Ratu Kalinyamat (Retna Kencana) adalah penguasa laut utara Jawa abad ke-16 yang mengubah duka menjadi strategi politik yang jenius. Pasca gugurnya sang suami akibat kekejaman Arya Penangsang pada 1549, beliau melakukan aksi perlawanan simbolik melalui Sumpah Tapa Wuda yaitu sumpah untuk menanggalkan segala kemewahan dan rambut yang menggantung, serta bersumpah tidak akan mengakhiri masa pertapaannya sebelum keadilan tegak. Selama rentang waktu 1549 hingga 1554, keputusan beliau untuk menanggalkan kemewahan bukanlah sekadar ungkapan patah hati, melainkan pernyataan politik kuat untuk mendelegitimasi kekuasaan lawan secara perlahan. Langkah ini terbukti menjadi senjata tanpa wujud yang efektif mengguncang stabilitas posisi Arya Penangsang hingga keadilan akhirnya tegak pada tahun 1554.
Peristiwa Pembunuhan Sultan Hadlirin dan Awal Mula Tapa Wuda 1549
Gugurnya Sultan Trenggana di Panarukan pada 1546 menjadi hulu dari prahara berdarah di Kesultanan Demak. Takhta yang jatuh ke tangan putranya, Sunan Prawata, justru menjadi kursi panas yang mengundang petaka. Di balik bayang-bayang kekuasaan, Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan, bergerak membawa dendam kesumat atas kematian ayahnya, Pangeran Sedo Lepen. Tanpa ampun, ia menghabisi Sunan Prawata sebagai pembuka jalan menuju singgasana. Nafsu kekuasaan Penangsang tak berhenti di situ, ia mengincar Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) sebagai target berikutnya. Meski rencana terhadap Hadiwijaya gagal, kekejaman Penangsang tetap memakan korban jiwa, yakni Pangeran Hadiri, suami dari Ratu Kalinyamat, yang tewas mengenaskan setelah berkunjung ke Sunan Kudus.
Duka yang bertubi-tubi, kehilangan saudara sekaligus suami mendorong Ratu Kalinyamat mengambil jalan perlawanan spiritual yang ekstrem. Beliau memutuskan untuk melakukan laku tapa di Bukit Danaraja, sebuah pengasingan sunyi di wilayah Keling yang kini dikenal sebagai Sonder Tulakan. Sumpah sang Ratu begitu menggetarkan ia menanggalkan segala kemewahan dan membiarkan rambutnya terurai tanpa disanggul dan tak akan menyudahi pertapaannya sebelum nyawa Arya Penangsang melayang. Kisah ini abadi dalam memori masyarakat Jepara sebagai tapa wuda sinjang rambut, sebuah laku pengorbanan yang hingga kini memicu beragam tafsir spiritual dan sosial. Dari kalangan politisi hingga pemuka thariqat, semua memandang tindakan sang Ratu bukan sekadar bentuk duka, melainkan simbol keteguhan hati dalam menuntut keadilan yang melampaui logika zaman.
Sumpah Kehormatan Sebagai Bentuk Perlawanan Selama 1549–1554
Demi menuntut keadilan yang absolut Ratu Kalinyamat melakukan langkah berani dengan turun takhta untuk menyepi di Gunung Danaraja. Keputusan dramatis ini diabadikan dalam tembang Pangkur yang sangat ikonik yaitu “Nimas Ratu Kalinyamat tilar pura, mratapa aneng wukir, tapa wuda sinjang rambut, aneng wukir Donorojo, aprasapa nora tapih-tapihan ingsun, yen tan antuk adiling Hyang, patine sedulur mami.” Lewat aksi tapa wuda sinjang rambut beliau menanggalkan seluruh kemewahan duniawi sebagai bentuk protes simbolis yang sangat vokal sampai dendam atas kematian suami dan saudaranya tuntas terbayar. Namun di balik laku spiritualnya Sang Ratu sebenarnya sedang menjalankan orkestrasi politik tingkat tinggi. Saat Sultan Pajang sempat bimbang menghadapi kesaktian Arya Penangsang Ratu Kalinyamat langsung menyodorkan tawaran yang mustahil diabaikan berupa seluruh wilayah Kalinyamat dan Prawata hingga aset pribadinya asal musuhnya tumbang. Beliau bahkan menyetujui strategi cerdik Kyai Pamanahan yang melibatkan dua dayang cantik sebagai pemantik semangat Sultan. Pengorbanan total ini membuktikan bahwa ia adalah seorang strategi yang visioner karena dalam kurun 1549 sampai 1554 beliau sukses mengubah duka pribadi menjadi kepentingan politik nasional yang memaksa kubu Pajang bergerak habis-habisan demi janji kekuasaan yang sudah di depan mata.
Pemenuhan Sumpah dan Berakhirnya Masa Tapa di Tahun 1554
Tahun 1554 menjadi babak final dari skenario perlawanan Ratu Kalinyamat yang penuh intrik dan sindiran tajam. Sang Ratu menebar sayembara maut dengan tawaran yang mustahil ditolak siapa pun yang haus kekuasaan termasuk Sultan Pajang yang telah mengamankan janji atas wilayah Kalinyamat dan Prawata. Sebagai langkah pamungkas Sultan melempar tantangan terbuka kepada para punggawanya bahwa siapa pun yang sanggup melenyapkan Arya Penangsang akan dihadiahi tanah Mataram dan Pati. Meskipun atmosfer ketakutan sempat menyelimuti barisan Bupati dan Mantri karena kesaktian melegenda Arya Penangsang muncul sosok Kyai Pamanahan dan Kyai Panjawi yang berani mengambil risiko berkat strategi cerdik Kyai Jurumartani. Di sinilah daya pikat politik Ratu Kalinyamat terbukti nyata karena janji wilayahnya sanggup menggerakkan tokoh kunci Jawa untuk maju bertaruh nyawa demi ambisi menguasai Mataram dan Pati. Puncak eksekusi rencana ini dilakukan secara provokatif dengan menyerang ego pribadi Arya Penangsang melalui seorang pelayan pemotong rumput yang telinganya dipotong untuk dititipkan surat tantangan. Hal ini berhasil memicu amarah besar Arya Penangsang hingga ia keluar dari zona aman tanpa membawa tentara yang akhirnya berujung pada kematiannya dalam duel maut. Keberhasilan taktik ini otomatis menunaikan janji politik Ratu Kalinyamat sekaligus menandai berakhirnya masa Tapa Wuda dan dimulainya era kekuasaan baru melalui kejayaan Pajang serta munculnya Mataram.
Sumpah Tapa Wuda (1549–1554) menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik, tetapi juga pada strategi dan kebijakan politik yang sangat tepat dan cermat. Pemimpin rakyat yang cerdik bisa mengubah penderitaan menjadi tekanan moral, sekaligus memberikan hadiah berupa wilayah yang sukses mendorong ksatria sekaliber Pamanahan dan Panjawi untuk menumbangkan dominasi Arya Penangsang. Sudah waktunya sejarah berhenti menyebutnya hanya sebagai sosok misterius yang sedih, karena kenyataannya ia adalah seorang pencetus strategi visioner yang sangat paham bagaimana menggabungkan simbol-simbol dengan kekuatan militer. Ini adalah bukti nyata bahwa kecerdasan perempuan mampu mengubah secara total peta kekuasaan di tanah Jawa melalui cara yang elegan namun tetap mematikan.
Dafrar Rujukan
Mustolehudin, R. (2019). SPIRITUALISME RATU KALINYAMAT: MENELUSURI KEARIFAN LOKAL TRADISI BARATAN DI DESA KRIYAN KALINYAMATAN JEPARA. Al-Qalam, 25(1), 147. https://doi.org/10.31969/alq.v25i1.727
Rejeki, S. K. (2019). PERANAN RATU KALINYAMAT DALAM PERKEMBANGAN KOTA JEPARA (1549-1579). 11(2).
Remmelink, W. G. J. (2022). Babad Tanah Jawi, The Chronicle of Java: The Revised Prose Version of C.F. Winter Sr. Leiden University Press.
Said, N. (2013). SPIRITUALISME RATU KALINYAMAT: Kontroversi Tapa Wuda Sinjang Rambut Kanjeng Ratu di Jepara Jawa Tengah. El-HARAKAH (TERAKREDITASI), 15(2), 105. https://doi.org/10.18860/el.v15i2.2761
Sofiana, A. (2017). RATU KALINYAMAT PENGUASA WANITA JEPARA TAHUN 1549-1579. 5(3).
Oleh : Azzalea Nova Eby Keisa Nur Inmala (Universitas Negeri Malang)




