Suara di Balik Teror

Karikatur ini menggambarkan kekhawatiran mendalam terhadap kebebasan pers di Indonesia, khususnya ancaman yang diterima wartawan ketika mengungkap kebenaran tentang kasus-kasus seperti korupsi, suap, dan penyalahgunaan kekuasaan lainnya. Karikatur ini berusaha membawa kasus yang terjadi pada Sabtu, 27 Maret 2021 yang dialami oleh jurnalis Tempo bernama Nurhadi, saat sedang melakukan kerja jurnalistik untuk mewawancarai Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Angin Prayitno Aji. Situasi dari kasus tersebut digambarkan pada bagian kiri, dimulai dari bagian bawah terlihat seorang wartawan yang diikat pada kursi, dengan mulutnya ditutupi kain, tubuhnya diikat dengan tali, kepalanya mendongak dan ekspresi wajahnya yang tegas. Hal ini merepresentasikan tindakan penyekapan dan penganiayaan yang dialami jurnalis Nurhadi, akan tetapi Nurhadi tetap teguh pendirian menolak tunduk pada ancaman dan menolak tawaran uang tutup mulut yang diberikan. Di atas gambar wartawan itu terdapat 2 orang polisi yang merepresentasikan pelaku penyekapan dan penganiayaan Nurhadi pada saat itu. Kemudian di bagian paling atas terdapat gambar uang mengenakan jas layaknya seorang pejabat, dimana hal ini mengartikan pejabat-pejabat yang dibutakan oleh uang sehingga melakukan tindak korupsi, suap, dan penyalahgunaan kekuasaan yang pada kasus ini merujuk pada Angin Prayitno Aji, tersangka kasus korupsi dan suap pajak.

Sedangkan pada bagian kanan gambar, diisi dengan visual yang menggambarkan sekelompok masyarakat yang dibungkam dengan kain yang menutupi mulutnya. Namun tetap berupaya menyampaikan suaranya melalui spanduk yang bertuliskan “Tirai tidak boleh selamanya tertutup” yang membawakan arti bahwa segala bentuk tindak kejahatan yang disembunyikan dibalik “tirai” harus diungkapkan. Kehadiran kelompok masyarakat ini juga menunjukkan bahwa pembungkaman pers bukan hanya serangan terhadap profesi jurnalistik, tetapi juga pengkhianatan terhadap hak masyarakat luas yang memang seharusnya memperoleh informasi yang benar. Di sisi kanan bawah, terdapat seorang wartawan yang sedang mengetik liputan di laptopnya, memvisualkan para jurnalis yang tetap menjalankan pekerjaannya meski berada di tengah ancaman. Di sekelilingnya terdapat simbol teror, seperti tikus dan kepala babi. Hal ini diambil dari kasus teror yang sudah pernah terjadi di Indonesia. Bagian tengah karikatur menampilkan tulisan besar “TEMPO”. Tulisan ini mewakilkan salah satu media besar di Indonesia. Karena Tempo pernah menjadi target teror karena sikap kritis mereka terhadap penyalahgunaan kekuasaan. Tulisan “TEMPO” yang dibuat tegas dan terlihat kokoh merepresentasikan perjuangan media untuk terus berdiri meski berkali-kali diserang dan ditekan.

Secara keseluruhan, karikatur ini menunjukkan gambaran tentang ancaman terhadap kebebasan pers di Indonesia. Karikatur ini menjadi pengingat bahwa ketika pers dibungkam, bukan hanya jurnalis yang tersakiti, tetapi juga kebenaran yang ikut terkubur.
Karikatur ini adalah seruan agar aparat penegak hukum, lembaga negara, dan masyarakat bersama-sama menjaga kebebasan pers. Sebab, tanpa pers yang bebas, tidak ada demokrasi yang benar-benar hidup.

Aurellia Marchanda Putri Viar, Khoiriyatul Balqis, Najla Ina Solihin, Padly Fadilah Effraim, Salsabila Afra Zakiyyah

Universitas Brawijaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top