Pendahuluan
Masjid Agung Demak bukanlah hanya sekedar masjid biasa, tetapi masjid ini menyimpan banyak makna dan cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar tempat ibadah dan juga menjadi saksi bisu sebuah transformasi besar. Masjid ini berdiri di tengah tengah tengah masa peralihan besar, saat pengaruh runtuhnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-16, Kesultanan Demak mulai mengambil alih perannya. Menariknya juga penyebaran islam pada waktu itu tidak datang dengan cara memaksa ataupun menghilangkan tradisi lama. Para Penguasa Demak sepertinya menyadari bahwa cara yang paling efektif agar diterima masyarakat adalah berbicara dalam bahasa budaya yang sudah mereka kenal, yaitu tradisi jawa aitu sendiri.
Esai ini ingin menunjukkan bahwasannya arsitektur Masjid Agung Demak ini bukan membicarakan tentang sekadar soal selera seni, namun juga menjadi bukti dari strategi kebudayaan yang terencana. Dengan mempertahankan bentuk-bentuk lokal seperti atap tumpang, soko guru, dan ornamen ukiran.Sehingga berhasil membuat Islam tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang asing di mata masyarakat jawa, melainkan bagian dari identitas masyarakat Jawa.
Analisis
- Atap Tumpang dan Soko Guru.
Hal pertama yang langsung menarik perhatian dari setiap orang yang melihat dari Masjid Agung Demak adalah bentuk atapnya yang bersusun tiga, mirip sekali dengan atap meru pada bangunan Hindu-Buddha, bukan kubah seperti masjid-masjid di Timur Tengah. Ini bukan kekeliruan, tapi pilihan yang disengaja. Dalam kepercayaan Jawa lama, bentuk bertingkat melambangkan seperti alam semesta dan kedekatan dengan yang maha kuasa. Ketika bentuk yang sama dipakai di masjid, pesannya seolah berkata: ini masih duniamu, hanya maknanya kini diisi dengan ajaran Islam. Lombard (2005) menyebutkan bahwa budaya Jawa memang punya kemampuan yang khas untuk menyerap unsur luar tanpa kehilangan jati dirinya.
Begitu juga dengan soko guru, yakni empat tiang besar kayu jati penyangga bangunan utama. Selain mencerminkan kearifan teknik lokal yang sudah turun-temurun, tiang-tiang itu secara simbolis mewakili penyangga keseimbangan dunia dalam tradisi Jawa. Islamisasi di Jawa berjalan bertahap, beriringan dengan budaya yang sudah ada, bukan menggantikannya secara paksa (Ricklefs, 2008). Menariknya, angka empat soko guru ini tidak hanya bermakna dalam tradisi Jawa, namun juga selaras dengan nilai Islam. Dan Para Wali Songo sengaja memanfaatkan simbol empat penjuru mata angin yang sudah akrab di masyarakat Jawa untuk memperkenalkan konsep empat sahabat utama Nabi Muhammad sebagai pilar ajaran Islam (Ulfa, 2024). - Ornamen, Pintu Bledeg, dan Catatan De Graaf
Kalau diperhatikan lebih dekat, ornamen-ornamen di masjid ini penuh dengan motif sulur dan flora khas seni Majapahit. Tetapi gambar makhluk hidup yang biasa ada di seni Hindu-Buddha sudah tidak ada, diganti pola geometris dan kaligrafi. Proses seleksi ini sangat disengaja. Pintu Bledeg menjadi contoh paling menarik, motif petir dari tradisi lokal berdampingan dengan tulisan Arab dalam satu karya. Tjandrasasmita (2009) mencatat bahwa masjid-masjid tua di Jawa memang lahir dari perpaduan dua dunia berbeda yang bisa hidup secara berdampigan.
De Graaf dan Pigeaud juga menyimpulkan bahwa kerajaan-kerajaan Islam pertama di Jawa tidak akan bertahan lama jika memilih konfrontasi dengan tradisi lokal. Yang berhasil justru mereka yang tahu cara memasukkan Islam ke dalam bingkai budaya yang sudah ada. Dengan demikian Demak adalah contoh paling berhasil, dan Masjid Agung adalah bukti fisiknya.
Kesimpulan
Masjid Agung Demak mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu harus datang dengan kegaduhan maupun pemaksaan. Di abad ke-16 hingga ke-17, Islam telah berhasil masuk ke jantung budaya Jawa bukan karena paksaan, tapi karena kepintaran membaca situasi. Atap tumpang, soko guru, ornamen, semuanya bicara dalam bahasa Jawa tapi membawa pesan Islam. Seperti yang disimpulkan De Graaf dan Pigeaud, inilah kunci sukses kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Masjid ini bukan cuma tempat salat, tapi bukti bahwa budaya dan agama bisa berjalan berdampingan tanpa harus saling menghancurkan.
Daftar Pustaka
Lombard, Denys (2005) — Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid II https://books.google.co.id/books?hl=id&id=giGyf60gSRUC
Ricklefts, M.C. (2008) — Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 https://archive.org/details/m.-c.-ricklefs-sejarah-indonesia-modern-1200-2004
Tjandrasasmita, Uka (2009) — Arkeologi Islam Nusantara https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=1024775
De Graaf, H.J. & Pigeaud (1974) — De Eerste Moslimse Vorstendómmen op Java https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=570130
Oleh : Fathiyatul Kiramah (Universitas Negeri Malang)




