Pendahuluan
Pada abad ke-16 merupakan periode penting dalam sejarah Nusantara, terutama di kawasan Maluku yang dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia. Kedatangan bangsa Eropa, khususnya Portugis, membawa perubahan besar dalam dinamika politik dan ekonomi lokal. Di tengah situasi tersebut, muncul seorang tokoh penting dari Kesultanan Ternate, yaitu Sultan Baabullah. Sultan Babullah lahir di Ternate pada tanggal 10 Februari 1528 dengan nama lengkap Babullah Datu Syah. Putra sulung dari Sultan Khairun dan istri Sultan Khairun bernama Boki Tanjung, putri sulung Sultan Khairun bernama Sultan Bakan Aladdin I. Ia dikenal sebagai pemimpin yang berhasil mengusir Portugis dari Ternate dan memperluas pengaruh politiknya di wilayah timur Nusantara. Kepemimpinannya menjadikan Ternate sebagai kekuatan maritim yang disegani. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam sejarah Ternate. Di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah (1570–1583), Ternate melakukan perlawanan besar terhadap Portugal hingga berhasil mengusir mereka pada tahun 1575. Keberhasilan ini tidak hanya mengakhiri dominasi Portugal di Ternate, tetapi juga menandai kebangkitan hegemoni politik dan ekonomi Ternate di Maluku. Topik ini penting karena menunjukkan bahwa kekuatan lokal Nusantara memiliki kapasitas politik dan militer yang signifikan dalam menghadapi ekspansi kolonial Eropa. Kepemimpinan Sultan Baabullah menjadi contoh bagaimana strategi, konsolidasi internal, dan pemanfaatan momentum politik mampu mengubah peta kekuasaan regional pada abad ke-16.
Kedatangan Portugis dan Awal Konflik
Maluku merupakan daerah penghasil rempah-rempah, seperti pala, kayu manis dan cengkeh. Ternate adalah salah satu pulau penghasil cengkeh yang memiliki kualitas yang cukup baik,Hal ini yang menyebabkan Maluku terutama Ternate terlibat dalam percaturan dan pergaulan dunia perdagangan antar bangsa-bangsa Asia dan Eropa.Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang berhasil memasuki wilayah Nusantara pada awal abad ke-16. Pada tahun 1512, ekspedisi Portugis yang dipimpin Antonio de Abreu berhasil mencapai Kepulauan Maluku dan diterima baik oleh Sultan Ternate. Keduanya kemudian menjalin kerja sama politik Portugis membantu Ternate melawan Kesultanan Tidore, sedangkan Portugis memperoleh hak monopoli perdagangan rempah dan izin membangun benteng.setelah menguasai Malaka.Namun, hubungan ini memburuk akibat campur tangan Portugis dalam politik internal kesultanan dan upaya monopoli perdagangan cengkeh. Ketegangan mencapai puncaknya ketika Sultan Khairun, ayah Baabullah, dibunuh oleh Portugis pada tahun 1570 di dalam benteng tersebut. Peristiwa ini memicu kemarahan rakyat Ternate dan menjadi titik balik perlawanan terbuka terhadap Portugis.
Perjuangan Sultan Baabullah
Sultan Baabullah naik tahta pada 28 Februari 1570 setelah ayahnya, Sultan Khairun, dibunuh oleh Portugis. Setelah menjadi sultan, ia bertekad membalas kematian ayahnya dan mengusir Portugis dari Maluku. Baabullah kemudian menyusun berbagai strategi perang, seperti pengepungan Benteng Gamlamo dan menggunakan strategi perang soya-soya dengan dukungan pasukan besar dari berbagai wilayah.Melalui perjuangan tersebut, pada tahun 1575 Baabullah berhasil mengusir Portugis dari Maluku. Setelah kemenangan itu, ia memperkuat kekuasaan Kesultanan Ternate, memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah, menjalin hubungan dengan kerajaan lain, serta menjadikan Ternate sebagai pusat perdagangan rempah-rempah.
Dampak Pemerintahan dan Signifikansi Sejarah
Masa pemerintahan Sultan Baabullah (1570–1583) dianggap sebagai puncak kejayaan Kesultanan Ternate.Di mana wilayah Kesultanan Ternate, memiliki nilai yang tinggi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan yang mencerminkan hubungan antara sultan dan rakyat, di mana kesejahteraan dan kebahagiaan merupakan tanggung jawab bersama. Nilai ini menekankan bahwa pemerintahan yang baik harus mengutamakan kesejahteraan rakyat, menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi, serta tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Pemerintah juga berkewajiban menjamin keamanan dan kehidupan masyarakat yang tertib serta terpenuhi kebutuhannya.
Kesimpulan
Sultan Baabullah merupakan tokoh sentral dalam sejarah Maluku abad ke-16. Kepemimpinannya yang tegas, strategi militernya yang terencana, serta kemampuannya membangun aliansi politik berhasil mengakhiri dominasi Portugis di Ternate pada tahun 1575. Pemerintahannya membawa Ternate pada masa kejayaan dan menegaskan posisi Maluku sebagai wilayah penting dalam percaturan politik dan ekonomi global. Warisan perjuangannya menjadi bagian penting dalam narasi sejarah perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia.
Daftar Pustaka
Ahmad, R., & Radjilun, M. S. (2021). BIOGRAFI SULTAN BAABULLAH DATU SYAH (Studi; Tentang Pewarisan Nilai-Nilai Karakter Sebagai Sumber Belajar Sejarah Di SMA Dalam Kurikulum 2013). Sandhyakala: Jurnal Pendidikan Sejarah, Sosial dan Budaya, 2(1), 1-14.
Haryati, N. S. M. E. S. (2023). Efektivitas petugas unit aviation security (avsec) terhadap keamanan di bandar udara sultan babullah ternate.
AMIRULLOH, K. A. A. A. (2013). Hegemoni: Persaingan Hegemoni Cengkeh Di Ternate Sekitar Abad 16 Dan 17. Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah, 1(1), 23-29.
Rosmaida, R. S., Aulia, A. A. R. A., Andrew, A. C. P. A., Jepri, J. S., & Putri, P. G. N. P. (2025). Persaingan Portugis dan Spanyol dalam Penjelajahan Rempah di Nusantara. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(04), 222-230.
Haris, D. (2023). Nilai Kearifan Lokal Ternate dan Perwujudan Pemerintahan Baik. JURNAL SAINS SOSIAL DAN HUMANIORA (JSSH), 3(1), 18-21.
Oleh : Eftin Pramudeka Saputri (Universitas Negeri Malang)




