 7 candi secara keseluruhan, yaitu candi utama yang dikelilingi oleh 6 perwara berbentuk kecil sebagai tempat arca. Candi singasari terbuat dari batu andesit dengan luas bangunan candi yaitu 14×14 m dengan tinggi candi sekitar 17 m. Candi Singosari dikenal memiliki latar belakang keagamaan Siwa-Buddha, yang terlihat dari struktur dan simbol-simbol di dalamnya. Relief candi singasari berjumlah delapan yang dinamakan relief candi singosari mukakala atau kirtimuka. Terdapat dua perbedaan pada relief Candi Singasari yaitu pada bagian atas sudah terukir dan bagian bawah belum. Hal ini  dikarenakan terdapat corak dua agama yaitu Buddha pada bagian atas dan hindu pada bagian bawah. Fungsi relief candi ini yaitu untuk menolak bala dan gangguan pada waktu zaman Kerajaan Singasari. 

Candi singasari terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:

Batur candi / Teras candi, Yang dinamakan batur candi yaitu bagian paling bawah dari candi singasari. Batur berfungsi sebagai fondasi awal untuk menyangga kaki dan badan candi. Sedangkan bagian teras candi ini berfungsi sebagai tempat berjalan di depan ruangan.

Kaki Candi, Kaki candi terletak di atas batur candi. Bagian ini berfungsi sebagai penopang struktur tubuh candi dari teras candi sampai mukakala. Pada bagian ini mengandung makna filosofis disebut sebagai bhurloka yang melambangkan kehidupan di alam bawah atau awal dari kehidupan.

Badan Candi, Badan candi merupakan bagian utama candi yang berfungsi sebagai tempat suci. Pada bagian ini terdapat mukakala atas dan bawah. Bagian antara mukakala bawah sampai mukakala atas disebut bwahloka yang memiliki makna filosofis sebagai hidup di bawah langit diatas bumi yang bermakna proses atau perjalanan kehidupan. 

Puncak candi, Puncak candi merupakan bagian paling atas dari bangunan candi yang melambangkan swargaloka atau hidup dikayangan yang bermakna masa kejayaan hidup .  

Candi singosari berjumlah 6 ruangan atau relung sebagai berikut : 

Ruang pertama yang dinamakan garbagraha, Yaitu tempat upacara keagamaan agama hindu dan budha tantrayana dan tempat pendarmaan abu jenazah raja kartanegara, di ruangan itu terdapat Yoni dan Lingga . Yoni dan Lingga merupakan lambang siwadewa atau lambang kesuburan.

Ruang sebelah kanan ruang pertama. Ruangan ini merupakan tempat arca Mahakala. Yang arca nya sempat di bawa ke belanda

Ruang yang menghadap ke utara, Ruangan ini merupakan tempat arca Dewi Durga Mahesasuramardhini yang saat ini arcanya di bawa ke Belanda.

Ruang yang menghadap ke timur, Ruangan ini merupakan tempat arca Ganesha yang saat ini arcanya juga dibawa ke Belanda.

Ruang yang menghadap ke Selatan, Ruangan ini merupakan tempat arca Siwamahaguru atau Resi Agastia istilahnya penyebar agama hindunya turunan dari orang hindia

Ruang sebelah kiri ruang pertama, Ruangan ini merupakan tempat arca Nandisuwara, yang dulu arca sempat di bawa ke Belanda.                 

Kondisi dan Keadaan Candi Singasari Saat Ini  

Pada musim penghujan seperti saat ini, Malang memiliki curah hujan dengan kapasitas yang cukup besar, hal ini tentu membuat Candi Singasari  hampir setiap hari di guyur hujan secara terus-menerus yang membuat situs Candi Singasari jarang dikunjungi oleh para wisatawan. Selain itu, keadaan cuaca yang tidak mendukung ini sering kali menjadikan permukaan pada bagian luar  candi ditumbuhi oleh lumut yang dapat merusak morfologi Candi Singasari sendiri. Dengan demikian, proses perawatan Candi Singasari dapat dilakukan secara massif. Perawatan dilakukan dengan menggunakan cairan kimia yang dilakukan satu bulan sekali. Tujuan penggunaan cairan kimia ini untuk menghilangkan lumut liar yang tumbuh diatas permukaan candi. 

Eksistensi Candi Singasari 

Sebagai Pariwisata, Di tengah banyaknya tempat wisata baru khususnya di Kota Malang Candi Singosari masih bisa menjadi salah satu referensi destinasi wisata sejarah di Malang yang  harus dikunjungi. Meskipun fasilitasnya masih sederhana, candi ini tetap menarik bagi wisatawan yang ingin melihat dan mengenal lebih dalam tentang corak budaya peninggalan Kerajaan Singasari atau hanya sekadar bersantai ria. 

Sebagai tempat ibadah / Spiritualitas, Saat ini Candi Singasari memiliki beberapa fungsi keagamaan, antara lain untuk tempat pemujaan keagamaan seperti upacara Hindu dan Buddha. Selain itu perayaan hari Nyepi juga berlangsung di Candi Singasari ini yang dihadiri kurang lebih 150 keluarga untuk doa Bersama dan pemujaan.

Sebagai media edukasi, Candi singosari sangat penting sebagai media edukasi tentang Sejarah , budaya, dan nilai-nilai kehidupan masa lalu. Melalui candi ini, generasi muda dapat memahami perkembangan Kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Timur serta secara tidak langsung dapat menghargai warisan leluhur. Meski  fasilitas edukasinya masih terbatas, potensinya Candi Singasari sebagai media edukasi sangat besar untuk dikembangkan seperti halnya beberapa mahasiswa sering terlihat melakukan observasi dan wawancara terhadap juru kunci di candi Singasari ini. 

Ke depannya, Candi Singasari memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata budaya yang lebih atraktif dan berkelanjutan, terutama dengan meningkatkan fasilitas seperti area parkir yang lebih luas, papan informasi interaktif, dan jalur pejalan kaki yang aman untuk mengatasi keterbatasan saat ini. Perawatan rutin dengan cairan kimia perlu diperkuat, mungkin dengan teknologi modern seperti pelapisan anti-lumut atau pemantauan digital untuk melindungi morfologinya dari kerusakan cuaca. Selain itu, promosi sebagai pusat edukasi bisa diperluas melalui kerja sama dengan sekolah dan universitas untuk program wisata edukasi, serta acara budaya seperti festival Hindu-Buddha yang lebih sering, agar generasi muda lebih menghargai warisan leluhur. Dengan dukungan pemerintah dan swasta, candi ini bisa menjadi ikon pariwisata Malang yang seimbang antara pelestarian sejarah dan kemajuan modern, menarik lebih banyak wisatawan tanpa kehilangan nilai spiritualnya.

Bagas Indra , Berlian Asta , Bryan Grasio , Daffa Zufari , Delfika Putri

Universitas Brawijaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top